murniramli

EcO LiFe di Sekolah

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Sains, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMA, SMA di Jepang, Taman Kanak-Kanak on Desember 30, 2008 at 8:33 am

Apa yang sudah anda lakukan untuk menolong bumi ?

Menolong bumi bukan tugas Power Ranger atau Satria Baja Hitam saja, tapi tugas semuanya yang merasa 😀

Pagi ini dua hari menjelang tahun baru masehi, channel Chukyou TV menampilkan acara Eco lifenya orang Jepang.

Pertama yang ditampilkan adalah seorang kakek yang berusia 75 tahun bernama Pak Yuichiro Miura, yang berhasil mencapai Mt.Everest di pegunungan Himalaya. Pak Miura sudah pernah memanjat Everest sebelumnya, dan dalam pendakian yang terakhir ini beliau melaporkan perubahan yang terjadi di Everest yaitu terbentuknya sungai-sungai kecil lelehan salju akibat pemanasan global yang bahasa Jepang-nya disebut 地球温暖化(chikyuu ondanka). Dalam kegiatan pendakiannya Miura memanfaatkan tenaga aliran sungai tersebut sebagai sumber energi listrik untuk berkomunikasi dengan putranya yang menunggunya di lembah.

Tampilan kedua adalah seorang warga Jepang yang membuat berbagai macam alat dengan energi manusia. Namanya Pak Ando. Beliau menghubungkan sebuah sepeda dengan beragam alat, misalnya juicer, alat pengupas apel, permainan putar anak-anak, dll. Dengan mengayuh sepeda, energi akan dihasilkan untuk menggerakkan peralatan tersebut.

Selanjutnya adalah seorang arsitektur ternama yang merenovasi stasiun Shibuya di Tokyo, namanya Pak Tadao Ando. Hasil karyanya sangat unik dan dinilai ramah lingkungan. Semula stasiun bawah tanah Shibuya tidak memiliki ruang pembuangan gas CO2 yang dihasilkan dari mesin-mesin kereta yang bergerak di bawah tanah. Kemudian, Pak Ando membuaka salah satu ujung dan merenovasi ruangan masuk ke satsiun sehingga memungkinkan sirkulasi CO2 dengan lancar. Karyanya bisa dilihat di sini.

Pak Ando juga membangun beberapa gedung dengan konsep RTH (Ruang Terbuka Hijau), menyiapkan pedestrian yang penuh pepohonan. Beberapa gedung juga dijalari dengan tanaman rambat.Selain itu Pak Ando bergabung dengan Project 海の森(umi no mori) atau lautan hutan, dengan mengajak anak-anak sekolah dari mulai TK hingga SMA untuk bergabung menanam sebanyak-banyaknya pohon di seantero Jepang.

Bagaimana mengenalkan konsep Eco Life kepada anak-anak di sekolah?

Kegiatan berikut bisa menjadi contoh barangkali :

Pasukan Semut :

1. Ajaklah anak-anak untuk melihat TPS (Tempat Pengumpulan Sampah) terdekat agar mereka melihat gunungan sampah dan beragamnya sampah yang ada di situ.

2. Untuk mengajarkan anak tentang perlunya memisahkan sampah, tidak cukup dengan kuliah atau ceramah di kelas. Lakukan praktikum menanam aneka jenis sampah di dalam tanah, dan tunggulah beberapa pekan, kemudian periksalah. Anak-anak akan mengetahui secara langsung sampah mana yang hancur, dan sampah mana yang tidak hancur.

3. Ajaklah anak-anak untuk memisahkan sampah, oleh karena itu wajib bagi sekolah untuk mempunyai tempat sampah minimal empat biji, yaitu kotak sampah basah/terbakar, sampah plastik, sampah botol, dan kotak sampah khusus kertas (kertas koran,kertas buku tulis, kertas print). Lalu, ajak mereka untuk berkelompok membuat prakarya dari sampah kertas, botol atau apa saja yang bisa dimanfaatkan. Kalau perlu, buatlah perlombaan antar kelas.

4. Biasakan anak-anak untuk peka dan tidak malu memungut sampah yang ada di depannya, dan menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Pesankan kepada mereka untuk membawa kantong plastik dari rumah, dan jika mereka berjalan kaki ke sekolah, ajaklah untuk menjadi anggota pasukan semut, yang bertugas memunguti sampah di sepanjang jalan yang dilalui.

5. Jangan lupa koordinasikan semua kegiatan kepada orang tua, pihak pemerintah yang terdekat, kepala desa, camat, ta’mir masjid, pak kyai atau siapa saja untuk turut membantu. Langkah ini mungkin berat dan banyak hambatannya, tetapi jangan mengatakan berat sebelum mencoba menunaikannya.

Pasukan Energi

1. Tugaskan anak-anak untuk menghitung berapa energi yang dipakai di rumahnya 😀   Pertama minta mereka mencatat semua peralatan elektronik di rumahnya, berapa daya dan voltage-nya, dan berapa jam dipergunakan. Lalu ajarkan cara menghitung energi yang terpakai. Kemudian hitunglah berapa Co2 yang dikeluarkan peralatan tersebut. Kalau susah, buat yg lebih gampang 😀

2. Ajak anak-anak berfikir untuk melakukan penghematan penggunaan peralatan tersebut. Ini akan menjadi pelajaran matematika yang menarik bagi anak-anak SD dan SMP. Jangan lupa menuliskan hasil berfikir anak-anak di dalam buletin sekolah. Kalau belum ada buletin sekolah, buatlah sekalipun hanya berupa tulisan tangan anak-anak (bukan print) dan pergunakan fotocopy untuk memperbanyaknya. Ini bisa menjadi buku kenangan dan sekaligus buku ilmu.

3. Biasakan berjalan kaki atau bersepeda. Kurangi penggunaan angkot, bus, mobil pribadi apabila hendak pergi ke tempat yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15-20 menit. Untuk mensosialisasikan ini ajak anak-anak untuk menghitung berapa jarak yang ditempuh, berapa waktu yang dihabiskan dan berapa energi yang dihabiskan, dan berapa uang jajan yang bisa ditabung 🙂
Kalau bosan dengan hitung menghitung, mintalah mereka menulis jenis tanaman yang dikenalnya dalam perjalanan, atau ajaklah mereka berfikir apa yang bisa dilakukan sambil berjalan kaki, supaya tidak merasa bosan 🙂

Pasukan Hijau

1. Pada saat penerimaan siswa baru, salah satu syarat yang harus dipenuhi orang tua adalah membawa bibit tanaman. Jika kebun sekolah tidak ada, maka datangilah kelurahan/kecamatan setempat, usulkan penghijauan jalan. Kalau jalan sudah penuh dengan pohon, cari lahan yang lain, misalnya terminal 😀  Salah satu anak perusahaan Toyota di Indonesia mempunyai program penanaman pohon di daerah Jawa Tengah. Saya lupa nama daerahnya tetapi kegiatan seperti ini bisa dibuat sebagai kegiatan antar sekolah.

2. Program sekolah hijau. Setiap anak hendaknya mempunyai sebuah pohon/tanaman yang harus dirawatnya hingga tamat sekolah. Kalau halaman sekolah sempit, buatlah kebun bertingkat atau dalam pot-pot kaleng. Tentunya jika siswa menanam tanaman yang umurnya pendek, dia diperbolehkan setiap kali mengganti tanamannya setelah panen. Kegiatan tanam menanam ini tidak akan menjadi menarik kalau cuma sekedar menyiramnya setiap hari, karena itu adakanlah forum green life, berupa presentasi atau ceramah/diskusi dari siswa untuk siswa tentang tanaman yang dipeliharanya. Kegiatan ini akan menanamkan minat baru kepada mereka.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menjadi lebih senang tinggal di bumi ini, dan tidak perlu mencari kehidupan baru yang lebih sulit di planet Mars 😀

Kuncinya hanya : Kerjakan dan jangan terlalu banyak mikir  😀

Iklan
  1. mm.. dipikir dulu deh ni! 😀

  2. yaa….yaa…yaaaa…
    langkah-langkah sangat mencerahkan berikut
    alasan sangat pas serta ulasan pembelajaran dalam+
    nyata di angankan kemudian di resapi & di wujudkan
    oleh kaum pemerhati & akademikus pencinta lingkungan

    Mbak Murni matur nuwun sanget,
    itu yang selama ini kucari & kini kudapati,
    pembelajaran lingkungan di (jepang, semoga)
    menginspirasi warga negara indonesia……
    apa ini pemenuhan janji Anda atas apa ku pinta?
    semoga … betapa senangnya diri ini

  3. Assalamu’alaikum Mbak Murni…
    Maaf benarkah ini mbak Murni yg th 2009 haji bersama Dian (nurahardian) dr Osaka?…kalo iya…subhanalloh…saya yayuk Mbak…temen Dian yg waktu itu kita ketemu di masj haram. Mbak…tulisan ini sejalan dengan maraknya sekolah alam di Indonesia. Namun saya mau tanya…cara memadukan kurikulum dari diknas dengan alam sebagai media pembelajaran. Jadi kita berharap tuntutan dr diknas juga pembelajaran dg alam bisa sejalan, bagaimana ya?…terus pendidikan di Jepang utk SD apakah berbasis seperti ini?…jazakillah
    Wassalam

  4. wa alaikum salam warahmatullah,

    Ya, saya Murni, Mbak. Gimana kabarnya ?
    Kurikulum di Indonesia skrg (KTSP) sdh menekankan perlunya pembelajaran yg menyenangkan dan lebih membumi atau merefleksikan kehidupan sehari2, lingkungan. Tinggal guru2 yg perlu berlatih melaksanakan ini.Sekalipun akan tetap susah krn ada tuntutan UN. Tp bisa diusahakan agar pembelajaran lebih membumi.
    Caranya : Prinsipnya jangan terpaku pd kurikulum,
    tapi coba bebaskan cara berfikir sedikit untuk lebih berkembang.
    Misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, secara sederhana ketika guru mengenalkan cara membaca atau membuat kalimat, anak-anak SD dapat diajak berkeliling kota dan belajar membaca tulisan-tulisan pengumuman, nama2 jalan di kota, dll (ini bisa dijadikan PR jk tak ada waktu membahasnya di rumah).
    Jk ada kesempatan keluar jl2, anak2 sekaligus bisa belajar masalah sosial, kedisiplinan di dlam masyarakat.Anak-anak Jepang biasanya diajari cara menyeberang jalan, adab berkereta spt ini, krn ada ensoukai (kegiatan jalan2 keliling desa/kota sekitar lokasi sekolah).
    Pelajaran matematika, misalnya ukur mengukur, jangan takut2 mengajak anak2 ke halaman sekolah, mengukur lapangan basket, lap. bermain, luasan tt. Pelajaran biologi, sebelum mengajrkan anak ttg jenis2 tumbuhan, ajak dulu ke luar untuk mengenali semua jenis pohon, bunga yg ada di halaman sekolah. Ya, tentu saja,gurunya harus tau lebih dulu nama2 tsb. Setelah anak2 mengetahui keragaman krn melihat langsung, pembelajaran ttg jenis2 daun, jenis2 batang, jenis2 akar, komponen bunga akan lebih gampang, sebab mrk sudah melihatnya.
    Dlm silabus yg disusun, guru hrs menyelipkan jam tt untuk mengajak anak ke luar kelas.
    Ketika jam istirahat tiba, biasanya di Indonesia guru pun ikut beristirahat di ruang guru, anak2 makan atau menghabiskan waktu krn kepenatan belajar di kelas.Untuk anak2 SD biasakan mereka mempunyai “peliharaan atau tanggung jawab” di sekolah, misalnya sept saya uraikan di atas, setiap anak punya tanaman amatan. Percayakan anak sebuah tanggung jawab dan katakan silakan dikerjakan pas jam istirahat, jam sebelum belajar di pagi hari, atau jam sebelum pulang.
    Masalah kebersihan di sekolah2 di Indonesia umumnya dikerjakan oleh petugas kebersihan. Pak Bon semestinya mengerjakan yg besar2 dan sulit dikerjakan anak, sementara tugas lain, spt menyapu kelas, menghapus papan tulis, melap meja2 belajar, melap kaca jendela adalah tugas anak2. Termasuk menyirami tanaman.

    Saya kurang setuju dg adanya istilah sekolah alam, sebab semua sekolah seharusnya dg kurikulum standar yg sama semestinya bisa mengembangkan pengajaran yg membumi.
    Jk di Jepang bisa, Indonesia pasti juga bisa, mengembangkan sekolah yg tetap mengikuti standar kurnas, tetapi dg pembelajaran yg lebih menyenangkan dan membumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: