murniramli

Cara Jepang Kenalkan Sains kepada Orang Muda

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Tulisan media on Januari 3, 2009 at 2:46 am

MURNI RAMLI,
Kandidat Doktor Graduate School of Education & Human Development,
Universitas Nagoya Jepang

Artikel di Tribun Jabar , 27 Oktober 2008

LAYAR informasi milik Nagoya University yang dipasang di dekat pintu tiket stasiun Nagoyadaigaku sebulanan ini menampilkan tiga wajah Nobelist. Mereka adalah Prof Toshihide Masukawa dan Prof Makoto Kobayashi, peraih Nobel Fisika 2008 yang keduanya lulusan Fakultas Science, Nagoya University, masing-masing pada tahun 1962 dan 1972, dan seorang lagi peraih Nobel Kimia, yaitu Prof Osamu Shimomura, yang juga meraih gelar PhD-nya pada fakultas yang sama, bahkan sempat menjadi associate professor di almamaternya Nagoya University sejak lama dikenal sebagai pusat sains dan teknologi di wilayah Jepang Tengah. Pada tahun 2001, Prof Ryouji Noyori, peneliti di Nagoya University, juga meraih Nobel di bidang kimia. Beliau menghadiahkan sebagian besar hadiah yang diperolehnya untuk membangun gedung Noyori Conference Hall di Nagoya University, yang di dalamnya dilengkapi panel-panel untuk memahami seluk-beluk ilmu kimia, termasuk temuan Noyori, yaitu asymmetric molecular catalysis.

Koran Mainichi beberapa saat setelah pengumuman Nobel melaporkan kegembiraan warga Nagoya, dan wartawan mendatangi SMP dan SMA Prof Masukawa dan mewawancarai kepala sekolah beserta siswa-siswa. Para siswa menyatakan kekaguman mereka dan bertekad untuk menekuni sains. Keseharian para Nobelist dan hasil penemuan mereka disajikan di dalam artikel koran dan program TV yang menarik.

Kalau dicermati, minat para Nobelist terhadap sains muncul dalam fase yang berbeda. Prof Ryoji Noyori terinspirasi oleh ayahnya, seorang peneliti plastik dan fiber di sebuah perusahaan kimia. Rumah Noyori dipenuhi oleh jurnal-jurnal ilmiah, plastik, dan fiber yang menjadi bahan pekerjaan ayahnya. Saat ia berumur 12 tahun, ayahnya mengajaknya menghadiri sebuah seminar tentang nilon yang diselenggarakan oleh DuPont. Noyori kecil menjadi sangat terpukau dengan kimia yang berperan banyak dalam mengubah nasib manusia sejak saat itu. Pelajaran kimia yang diperolehnya di SMP dan SMA melalui class work (sanggyou, semacam praktik di industri) memesonanya.

Shimomura justru baru tertarik kepada sains saat menjadi mahasiswa. Ledakan bom di Nagasaki pada PD II menyebabkan penglihatannya terganggu sejak kecil, dan karena kondisi perang, Shimomura berangan-angan untuk menjadi desainer pesawat. Studinya di Nagoya University telah membawanya untuk berkenalan dengan Prof Yoshimasa Hirata (juga menjadi pembimbing Prof Noyori), yang menugasinya untuk meneliti protein pada umi-hotaru (Vargula hilgendorfii).

Kemajuan sains di Jepang tidaklah mengherankan jika kita melihat anggaran  pemerintah yang dialokasikan untuk pengembangan sains dan teknologi sebesar 16,2 persen dari total anggaran. Terlepas dari penggunaan sebagian dana untuk membangun banyak museum sains yang dikritisi telah menghabiskan dana pendidikan, sementara keuntungannya tidak berarti bagi warga, anggaran sains dan teknologi di Jepang tergolong sangat tinggi.

Pembaharuan sains di tingkat pendidikan dasar dan menengah terjadi tatkala Prof Noyori menjadi anggota Komite Reformasi Pendidikan Jepang. Noyori memicu lahirnya kebijakan super science project, berupa pengayaan materi belajar sains dan penguatan kegiatan eksperimen di sekolah.

Mencetak Nobelist di Jepang bukanlah agenda reformasi pendidikan di Jepang, tetapi mendorong kecintaan kepada sains dan memfasilitasi ilmuwan-ilmuwan muda di universitas untuk menemukan hal-hal baru, adalah tujuan utama proyek sains di Jepang. Pada level pendidikan dasar dan menengah, guru-guru sains adalah guru bersertifikat yang terjamin keilmuan, kompetensi, dan kecintaannya kepada pengembangan ilmu.
Tugas guru pun ditunjang dengan sarana praktikum dan literatur sains yang memadai. Bahasa Inggris sebagai bahasa sains internasional sangat memberatkan orang Jepang, oleh karena itu diciptakan terminologi sains dan teknologi dalam bahasa Jepang dan penerjemahan literatur sains ke dalam bahasa Jepang berlangsung sangat intensif. (*)

dari : tribunjabar.co.id

Iklan
  1. “Bahasa Inggris sebagai bahasa sains internasional sangat memberatkan orang Jepang, oleh karena itu diciptakan terminologi sains dan teknologi dalam bahasa Jepang dan penerjemahan literatur sains ke dalam bahasa Jepang berlangsung sangat intensif.”

    Kalimat ibu diatas benar2 tepat. Saya sendiri mengalaminya ketika berada didalam ruang kuliah. Bayangkan saja istilah2 material science yang saya hapal baik dalam bhs Inggris maupun Indonesia tidak berguna karena hampir semuanya digunakan dalam bahasa Jepang dengan huruf kanji. Sangat jarang yang ditulis dalam huruf katakana (yang ini lebih gampang ditebak artinya).

    Tapi yang membuat saya salut adalah bentuk terjemahan itu sendiri membuat orang Jepang jauh lebih mengerti secara mendalam dari pada kebanyakan orang Indonesia yang menggunakan istilah bahasa Inggris yang “diIndonesiakan”. Dan yang pasti hampir seluruh buku2 sains penting yang ada, saya bisa menemukannya dalam bahasa Jepang. Malah kadang kala buku teks keluaran terbarupun dalam hitungan beberapa bulan sudah tersedia terjemahannya.

    (saya berandai-andai hal serupa terjadi di Indonesia)

    • @yusahrizal : ya, barangkali salah satu yg harus segera dilakukan di Indonesia adlh menterjemahkan sebanyak2nya buku sains. Sayangnya yg lebih banyak diterjemahkan sekarang adlh buku2 bisnis, manajemen, cara mudah dapet duit 😀 , novel.
      Di IPB dulu ada buku pegangan baku plant breeding yg diterjemahkan ke Bhs Indonesia, tetapi sayang terjemahannya lebih sulit dipahami drpd bahasa Inggrisnya 😀

  2. Hiks… Di Indosdm.com saya dan beberapa kontributor berusaha meng-Indonesia-kan berbagai literatur tentang pengelolaan SDM, tapi gak optimal, karena ternyata sangat sedikit dari orang Indonesia yang bersedia berbagi (seperti Mbak Murni). Kebanyakan orang kita lebih suka jadi penerima/pembaca saja (walau itupun jauh lebih baik dari pada tidak dua-duanya)

    Jadinya saya pingin lebih tahu bagaimana cara orang jepang mengelola tersedianya setiap literatur sain, manajemen, termasuk juga bisnis dalam bahasa mereka. Apakah mereka punya biro khusus untuk itu yagn dikelola pemerintah, ataukah dikerjakan oleh perusahaan swasta? ataukah secara beramai-ramai lewat berbagai komunitas, lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) , atau bagaimana ya mbak Murni?

    Dari awal dulu sekali (tahun 2001) saya menginginkan lewat komunitas terbuka, terutama di dunia maya, tersedia berbagai literatur untuk bidang manajemen SDM yang memadai dari segi mutu namun bisa diakses dan tanpa biaya. Ini mungkin membantu bangsa kita juga untuk bisa mandiri dalam mengelola manusia , termasuk proses belajarnya, sehingga bisa benar-benar jadi asset bangsa yang bisa diandalkan. Kaya di Jepang deh 
.

    Mungkin sekarang masih dalam mimpi
.hiks


  3. […] Artikel asli dari tulisan ini dan tulisan menarik lainnya tentang dunia pendidikan di Jepang dapat juga di akses melalui link: Cara Jepang Kenalkan Sains kepada Orang Muda […]

  4. Mbak Murni,

    Hebat Euy…Tulisan ini mendapat hampir 450 unique page views saat pertama kali dimuat di http://indosdm.com/cara-jepang-kenalkan-sains-kepada-orang-muda , mulai dari tanggal 24/1/09 s.d. tahun baru imlek. Rekor tercepat sebagai artikel yang dilihat pada Indosdm.com , sampai saat ini.

    Makasih ya Mbak

    Avis

  5. Assalammualaikum Mbak Murni,
    Tulisan mbak murni sangat baik. Saya setuju dengan tulisan mbak Murni bahwa pengembangan sains di Jepang lebih dititikberatkan kepada eksperimental sains. Selain itu juga kerja keras dan semangat pantang menyerah juga menunjang kemajuan pendidikan di Jepang. Saya juga banyak melihat translasi buku-buku teks sains bahasa Inggris kedalam bahasa Jepang banyak dilakukan oleh Professor di Nagoya University, bahkan di Universitas lainnya di Jepang. Alhasil translasi sains dari barat ke Jepang menjadi lebih cepat dan menstimulasi penelitian didalam negeri Jepang sendiri. Jadi kapan Indonesia bisa seperti ini…?

    Wassalam,
    Andi

  6. wa alaikum salam,
    Wah Pak Andi apa kabar ?
    terima kasih sudah berkunjung.
    Ya, ditunggu buku-buku sains terjemahan Pak Andi dalam Bahasa Indonesia 😀

  7. hm… iah.. jhal yang sama juga saya alami…
    dalam chemical enginering.. terjemahan B. Indonesia justru membuat saya binggung, tapi B. Ing juga menurunkan minat saya untuk membaca…]

  8. […] « Sebelumnya Televisi yang Memihak kepada Guru Januari 3, 2009 AfterCara Jepang Kenalkan Sains kepada Orang Muda Januari 3, 2009 » […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: