murniramli

Kebijakan Potong Gaji Pak Gubernur

In Serba-Serbi Jepang on Desember 29, 2008 at 1:19 pm

Adakah gubernur yang berani memotong gajinya demi rakyat ?

Sama seperti Indonesia, Jepang saat ini sedang giat-giatnya mendorong pelaksanaan Otonomi Daerah. Ada 47 prefektur di Jepang yang dikenal dengan istilah todoufuken (都道府県), yaitu to (都)untuk Tokyo(東京), dou (道)untuk Hokkaido(北海道), fu(府) ada dua, yaitu Osaka (大阪府)dan Kyoto(京都府), sedangkan yang lainnya disebut ken, misalnya Aichi ken (愛知県).

Kebijakan OTDA di Jepang sementara ini bertumpu kepada wewenang yang lebih besar yang diberikan kepada Gubernur (知事=chiji), dan bukan kepada pejabat di tingkat  yang lebih rendah 市町村(shi chou son), yaitu 市(kota), 町(kota yang lebih kecil), dan 村(desa). Masing-masing kepala daerah disebut 市長(shichou), 町長(chouchou), dan 村長(sonchou).

Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan forum gubernur, bupati dan walikota di sebuah channel TV yang dihadiri oleh beberapa gubernur yang terkenal karena kebijakannya yang populis atau karena kekontroversialannya, misalnya Gubernur Miyazaki Pak Higashi, Gubernur Osaka Pak Hashimoto, Gubernur Kumamoto, dan beberapa bupati dan walikota lainnya.

Seorang gubernur memukau saya dengan kebijakan potong gajinya, yaitu  Pak Ikuo Kabashima, Gubernur Kumamoto.

Sebelumnya pemotongan gaji sebesar 30% pernah dilakukan oleh Pak Daijiro Hashimoto yang memimpin Kochi pada era 1991 hingga 2007 . Hashimoto yang merupakan adik mantan PM Ryuutaro Hashimoto. Beliau tergolong reformist, pernah menghukum sekitar 2649 pegawai negeri di prefekturnya karena melakukan pelanggaran yaitu ikut berdemonstrasi yang dilarang di Jepang, berikut memberikan penalti berupa pemotongan gaji.

Pada tahun 1999 dilakukan sebuah survey penghasilan atau lebih tepatnya kekayaan gubernur dan walikota di Jepang, dan tercatat rata-rata gaji gubernur pada masa itu adalah 23,03 million yen (kalikan dengan 100 untuk mendapatkan angka dalam rupiah). Tercatat Gubernur Yamanashi prefecture memperoleh gaji tertinggi 43,74 million, dan yang hebat adalah walikota Nagoya, Takehisa Matsubara yang memiliki penghasilan 32,67 million yen, melampaui gaji gubernur lainnya.

Gaji gubernur di Jepang selanjutnya mengalami penurunan dari tahun ke tahun, ditambah lagi dengan aksi para gubernur untuk memotong sendiri gajinya.

Yang paling patut diacungi jempol adalah langkah yang diambil oleh Pak Ikuo Kabashima, Gubernur Kumamoto. Beliau adalah professor ilmu politik dari Tokyo University dan pernah mengenyam pendidikan politik ekonomi di Harvard University. Beliau terpilih menjadi gubernur pada bulan Maret tahun 2008.

Langkah pertama yang dilakukan Pak Kabashima adalah memotong gajinya, yang semula berjumlah 1.240.000 yen, menjadi 240.000 yen. Gaji sebesar ini lebih kecil dibandingkan dengan gaji yang diterima kepala sekolah SD di Jepang, bahkan di bawah standar hidup layak warga Jepang (250.000 yen). Istrinya sangat khawatir dengan hal ini sebab Pak Kabashima telah menghabiskan banyak uangnya dalam kegiatan kampanye pemilihan gubernur.Tetapi Pak Kabashima berprinsip bahwa dia tidak mungkin memotong gaji pegawainya sebelum dia sendiri melakukannya.

Langkah yang ditempuh oleh Pak Kabashima merupakan sebuah sejarah di dalam pemerintahan Jepang. Beliau satu-satunya yang berani memotong gajinya sebesar 80,65%. Ketika melihat penampilannya di TV, beliau seperti kebanyakan orang Jepang yang biasa saya temui di kereta, sama sekali tidak berjas mewah atau berambut licin mengkilap. Tampak sekali kesederhanaannya, tetapi kalimat yang keluar dari mulutnya sungguh bernas.

Lalu, dipakai untuk apakah gaji gubernur yang dipotong sangat besar tersebut ? Tentu saja untuk membangun wilayah Kumamoto, memperbaiki fasilitas rakyat. Ini yang mengharukan. Karena melihat gubernurnya berani potong gaji, maka digambarkan dalam siaran tersebut bagaimana seorang bupati dengan rela dipotong gajinya, dan mempergunakannya untuk membangun perpustakaan untuk rakyat. Dan yang lebih hebat lagi, keikhlasan itu dibalas dengan kerelaan rakyat membangun secara gotong royong perpustakaan tersebut. Buku-buku disumbangkan oleh warga dan juga oleh beberapa perusahaan yang ada di kota tersebut (sayang saya lupa nama kotanya), dan kini anak-anak dan orang dewasa di daerah tersebut setiap hari mendatangi perpustakaan. Perpustakaan menjadi arena berkumpul rakyat.

Sayang, tidak banyak gubernur yang berani mengambil langkah seberani Pak Kabashima, memotong gajinya sesuai dengan pendapatan kebanyakan rakyatnya.

Sumber :

http://ssj.iss.u-tokyo.ac.jp/archives/2008/03/ssj_4998_the_bi.html

http://www.ksgj.org/AboutUs/Profile_Kabashima_E.html

http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20000704b2.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: