murniramli

Penelitian itu menyenangkan

In Penelitian Pendidikan, Renungan, Serba-Serbi Jepang on Oktober 29, 2008 at 10:38 am

Ha ?
Banyak yang tidak sependapat barangkali. Tak apalah.

Saya baru saja konsultasi dengan Nishino Sensei, seorang peneliti Islam di Asia Tenggara. Beliau ditunjuk sebagai salah seorang reviewer paper saya yang akan diterbitkan di jurnal kampus. Sebelumnya Ueda Sensei yang menjadi pembimbing utama saya sudah memberikan komentar yang kritis sekali terhadap paper yang saya buat. Komentar beliau seperti biasa membuat saya lunglai, tetapi sekaligus penasaran.

Paper yang akan saya submit bertema transisi pendidikan menengah di Indonesia. Karena isinya cenderung ke arah sejarah, maka saya keasyikan menulis overview sejarah dan lupa argumen yang seharusnya dicantumkan dalam kajian sebagai nilai akademis artikel. Setelah saya baca ulang, saya sendiri menyadari penuh kelemahan itu, tulisan itu tak lebih dari sebuah paparan dengan analisa yang tidak tajam, chuutaa hanpa !!

Paper saya rombak total dalam waktu 3 hari dan hari ini saya berdiskusi panjang dengan Nishino Sensei. Pertanyaan pertama Sensei adalah kenapa rentang waktunya terlalu panjang (Jaman Belanda hingga reformasi)? Saya mengaku bahwa persoalan ini pun sudah saya kemukakan kepada Ueda Sensei dan kami sudah masuk ke arah pembahasan untuk memangkas sebagian paper, dan membuatnya menjadi dua artikel yang berbeda. Saya juga menjelaskan bahwa sebenarnya pada bagian reformasi (desentralisasi) masih banyak yang ingin saya tulis tetapi karena batasan jurnal hanya 20 ribu huruf, maka beberapa bagian saya pangkas.

Sensei langsung menunjuk bahwa justru bagian ini yang paling menarik dan beberapa argumen yang saya kemukakan jika ditulis dengan lebih argumentatif akan sangat menarik. Beberapa poin kami diskusikan terutama yang berkaitan dengan penggantian nama sekolah, penggabungan SD dan SMP dalam satu kategori, dan beberapa terjemahan tentang istilah di Indonesia yang tidak cocok penggunaanya oleh beberapa peneliti Jepang. Saya terkagum-kagum dengan wawasan Nishino Sensei yang luas tentang pendidikan menengah di Indonesia. Beberapa argumennya masuk akal tetapi kami beberapa kali terdiam karena tak mampu menjelaskan kenapa beberapa kebijakan pendidikan berubah sedemikian rupa. Fushigi da na… (Misterius…!)

Satu jam berdiskusi dengan Nishino Sensei menyadarkan saya betapa menyenangkannya sebuah penelitian. Dia seperti sebuah puzzle yang membuat saya hampir tak makan dan tak tidur untuk memecahkannya, saking penasarannya. Saya tak ubahnya murid-murid saya di SD Bhinneka yang tak bisa lepas dari DS-nya setelah bubar sekolah.

Apalagi membahas tentang Indonesia. Setiap saya bertemu dengan peneliti Jepang yang mempelajari tentang Indonesia, saya selalu mendengar ungkapan : “Indonesia, omoshiroi ne…” (Indonesia itu menarik ya!).

Ya, Indonesia sangat menarik. Mempelajarinya dari sudut manapun sungguh menarik! Tetapi saya baru menyadari kemenarikannya setelah saya melihatnya dari Jepang. Karena mempelajari sistem pendidikan Jepang, maka saya baru “ngeh” bahwa pendidikan di Indonesia sangat menarik, terlepas dari kebijakan itu mengena atau tidak, si pembuat kebijakan adalah orang cerdas.

Dari pembicaraan dengan Nishino Sensei, saya menemukan sebuah ilmu baru tentang penelitian. Bahwa sekalipun di dalam kepala banyak yang ingin diungkapkan/dikritisi, tetapi menguraikan teka-teki satu per satu adalah sangat mengasyikkan. Artinya, membawa tema yang besar itu akan membawa kepada kehampaan dan kebingungan, tetapi menguraikan sebuah persoalan dengan runut sekalipun hanya satu temuan adalah sangat melegakan bagi yang mengerjakan dan membawa pencerahan kepada yang membaca.

Selain membahas paper hari ini saya sempat bercerita bahwa dua paper saya ditolak dengan alasan bahasa dan tema yang luas.Sensei membaca surat penolakan yang saya bawa, dari editor sebuah jurnal yang levelnya cukup tinggi, lalu berkata “kibishii desu ne” (ketat banget ya!). Menurut saya sulit sekali foreign student seperti saya yang hanya belajar Bahasa Jepang selama 1,5 tahun untuk menembus jurnal seperti ini (sebenarnya ini tak layak dikeluhkan, karena sudah resikonya!). Sensei mengiyakan, tapi menyemangati saya bahwa reviewer memuji usaha saya menulis dalam bahasa Jepang. Ah, itu artinya saya benar-benar harus mengambil kursus Bahasa Jepang lagi 😀

Sebelum memutus pembicaraan, dengan ramahnya Nishino Sensei menawarkan jika ada yang ingin saya diskusikan dengan beliau, silahkan datang. Wah, saya langsung membungkuk dalam sebagai ucapan terima kasih. Terakhir beliau berpesan : Gambarisuginaide, karada o daiji ni, taworanaide ne ! (Jangan bekerja terlalu keras, jaga kesehatan, jangan sampai jatuh sakit !). Wah, pesannya hampir sama dengan Ueda Sensei dan teman-teman saya. Insya Allah saya masih makan dengan lahap dan tidur nyenyak…..walaupun hanya di kereta 😀

Iklan
  1. assalamualaikum.
    Tulisan ini menarik sekali. Membuat saya terpacu untuk belajar lagi. Doakan semoga kesempatan itu ada yaa.
    Ganbatte!!!
    btw: tulisan Anda telah dimuat di tribun jabar dalam kolom referat.

    murni : alhamdulillah,
    hatur nuhun

  2. Iya, asyik… 😀 *kembali ke thesis aaaaaah*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: