murniramli

Bahasa Jepang prokem

In Serba-Serbi Jepang on Desember 31, 2008 at 10:24 am

Suhu sudah mulai drop di Nagoya. Setiap hari malasnya bukan main, karena kampus sepi, dan naik kereta juga tidak perlu berlari karena penumpang sedikit saja.

Menjelang tahun baru, saya masih punya tanggungan kerja, jadi terpaksa tetap harus rajin sementara orang-orang sudah mengepak ransel untuk pergi berlibur. Saat menunggu di platform sebuah stasiun di kota Toyota, tiba-tiba datang seorang wanita yang dari wajah dan penampilannya, kelihatan kalau dia agak lain dengan wanita normal. Ya, memang demikian, sebab selanjutnya dia bicara sendiri,termasuk berbicara kepada burung merpati yang banyak beterbangan di peron, mencari remah-remah. Ucapnya begini, “Ishi o taberu… oishi kai ?” (石を食べる、美味しいかい)= “makan batu emangnya enak ?”

Kalimatnya kedengaran indah di telinga saya.

Sorenya di kampus, seorang teman saya yang menggelari saya dengan, mane shiteiru hito (si tukang tiru orang), karena saya gemar sekali bercerita sambil memperagakan gaya bicara dan tingkah laku orang tersebut, menyebutkan sebuah kalimat dengan menggunakan model yang sama :
“Anta wakaru kai” (あなたはわかるかい)yang artinya, “kamu ngerti ngga sih”

Sebenarnya apa arti “kai” (かい) dalam kalimat tersebut?

Dalam ungkapan bahasa Jepang yang lebih baik, kita akan mengatakan seperti ini : Ishi o taberu to oishii nan desuka?. Atau, yang lebih rendah kehalusannya  :Ishi o taberu to oishii nano?, atau bisa juga : Ishi o taberu to oishii ?

Kalau sering menonton TV, atau mendengar percakapan anak-anak SMA maka makin banyak kosa kata prokem yang akan kita dengar 🙂

Misalnya kata いかない(ikanai) yang artinya “tidak pergi”, biasanya akan mereka singkat menjadi, “Ikan”. Atau kata “wakaranai”, (=tidak mengerti)menjadi “wakkan” atau “wakkanne”.

Orang Nagoya terkenal dengan Nagoya ben (dialog Nagoya), misalnya penggunaan kata “wa” di akhir kalimat, あと電話するわ(ato denwa suru wa) yang artinya “nanti saya telepon”. Saya kadang-kadang menggunakan kata ini dalam pembicaraan dengan teman-teman Jepang atau sesama foreigner, dan mereka pasti tertawa mendengar gaya saya mengucapkannya, karena persis sekali dengan orang Nagoya kebanyakan hehehe…

Atau orang Nagano yang selalu mengucapkan akhiran “na”, misalnya “Kimi ga wakatteru na” (Kamu ngerti ya). Ini juga menurut saya indah.

Satu lagi yang menarik adalah yang membedakan antara gaya maskulin/macho dan gaya feminin dalam berbicara, terutama saat mengucapkan salam dan terima kasih. Sebagai contoh, wanita akan mengucapkan, おはよございます(ohayou gozaimasu) secara lengkap dan pengucapan yang jelas, tetapi laki-laki akan mengatakannya dengan cepat, “Ohayas”, atau untuk kata ありがとうございます(arigatou gozaimasu), laki-laki akan mengatakannya dengan cepat sehingga terdengar seperti, “Asas”

Saya sering meniru gaya-gaya seperti ini dengan teman-teman di ruang belajar, dan mereka pasti terpingkal-pingkal, kalau saya mulai kumat. Sebenarnya ada seorang murid Bahasa Indonesia saya,seorang Ibu yang berumur 46 tahun sering mengajari saya gaya bicara seperti ini, karena dia punya anak SMA 😀

Catatan : Dilarang keras menggunakan bahasa prokem tersebut kepada guru atau orang tua, bisa diceramahi baba-baba (bibi/nenek cerewet) 😀

Iklan
  1. Saya kurang ngerti soal Nagoya-ben, walaupun kosa kata prokem Nagoya-ben jauh lebih sederhana dibanding Kansai-ben yang njelimet.

    Saya cuma mau tanya soal penggunaan わ – wa diakhir kalimat. Setahu saya orang2 Jepang banyak pake wa diakhir kalimat, bukan hanya di Nagoya. Wa biasanya refleksi feminin dari si pembicara seperti halnya dengan menggunakan kata かしら – kashira. Apa di Nagoya, pria juga sering mengucapkan akhiran wa? Hehehe… bisa2 ntar disangka banci.

    Ohayo gozaimasu dipersingkat jadi ほす – hosu oleh laki-laki. Lebih singkat dari ohayosu.

  2. ya, kadang-kadang ada juga laki2 yg mengucapkan wa

    dan sebenarnya tdk ada ketetapan jelas ttg itu, bhw dia hanya u perempuan atau laki2.
    kata kashira juga sering dipakai oleh wanita.

  3. Terus terang saja selama tinggal di Jepang saya belum pernah mendengar lelaki yang bilang kashira (bukan kashira yg artinya boss)baik langsung maupun acara TV, paling bilang kamo(shirenai). Yang bilang kashira setahu saya kalau tidak perempuan pasti okama-bencong (saya konfirmasi lg sama org Jepang). Pernah nonton acara TV yang ada si banci Kaba-chan nggak? Dia banyak banget pake wa dan kashira (pengukuhan atas kefemininan gendernya)

    Kalau soal ketentuan tertulis lewat bunpo atau bunsho memang tidak ada, karena kata2 ini lebih untuk pemakaian sehari-hari (seperti yang anda uraikan diatas)

    Wah unik juga yah kalau ada lelaki bukan bencong ngomong pake wa. Bisa2 kalau dipakai didaerah lain bakalan disangka transeksual nih 😀

  4. huwaduh….maap.
    Tadi menulis komentarnya buru2 sehingga ngga sempet dicek lagi apa yg ditulis.
    sy koreksi komentar sy :
    kata kashira memang dipakai oleh wanita, bukan laki2.
    kata wa kadang-kdang saya dengar dipakai oleh manajer tempat saya bekerja dulu, beliau orang Nagano, tp tinggal di Nagoya.Beliau lelaki tulen 😀
    Anggapan transeksual kalau dipakai di daerah lain…wah sy ndak tau itu (belum pernah ngecek).

  5. ooo gtu toh…mau mastiin aja klo kta rashi ntu bs d pke oleh cwe&cwo kn?pgn tau jg dong kta2 apa aja yg boleh d pke ama cwo tp g boleh d pke m cwe am kbliknnya, arigatou

  6. Konyol^^ tpi emang kaya yg enak d dengar.nah utk d indo ini anak” muda sering menyebutkan moment berkumpul,main bareng itu dgn ‘nongkrong’,atau ‘kongkow’..buat d jepang sndiri bgmn?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: