murniramli

Tatemae dan Honne, bukan tabiat orang Jepang saja

In Serba-Serbi Jepang on Oktober 25, 2008 at 12:25 pm

Dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial, manusia harus pandai-pandai memainkan anggota tubuhnya, termasuk memainkan karakternya 😀

Sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Albar bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, dan kita adalah pemainnya, maka begitulah kita memainkan diri kita dalam membangun hubungan dengan sesama.

Sewaktu saya mengikuti kelas Bahasa Jepang di Nagoya University, 3-4 tahun yang lalu, guru Bahasa Jepang saya menyebutkan istilah “tatemae” (建前)dan “honne” (本音)sebagai karakter kebanyakan orang Jepang. Mendengarkan penjelasan sensei tentang kedua kata itu, saya justru membayangkan cerita tentang orang Solo yang terinjak kakinya oleh seseorang di dalam bis. Karena halusnya perangai orang Solo (saya juga Solo….Solowesi 😀  ) maka dia tak sanggup protes walaupun terasa sakit (ini sih…cerita kebangeten). Tapi begitulah, saya merasa orang Jepang yang saya temui adalah orang Solo.

Tatemae dan honne menurut definisi dalam bahasa bulenya :

Tatemae (sometimes translated as Front) is a face that japanese shows in public. They may have a specific role due to their social status or position in the specific group (such as corporation or company). They behave as they are expected to behave in the specific situation, regardless of their personal opinions about the matter. Core of tatemae is politeness to avoid confrontation. To the westerner, this may sound dishonest.

Honne (can be translated as True Sound) refers to real feelings and opinions. It is not something one is encouraged to show in public, especially during business dealings. It is something a Japanese shows only to his closest friends (or sometimes when very drunk).

Ketika menilai makanan yang dimakannya, orang Jepang selalu mengatakan : “oishiii !” atau “umai !” (enak), padahal belum tentu rasanya memang enak. Tetapi tabiat seperti ini bukankah juga menjadi kebiasaan sebagian orang Indonesia atau orang Timur ? Saat disuguhi makanan adalah tidak sopan ketika secara langsung kita mengatakan : “makanan ini blasss… ga enak!!!”  Setiap mengajar Bahasa Indonesia, saya selalu memperkenalkan kepada murid, tata cara merespon/menilai sesuatu dari tingkat yang paling sopan hingga yang tidak sopan. Misalnya :

Enak sekali/Sangat Enak/Enak banget
Enak
Lumayan Enak
Cukup Enak
Agak Enak
Kurang Enak
Tidak Enak

Mengatakan “kurang enak” dan “tidak enak”, nuansanya berbeda sekali. Demikian pula mengatakan “cukup enak” dan “agak enak”.

Jadi penilaian “positif” orang Jepang terhadap segala sesuatu, adalah sama dengan sikap masyarakat Timur, untuk menjaga perasaan lawan bicara. Orang Jawa terutama bagian tengah paling ahli untuk ber-tatemae, sedangkan orang Batak, Padang, Makassar (Indonesia Timur) paling tidak ahli ber-tatemae 😀

Namun karena seringnya memuji ala tatemae maka sebagai orang asing kita perlu berhati-hati juga. Tatkala dipuji : “wah, Bahasa Jepangnya bagus sekali” (= o jousu desu ne atau nihon go, subarashii desu ne, nihon go umai ne), saya selalu mengartikannya : “Kamu masih harus ikut kursus Bahasa Jepang 2-3 tahun lagi !!”  😀

Iklan
  1. sensei ogenki? 🙂
    terima kasih postingannya…

    saya pernah memiliki pengalaman aneh dengan nihonjin, meskipun (klo boleh membela diri) bukan salah saya karena semuanya berawal dari ‘korban situasi’… pada akhirnya nihonjin ini selalu berkata “daijobu yo” ketika saya meminta maaf, tapi tidak dibarengi dengan sikapnya, bahkan meskipun akhirnya dosen saya ‘turun tangan’ nihonjin ini tetap saja pada pendiriannya, sulit ditebak…
    klo dalam istilah sunda sih ‘ngagokan’…
    walhasil ketika itu saya harus mengganti topik penelitian saya… karena selalu bilang akan membantu, tapi kenyataannya dia selalu menghindar 😦

  2. betul, bukan org jepang saja yg bertatemae, tp mereka yg merasa paling bs bertatemae. Sy pun pernah (sering) dipuji2 tp tdk pada tmptnya oleh org indonesia yg akhirnya sy merasa disindir. org jepang pun sering “menyindir” kita. tapi kalo kita ceritakan bahwa di indonesiapun ada tatemae ala indonesia org jepang g terima. ktnya krn kita dulu kecipratan tatemae dari mereka pada jaman jepang. bener gak ya.. obrolan spt ini biasanya menjadi “panas” kalo sy tdk segera kembali memuji (ato menyindir???) shgga suasana kembali menyenangkan. So jadi siapa yang bs bertatemae?

  3. keren bahasanya.. terutama kalimat terakhir itu..
    iya sih.. orang Jepang tu biar kita cuma bisa perkenalan dalam bahasa jepang n setelah itu ngobrolnya agak ga ngerti maksudnya, pasti dibilang “nihongo ga umai ne..” (笑)
    tapi karena menyadari konsep honne-tatemae ini, jadi agak gimana juga..
    tapi secara keseluruhan, mereka sangat menyenangkan untuk dijadikan teman..

  4. a, kurang 1 huruf “n”.. harusnya “keren bahasaNnya”, tapi “bahasanya” juga asik sih artikel ini..
    *ini honne lho..*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: