murniramli

Menghargai penganan tradisional

In Belajar Kepada Alam, Serba-Serbi Jepang on Oktober 27, 2008 at 4:02 am

Setiap bangsa memiliki kekhasan dalam makanannya. Bahkan dalam skala yang lebih kecil, setiap suku memiliki makanan tradisional. Daerah kelahiran saya, Bone terkenal dengan “barobbo, baje utti, bolu peca, lawa’, pallumarang, barongko,tumpi-tumpi”. Makanan ini ada yang menjadi makanan khas pada saat kendurian ataupun ada yang menjadi makanan kecil di acara minum teh di sore hari.

Makanan khas Jepang berupa kue-kue manis, mochi, zenbe juga tersedia selalu di supermarket, walaupun tak banyak yang meminatinya karena harganya cukup mahal dibandingkan makanan lain yang diproduksi pabrik/industri. Makanan kecil tersebut pada umumnya buatan rumah tangga, usaha kecil menengah. Saya kadang-kadang membelinya karena cukup mengobati rindu pada jajanan pasar di Indonesia.

Kemarin sore, sebuah stasiun TV menyiarkan tentang “soba”, mie Jepang yang berwarna abu-abu atau kecoklatan. Saya termasuk penggemar soba, dibandingkan dengan “udon” yang juga seperti mie tetapi lebih lebar ukurannya. Siaran itu sangat menarik karena memperkenalkan mulai dari tata cara memproduksi soba, menanam soba, membuatnya hingga menjadi dapat dimakan, tata cara makan soba, dan kegiatan pelestarian soba di beberapa daerah.

Soba adalah makanan utama yang dikenalkan pada jaman Edo. Sebagai pengganti beras yang dikhawatirkan penurunan produksinya, dikenalkan makanan alternatif yang tetap bisa mengenyangkan perut karena karbohidratnya tinggi, yaitu soba.

Soba adalah tanaman tahunan yang dikenal dengan nama latin Fagopyrum esculentum.

Tepung soba dihasilkan dari biji tanaman soba yang berbentuk segitiga, mirip biji kangkung. Penghasil terbesar soba di Jepang adalah Hokkaido, yang dikenal sebagai “Denmark-nya Jepang karena padang rumputnya yang luas. Setiap daerah di Jepang mempunyai tata cara memasak/menyajikan soba yang berbeda-beda. Daerah Yamaguchi dikenal dengan kelezatan soba-nya, dan penduduk setempat mempunyai festival makan soba.

Untuk melestrarikan penanaman soba, di daerah Yamaguchi, seorang petani menyewakan lahannya kepada sekitar 175 orang yang datang dari seantero Jepang untuk menanam sendiri sobanya. Kegiatan ini merupakan rekreasi yang menarik bagi keluarga. Seorang lelaki berusia 60 tahunan menceritakan kenangannya selama 9 tahun terlibat dalam kegiatan ini dengan istrinya yang meninggal setahun yang lalu. Kecintaannya kepada soba ingin ditularkannya kepada cucunya dengan mengajaknya untuk ikut acara menanam soba.

Sebuah sekolah kejuruan di Yamaguchi yang mendidik generasi muda Jepang untuk menjadi pembuat soba handal, digambarkan begitu ketat membina siswa-siswanya. Mereka tidak bisa lulus jika tak sanggup membuat soba yang enak dan menyajikannya selayaknya soba dihasilkan pada zaman Edo.

Seorang ahli soba menunjukkan tata cara makan soba yang ternyata memiliki kekhasan. Mengambil sejumput soba dengan sumpit bukan pekerjaan mudah. Soba yang panjang sulit untuk diputus, dan ini akan mengurangi keindahan makan soba. Karenanya soba perlu diambil dan diletakkan berulang-ulang hingga diperoleh soba yang pendek dan cukup. Jumputan soba ini dicelupkan seluruhnya ke dalam souyu (semacam kecap) yang telah dicampur dengan mirin (bahan dari sake), lalu dihisap dengan mengeluarkan suara. Menghisap soba harus dengan sekali isapan. Dan memang kelihatan indah cara memakannya.

Sekelompok orang tua dan muda berkumpul dan membentuk kelompok “Sobalier”, yaitu penggemar soba. Mereka mengadakan acara khusus mengelilingi toko-toko/restoran  soba yang tersebar di seluruh Jepang. Dan uniknya seorang di antara mereka mempunyai kebiasaan menggambar semua penampilan toko soba, penyajian soba di meja makan. Tentunya cara ini berarti sekali bagi pelestarian sejarah soba untuk generasi yang panjang kelak.

Soba adalah makanan rakyat di Jepang. Sekalipun harganya cukup mahal jika dibandingkan dengan nasi, tetapi menikmatinya seakan membawa kembali kepada kejayaan Edo. Bagi beberapa orang asing, soba tak berasa apa-apa. Ya, jika dimakan begitu saja memang tak terasa enaknya. Sayangnya souyu yang dicampur mirin tak dapat saya makan, tetapi menikmati soba di Nagano yang dicampur dengan ikan sungai, ditaburi nori (rumput laut) dan sejumput wasabi memang sangat nikmat saat udara dingin menusuk.

Iklan
  1. buat saya, soba saja kurang kalau tidak ada temannya, paling nikmat kalau dibarengi tempura =p~

    yang saya heran kenapa yakisoba disebut yakisoba, prasaan minya beda dengan mi soba

  2. Penganan tradisional suku saya kerak telor, tapi saya gak suka. Gimana tuh?

    murni : yah gpp, cari yang laen aja 😀

  3. kalo Jepang terkenal dengan soba, kalo Indonesia apa ya, bakso kali yan ! (^-^)

    murni : bakso itu dari Cina ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: