murniramli

Padi, Beras, Nasi

In Belajar Kepada Alam, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Desember 1, 2008 at 11:11 am

Ketika petinju Kameda dikirim ke Mexico untuk berlatih secara terpisah dari ayahnya yang semula menjadi pelatihnya, beberapa bulan sesudahnya seorang wartawan mewawancarainya, apa yang paling ingin dimakannya saat ini ? Dengan polosnya dia menjawab, “gohan”, nihon no gohan.

p1050139

Gb. Onigiri yang dihias

Sama seperti Jepang, kita mempunyai tiga kosa kata untuk makanan utama di negara kita: padi (稲=ine), beras (お米=okome), dan nasi (ご飯=gohan). Saya tidak yakin anak-anak SD mengetahui bahwa beras adalah dari padi. Lebih tak yakin lagi, jika semua anak SD di Indonesia mengetahui rupa tanaman padi 😀

Baru saja saya menelepon Mamak karena tiba-tiba saja saya rindu rasa nasi yang pernah saya makan waktu kecil dulu. Semasa kecil saya punya kebiasaan yang agak aneh, yaitu mengemut nasi sebelum tidur, dan nasi itu tetap diemut, sambil jari telunjuk menggulung-gulung rambut dan mata terpejam. Ini asyiik sekali 😀   Kebiasaan buruk ini berlangsung sampai saya duduk di bangku kelas 3-4 SD (tidak ingat). Pagi-pagi, Mamak pasti repot melepas jari telunjuk saya yang sudah terlilit rambut 😀

Karena kebiasaan itu barangkali saya jadi ingat rasa nasi yang setiap hari saya emut itu, manis ! Mamak sudah tidak ingat apa nama beras itu, tapi kemungkinan Beras Soppeng atau beras Banda, katanya.  Penelitian saya sewaktu S2 di IPB adalah seleksi padi sekitar 50 species/varietas terhadap ketahanannya terhadap penyakit blas. Karena kami ingin mencari gen-gen ketahanan dari padi lokal dan padi liar, maka pekerjaan saya sebatas seleksi pada padi-padi tersebut. Sayangnya saya tak sempat menikmati enaknya nasi dari padi-padi lokal yang kebanyakan adalah padi gogo dari wilayah Kalimantan dan Sumatera. Sekarang saat makan nasi Jepang yang enak, saya ingin sekali mencicipi semua nasi dari padi-padi yang saya seleksi dulu 😦

Seperti halnya kebanyakan orang Indonesia, saya tak begitu peduli dengan nasi yang saya makan setiap hari. Bahkan keluarga saya pun ketika pindah ke Jawa, kami tak lagi peduli dengan beras yang enak, yang penting harganya terjangkau. Sewaktu tinggal di Bone, karena bapak dan mamak mempunyai warisan sawah, maka setiap bulan pasti ada kiriman beras yang rasanya enak dari kampung. Bone adalah penghasil beras nomor satu di Sulsel. Sayangnya ketika saya pulang ke Bone sekitar tahun 2004, pemandangan sawah sudah berkurang, berganti dengan perumahan yang semakin melebar ke persawahan. Tetapi di kampung ayah di Lappariaja (Ujung Lamuru), sawah masih sangat luas menghijau.

Setelah berada di Jepang selama 4 tahun, saya sangat gemar mencoba beras-beras produksi daerah-daerah di Jepang. Beras terenak yang pernah saya makan adalah beras yang diberikan oleh Ibu seorang teman di Nagano. Rasanya pulen dan manis. Setiap satu atau dua bulan sekali saya selalu membeli beras 5 kiloan yang selalu saya ganti-ganti. Maksudnya, kalau bulan sebelumnya saya beli beras Aichi, maka bulan sekarang saya beli beras Niigata. Aichi terkenal sebagai lumbung beras dan beberapa produk pertanian di Jepang. Tetapi saya pikir, karena wilayah Aichi dipadati pula dengan industri, maka beras produk Aichi kurang enak dibandingkan produk Niigata atau Nagano. Niigata terkenal dengan sumber irigasi sungainya yang jernih, air dari Niigata terkenal bersih, makanya beras dari daerah ini termasuk high price.

Padi yang paling banyak ditanam di Jepang adalah Koshihikari, kultivar ini dibuat pertama kali pada tahun 1956. Dari kultivar ini kemudian dikembangkan jenis-jenis padi yang lainnya yang juga enak, seperti Akitakomachi, Hitomebore, dan Hinohikari.  Beras koshihikari besar-besar, dan rasanya pulen.

Ketika membeli beras, maka persyaratan yang dianjurkan untuk diperhatikan adalah : Tanggal panen (精米日=seimai hi), dan kalau bisa beras dikonsumsi dalam waktu seminggu ataupun satu bulan. Pada label kemasan beras biasanya dicantumkan tanggal panen, merk dan jenis beras, serta daerah produksi, dan tentu saja layanan konsumen. Akhir-akhir ini juga muncul jenis beras yang tidak perlu dicuci (無洗米=musenmai), tetapi jenis beras ini cepat rusak. Agar enak dimakan, beras jenis ini harus dimasak dengan air yang lebih banyak daripada beras biasa.

Nasi yang paling nikmat adalah nasi panas 😀
Dimakan dengan apapun enak. Dan nasi yang dimasak di dalam kuali tanah di atas tungku adalah yang paling harum 😀
Ada cara makan nasi saat saya kecil dulu yang sederhana, tetapi sangat nikmat. Nasi panas ditaburi dengan garam (garamnya yang butiran bukan garam halus) yang dicampur dengan minyak kelapa asli. Wangi dan sangat enak !

Sekarang banyak sekolah-sekolah di Jepang yang melakukan kegiatan belajar di sawah, memperkenalkan anak-anak tentang siklus dan tata cara menanam padi hingga panen. Mereka juga dikenalkan dengan jenis beras yang enak untuk dibuat menjadi sake. Karena sama seperti orang Indonesia, orang Jepang tak bisa hidup nyaman tanpa makan nasi, maka pembelajaran tentang padi,beras dan nasi memang selayaknya diajarkan sejak SD.

Daripada mengajarkan mulok komputer atau Bahasa Inggris kepada anak-anak SD,SMP atau SMA di Indonesia, kenapa tidak mencoba mengajarkan mereka tentang padi yang tumbuh di sekitar sekolahnya. Sekolah-sekolah di Bone, Sulsel, yang sekarang lahan sawahnya semakin berkurang karena dibangun untuk perumahan, semestinya diwajibkan untuk untuk memberikan mulok bercocok tanam padi. Agar anak-anak di tanah Bugis tak lupa jenis-jenis padi lokal, lembut, harum dan enaknya beras-beras yang ditanam di kampung-kampung mereka.

Iklan
  1. ya kita di republik ini kan suka/gemar salah urus… dalam segala lini kehidupan… atau jangan-jangan

    malah berusaha me”lupa”kan, malu dengan jati diri kita sendiri, pemakan beras di[identik]kan dengan keterbelakangan beralih ke kaum pemakan tepung gandum di{apresiasi} kan dengan modernitas?

    itu berlaku buat kaum berkemampuan beli ;
    buat kaum bisa makan beras saja sudah mulia, biasanya beras dicampuri/subal/substitusi bahan
    lain, jadi gak murni beras lagi…. ya tetep madep mantep sama asli jati dirinya [maklum, gak ada kesempatan].

    masalahnya lebih kepada urusan pendidikan mental, suka di”main”kan mental-mentul-mentol

    lantas siapa mesti menanamkan kuat-kuat pendidikan berbasis mental spiritual cinta dan bangga menjadi warga jamrud khatulistiwa terbentang sepanjang nuswantara ini?

    tolong beritahu ya…. aku orang yang ora mengerti ini?

  2. Ya, kita muloknya Bahasa Sunda juga mengenali makanan Sunda (bikin colenak) dan belajar main angklung. Menanam padi dan membajak sawah adalah program tahunan outbond.

    murni : sekali waktu coba disajikan nasi dari beraneka beras dan anak2 diminta menilai mana beras yg enak hehhee…nyobanya pas outbond saja

  3. aku baca tulisan ini sambil makan nasi dari “beras gunung”, begitu orang-orang di kalimantan memberi sebutan beras yang ditanam di gunung. Enak, pulen wah mak nyos

    murni : Pak Budi, apa nama varietas beras gunung itu ya ?
    Mestinya sejenis padi gogo ya ?

  4. judulnya sama, orang jepang dan orang indonesia belum bisa dikatakan makan kalau belum ada nasi. tapi judulnya jadi berbeda ketika membayangkan porsi nasi yang dikonsumsi orang jepang dan orang indonesia, bagai langit dan bumi…hehehe

    ide bagus mbak untuk mengenalkan kegiatan bersawah kepada anak2 🙂 tapi seperti daerah lain, banyak sawah produktif sudah berganti jadi bangunan 😦

    murni : Mba Hani, terima kasih sudah berkunjung 😀
    Ya, kalau sdh jadi bangunan, hrs ada pelajaran ttg penataan ruang terbuka hijau u anak2 ehhehe

  5. Muatan lokal tentang beras, padi, dan nasi penting di sekolah-sekolah.Informasi dari mbak Murni sangat mencerahkan dan memberi informasi saya jika nanti harus membuat artikel.
    Coba saja sekarang beras hanya jadi objek para politisi untuk meraih simpati rakyat jelang pemilu 2009. Partai x bilang kita berhasil swasembada beras, partai y bilang harga beras tak terjangkau, partai z bilang petani tertindas bagaimana bisa menanam padi, dan partai xyz bilang mari kita jangan bergantung ke beras, he-he-he.
    ganbatte!!!

    murni : ayo, menulis yg banyak ttg kampanye belajar padi/beras Indonesia 😀

  6. artikelnya menarik mbak.
    idenya bagus jg utk mengajari anak ttg asal makanan pokok mereka.
    tp klu pelajaran mengenali padi, wuaduuuh para ibu2 jg pasti mumet mengenli jenisnya yg sekarang jd buuuanyak dengan bentuk padi/beras yg bentuknya sediiikiiiiiit banget bedanya.
    Mungkin utk daerah yg gk trlalu byk tumbuh padi bisa saja tumbuhan lokal di sekitar mereka yg bisa jd bahan makanan pengganti beras.
    makasih share pengalamannya d jepang ya mbak

    murni : ya, memang susah membedakan jenis2 beras sekarang karena beras2 itu dihasilkan dari jenis padi yang tetuanya berdekatan, maka hasilnya jenis2 yang variasinya kecil, alias mirip-mirip 😀

  7. Td siang sy beli beras @ psr induk. Dsr ga ada pngetahuan sm skali yg slm ini jd prnsip beli beras bukan enaknya sm dg Saudara/i yaitu yg trjangkau sj. Walhsl sy kcw krn hrg yg sy beli kmahaln utk jnis beras slyp yg pngakuan pnjualnya dr prsawahn @ Solo. Rp.130rb/20kg beras slyp *atau itu mmg hrg psr utk jenis ini?*

    Sy s7 senang skali menemukan artikel ini. Boleh mndpt ijin utk sy posting di note fb dan milis ibu2 t4 sy brsosialisasi di dunia lain 😀

  8. @ Ibu Agatha : Salam kenal,
    dan silahkan dimanfaatkan artike di atas

  9. Ibu Murni, saya tertarik dengan artikel ini…
    apakah di Indonesia yang sudah ada yang menghasilkan beras yang serupa atau minimal satu grade dibawah beras Koshihikari.?
    Mohon bantuan infonya bu..Terimakasih

  10. sudah 3 tahun saya tinggal dijakarta tapi saya belum pernah makan nasi yang lebih enak dari produksi beras orang bone, nama berasnya dalam bahasa bugis “ASE BARAMO” tapi kalau nasi jepang saya kurang tau karena saya belum pernah mencobanya “SEHI TABETAIDES”, moga saja saya bisa berangkata ke jepang awal tahun 2010 dan bisa membandingkan mana yang lebih enak…??? IMA MADA WAKARANAI…^_^ MINNA NI YOROSHIKU

  11. Boleh tanya, apakah ada e-book mengenai katalog beras nusantara. Jenis2nya, karakter nasinya, daerah penghasil, dll. Mohon petunjuk. Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: