murniramli

Endaka (円高), jika Yen menguat

In Serba-Serbi Jepang on November 6, 2008 at 10:45 am

Nilai mata uang Yen terhadap dollar terus menguat. Pebisnis di luar negeri kelihatannya percaya dengan ekonomi di Jepang, sementara di pebisnis di Jepang terpaksa mengeluarkan kebijakan yang tidak populis.

Saya bukan ekonom, jadi yang akan saya tulis berikut ini hanyalah fenomena yang terjadi di Jepang dengan menguatnya yen dan melemahnya dollar.

Sekitar seminggu yang lalu beberapa department store di Jepang membanting harga-harga produk yang dijualnya dan memasang spanduk “円高セール”(Endaka Sale). Produk-produk yang dijual murah kebanyakan adalah produk import dari Amerika atau Eropa. Beberapa produk dari Cina juga dibanting padahal harganya sudah murah dibandingkan dengan barang-barang buatan Jepang lainnya. Produk-produk tersebut kebanyakan non makanan dan minuman (Harga sashimi dan sushi tidak terpengaruh dollar !!).

Yang lebih membuat mata kelap-kelip adalah harga tour/jalan-jalan ke luar Jepang. Misalnya paket jalan-jalan ke Seoul yang biasanya berkisar 15 ribu -20 ribu yen, ditawarkan menjadi 7 ribu yen. Paket ke Hawai dipangkas hingga 30-50%. Saya tidak tahu berapa persen potongan harga paket jalan-jalan ke bulan yang ditawarkan JTB. Harga awalnya adalah 110 億円, atau sekitar 100 juta US Dollar (data bulan Maret, 2008, saat 1 USD =110 yen).

Tetapi sekalipun harga-harga dibanting, orang-orang Jepang yang terkenal paling senang belanja dan jalan-jalan ternyata memegang erat-erat dompetnya dan berfikir seribu kali untuk membeli produk-produk tersebut. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga, ancaman PHK, dan masalah uang pensiun yang pengembaliannya semakin dikurangi, atau rencana PM Aso untuk menaikkan pajak.

Di TV-TV ramai pakar ekonomi berbicara mengingatkan untuk menyimpan yen dan jangan menghambur-hamburkan uang sebab masa krisis akan lebih lama. Jadi, alih-alih membantu  industri Amerika untuk bangkit/bertahan dengan membeli produk2nya, masyarakat Jepang rupanya sangat berhati-hati dengan kondisi ekonomi yang juga memburuk di negara sendiri.

Satu lagi berita mengejutkan disiarkan dua hari ini di TV, yaitu pembatalan penerimaan pegawai baru. Sebagaimana pernah saya tulis di blog ini, bahwa setahun sebelum lulus, mahasiswa S1 semester 6 dan mahasiswa S2 semester 2 biasanya akan mengikuti syuusyoku katsudou (aktivitas mencari kerja). Jika mereka diterima (内定される=naitei sareru), maka selanjutnya mereka tinggal menyelesaikan skripsi dan setelah lulus langsung bekerja.

Akibat krisis yang melanda perusahaan-perusahaan Jepang, terutama perusahaan finance (kebanyakan menanamkan uangnya ke Amerika), maka diberitakan bahwa beberapa perusahaan membatalkan penerimaan pegawai baru. Pembatalan ini begitu menyakitkan bagi mahasiswa sebab bulan-bulan ini adalah masa menyelesaikan skripsi dan tidak sempat lagi untuk mengikuti syuusyoku katsudou.

Bagi orang/mahasiswa Indonesia yang sedang berada di Jepang, perbincangan menarik di milis-milis adalah bagaimana mengirimkan uang yen ke Indonesia secara murah dan aman, sebab 1 yen hari ini sama dengan 110,8 rupiah (data Yahoo finance, detik ini) 😀

Iklan
  1. Saya salut dengan kedewasaan, dalam arti bisa menahan diri dan berfikir rasional pada saat krisis, bangsa Jepang. Terlihat juga kematangan pemimpin-pemimpin mereka dan kesungguhan untuk benar-benar memperhatikan yang baik dan buruk tingkah laku mereka dan rakyat menghadapi krisis.

    Kalau di Indonesia ada tawaran-tawaran “menarik” seperti ini, apa mungkin kebanyakan orang indonesia akan bisa menahan diri seperti ini? saya rasa tidak … yang ada pada berlomba menghabiskan uangnya untuk foya-foya. Tidak perduli mau saat krisis atau tidak.

  2. Wah…berarti Pemerintah dan Para Ekonomnya sudah mengingatkan Rakyat ya agar secara ketat menyimpan Yen dan meyakinkan masyaakatnya bahwa krisis ini bisa panjang. Berbeda sekali dengan Indonesia yang Pemimpinnya selalu mengeluarkan statement yang ‘menenangkan’ seolah-olah Indonesia aman dari dampak krisis. Langkah yang dimaksudkan untuk membuat rakyat tidak pabaik ini dalam jangka panjang bisa kontraproduktif. Rakyat tidak diajari mensikapi krisis, tapi ‘ditenang-tenangkan’ saja. Salam kenal Mbak…

    murni : pemerintahnya ngga, Mba…para pakarnya yg lebih banyak muncul

  3. waduh….di jepang lagi pada repot uang yah….di indonesia sih udah dari jaman batu kayaknya tuh rupiah loncat2 melulu. Baru beberapa bulan lalu aku nyoba KPR buat rumah, gak ada masalah , eh bulan ini gara2 efek sub-prime mortgage si amrik itu cicilan naik 3 kali lipat. so gimana tuh kabar KPR dari bank2 di jepang sana, apa pasangan muda yg pengen punya rumah juga kena imbasnya? eh iya mbak murni aku juga mau tanya yg detaiiiiillll banget… itu soal wkt pertama kali mbak murni ngerasain ujan salju, gimana sih rasanya…kayak es serut gitu?..sorry ya nanyanya katro banget he he, trus skr kan momiji nih, di deket2 rumah mbak juga pemandangannya kayak di kartupos2 gitu gak? katro lagi…heh… tolong ya dijawab soalnya aku penasaran (lagi)…

    murni : Bu Betty…saya senyum2 baca komentarnya 😀
    ya, saljunya ada yg kayak es serut, tp ada juga yg aluuus banget. Kalo sdh ngonggok, emang spt kayak es serutnya mamang2 di Indonesia 😀
    Lalu, ttg momiji, di dekat rumah saya ngga ada momiji, yg ada bangunan beton doang, Bu…hiks. Tapi di kampus saya banyak, sebentar lagi akan menguning dan memerah. Dan pemandangannya ada yg kayak di kartu pos itu 😀
    Kalau mau lihat jelas, beberapa saya simpan di Gallery (Flickr) silahkan ditengok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: