murniramli

One Step : Program KKN Jepang

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on November 26, 2008 at 11:50 am

Ada sebuah acara di channel TBS Jepang, menyajikan tentang kegiatan mahasiswa S1 tingkat 3 dan 4 dalam mengamalkan ilmunya. Acara ini berjudul ONE STEP, disponsori oleh Toyota Co, mirip dengan Program Kuliah Kerja Nyata yang mulai dihapuskan di beberapa universitas di Indonesia.

Siaran ini sudah dimulai sejak bulan Juli yang lalu, dan saya menonton Episode ke-19 dan ke-20 yang disiarkan 9 dan 16 November 2008. Empat orang mahasiswa Ashikaga Institute of Technology ditantang untuk menerapkan ilmu yang sudah didapatnya di sebuah pulau kecil di Niigata prefecture, yaitu Pulau Awashima desa Uramura, yang tidak mempunyai sebuah toko elektronik pun, dan tidak ada seorang pun yang mengerti elektronik, sehingga peralatan elektronik mereka teronggok begitu saja selama bertahun-tahun.

Keempat mahasiswa difasilitasi dengan sebuah rumah untuk tinggal di pulau itu selama 2 minggu. Lalu, segera setelah merapikan barang bawaan mereka mengumumkan kepada warga untuk membawa barang elektronik yang rusak ke penginapan mahasiswa dan akan diperbaiki. Maka berdatanganlah warga membawa barang-barangnya dan mahasiswa2 itu mencatat nama barang dan pemiliknya, menderetkan barang-barang tersebut dalam ruangan, banyak juga. Seorang warga yang tidak sanggup membawa barangnya hanya melapor saja, dan meminta kesediaan mereka untuk datang memeriksanya di rumahnya.

Menjadi sangat menantang bagi mahasiswa karena barang-barang tersebut adalah produk lama, yang beberapa di antaranya sudah tidak diproduksi di Jepang, misalnya saja tape recorder produk tahun 70-an, atau TV tahun 80-an. Para mahasiswa kebingungan sebab banyak peralatan yang tidak mereka ketahui cara kerjanya. Dan beberapa prinsip kerja peralatan tidak mereka pahami.

Tapi seperti kata pepatah 真剣だと知恵が出る = shinken dato chie ga deru, yang artinya kalau bersungguh-sungguh pasti pemahaman akan muncul, maka mahasiswa-mahasiswa ini mulai membongkar satu persatu alat dan mulai mempelajari cara kerjanya.

Kesempatan seperti ini barangkali tidak akan mereka dapatkan di bangku kuliah atau di ruang praktek di kampus. Seorang mahasiswa mengaku mempunyai kelemahan dalam berkomunikasi dengan orang lain, apalagi orang tua, tetapi dengan mengikuti program ini, sedikit demi sedikit dia belajar tentang sesuatu yang baru, yaitu berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Seperti diketahui struktur Bahasa Jepang agak ribet karena mempunyai tingkat kesopanan dalam penggunaannya.

Menerima ucapan terima kasih dari penduduk pulau adalah juga sebuah pengalaman berharga. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai nelayan, maka para mahasiswa berkesempatan menikmati sashimi yang lezat sebagai imbalan kerja mereka.

Kegiatan ini barangkali hal biasa bagi kita yang pernah mengalami KKN, tapi upaya Toyota Co. untuk mensponsorinya dan usaha Fuji TV untuk mengemasnya dalam bentuk siaran, adalah sebuah langkah untuk menyajikan tontonan yang membangun.

Iklan
  1. betul bu,
    dari pada reality show yang hanya berbicara cinta-cintaan saja.

  2. Wah Toyota masih sempat jadi sponsor yah? Padahal lagi krisis gini bukannya hemat? Daripada ngeluarin duit buat jd sponsor mendingan buat mencegah PHK karyawan gede-gedean.

  3. iya, mba murni maksud aku tolong liput replica food dari wax, abis lucu2 sih kayak makanan beneran dan informasinya msh kurang. eh ttg KKN di jepang…ada juga ya….aku dulu kuliah di Unpad Bandung juga hrs KKN ke pelosok subang nan terpencil, tp gak tau ngaruh gede gak ke masyarakatnya, tapi yg jelas malah aku dapet jodoh sesama mahasiswa…he ..he… eh, mba punya temen org jepang asli kan..kenalin dong ke aku ya…siapa tau kalo mrk ke bandung, aku mau jadi guide gratisan…

    murni : waduh, saya juga mau Bu Bety…diguide gratis

  4. Terima kasih infonya

  5. aku juga KKN dulu, tapi ya.. Mudah-mudahan bermanfaat kerja keras kita selama satu bulan lebih itu. KKN sekarang sudah ditinggalkan bu, di unpad dulu saja hanya fak. komunikasi (fakultas saya) yang mewajibkan KKN, dan pertanian mungkin. Yang lainnya tidak jadi pada lebih milih PKL, lebih berguna buat masa depan dirinya. Saya pribadi kesal luarbiasa dan tidak mengerti kenapa sih banyak yang menganggap KKN itu hanya buang-buang waktu saja. Mungkin memang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi paling tidak berusaha.
    Sewaktu saya giliran KKN, tidak ada sama sekali anak fak. kedokteran yang ikut KKN. Mereka terlalu sibuk untuk lulus cepat-cepat. Padahal di lapangan yang kami temukan, masyarakat butuh sekali dokter atau tenaga kesehatan berada di sana. Sedih sekali rasanya bu kalau ingat…

    murni : hmm…sayang dihapus ya program itu. Yg mestinya dihapus beneran adlh KKN (KorKolNep) hehehe…

  6. Ass ww

    Mbak, ini mbak Murni tho? Apa kabar. Saya Wati, di Bogor. Masih inget?

    Pls contact saya ya di kadarwati.sarbini@gmail.com

    Wass.

    wati

    murni : alhamdulillah sya sehat, Mbak.
    Gimana di Bogor ?

  7. […] Artikel tentang pendidikan Jepang ini dan tulisan menarik lainya dapat diakses pada: Program KKN Jepang […]

  8. KKN (kuliah kerja nyata) sudah mulai dihapus di sebagian besar kampus di Indonesia. Mungkin karena nggak menghasilkan uang. Mendingan atuh KKN yang lain …. bikin kantong tebal …..
    “kaya nggak ngerti ‘bisnis’ aja” 😀

  9. kali KKN bermetamorfose menjadi Kerja Praktek [salah apa bener ya?] lebih fokus pada studinya.

    ada fenomena manfaat “tersembunyi” spt. diungkap dalam tulisan diatas, tak membawa manfaat cespleng [efek jangka panjang, terasa sepanjang usia hidup pembelajar]; lain halnya dengan PKL, significant sama korelasi studi ditempuh [efek jangka pendek, sependek usia studi].

    kali itu mendasari pertimbangan knapa KKN dihapus, boros biaya, efeknya tak instant/cespleng.
    seperti diketahui hasilnya, Anda benar, bahwa keterbatasan = identik kelemahan ≠ kebodohan, melainkan kecerdasan sosial.

    Sebaliknya ketersediaan = kepintaran, juga ada sisi yang terselipkan yakni, kepandiran sosial berbanding lurus [semoga tidak] dengan kepintaran seseorang yang harus dibayar dengan teramat mahal saatnya kelak usai menempuh sekolah akademis, melanjutkan belajar/studi di sekolah kehidupan, ukurannya itu sukses, bukan lagi besaran IPK. Ini perihal acapkali dimustahil/ dinafikan…. oleh kaum akademisi kepada anak peserta didiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: