murniramli

Belajar di kebun buah

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Oktober 16, 2008 at 11:37 am

Kemarin di mail box saya temukan koran kota Nagoya yang biasanya langsung saya buang karena informasinya melulu iklan. Tapi kali ini saya iseng melihat halaman belakang yang kadang-kadang isinya tentang kreasi baru orang Nagoya. Halaman belakang penuh dengan foto-foto anak-anak yang sedang memegang buah.

Ya, tertulis adanya program kunjungan ke kebun buah, semacam agro wisata di Malang. Tapi ini dalam skala kecil. Produk yang ditawarkan adalah berkunjung ke kebun melon, ke kebun jeruk, ke kebun ubi jalar, ke kebun apel, dan ke kebun kiwi. Kunjungan dibuka untuk anak-anak hingga orang dewasa dengan harga bervariasi dari 600 yen hingga 2500 yen.

Saat menjalani Teacher Training 3 tahun yang lalu, saya sempat mengikuti acara memetik strowberry di sebuah perkebunan di daerah Aichi. Pemilik menyiapkan segelas kecil susu untuk dapat dinikmati dengan strowberry. Sayangnya strowberry yang dipetik hanya boleh dimakan di tempat dan tidak boleh dibawa pulang.

Program ‘menjual/membisniskan’ kebun merupakan prospek yang cukup menarik untuk dikembangkan apalagi jika pemerintah, khususnya pemda memasyarakatkan pertanian hingga ke TK dan sekolah-sekolah. Dengan menyediakan lahan khusus untuk dimanfaatkan sebagai tempat praktek/tempat kunjungan sekaligus dapat mengantisipasi ketidaklakuan produksi di pasar. Asalkan dalam mengemas acara berkunjung tidak sekedar uang yang dicari, tetapi keikhlasan untuk berbagi ilmu adalah yang harus dinomorsatukan. Karena inilah yang akan membuat segala sesuatunya menjadi ringan.

Hal lain yang perlu diperhatikan apabila acara berkunjung melibatkan siswa sekolah adalah keamanan para siswa, terutama yang masih TK. Hal-hal seperti terpeleset, terjatuh, terinjak benda runcing mungkin hal biasa, tetapi jika anak-anak seusia itu diajari tata cara bertani yang aman, tidak membahayakan, maka mereka akan belajar tentang bagaimana mencegah sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Oleh karena itu, hendaklah dibuat peraturan tentang pakaian yang aman, topi pelindung, dan lain sebagainya yang dianggap perlu.

Pembelajaran dengan mengamati proses menghasilkan sebuah komoditi akan menimbulkan aspek yang berbeda dari segi perkembangan kejiwaan dan pemahaman anak. Saya, barangkali agak terlambat karena baru menyadari panjangnya proses yang harus dilalui petani untuk menghasilkan beras, setelah kuliah di IPB. Tetapi pengetahuan itu mengajarkan saya tentang sebuah penghargaan yang selayaknya diberikan kepada petani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: