murniramli

Pendidikan Moral Orang Jepang

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Tulisan media on Januari 3, 2009 at 2:49 am

Murni Ramli

Mahasiswa Program Doktor Graduate School of Education and Human Development,Nagoya University, Jepang

Artikel di Tribun Jabar, 28 Juli 2008

Sebuah poster di kereta bawah tanah di Nagoya, Jepang mengilustrasikan ketidaksopanan sebagai penumpang kereta. Seorang siswa SMA digambarkan duduk dengan posisi kaki mengangkang sehingga mengambil tempat yang lebar, dan tas besarnya diletakkan di depan, menghalangi orang untuk berdiri bebas. Gambar lain tentang seorang gadis yang berbicara melalui telepon genggam dengan suara keras, sehingga mengganggu penumpang lain.

Tidak hanya poster, kendaraan umum di Jepang sangat terkenal dengan sarat peringatan dan ajakan untuk mematuhi norma-norma, misalnya larangan untuk menelepon, berbicara keras, dan beberapa tindakan yang mengganggu.

Ketika datang pertama kali ke Jepang, saya berdecak kagum dengan kerapihan, ketertiban dan kedisiplinan warga Jepang mengantri masuk ke dalam kereta. Tidak ada yang berebut, bahkan anak kecil pun berdiri sabar menunggu giliran. Dari mana kedisiplinan itu dibangun ? Menjawab pertanyaan ini tidaklah gampang jika analisa hanya didasarkan pada peraturan hukum, pun tidak bisa sekedar dilihat sebagai wacana sosial politik. Secara teoritis dan empirik, dapat dikatakan bahwa kedisiplinan itu erat kaitannya dengan pendidikan.

Bagaimana sekolah-sekolah di Jepang mengajarkan kedisiplinan dapat kita cermati melalui pendidikan moralnya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budhha, tetapi menariknya kedua agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib, seperti halnya pelajaran agama di Indonesia. Namun nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Pendidikan moral di dalam bahasa Jepang disebut ‘doutokukyouiku‘. Kata doutoku berarti moral dan kyouiku berarti pendidikan. Kata ‘doutoku‘ terdiri dari dua kata yaitu ‘dou‘ yang berarti jalan dan kata ‘toku‘ yang berarti virtue atau kebaikan. Penggunaan kata ‘dou‘ dalam terminologi Jepang banyak sekali, misalnya judou, kendou, akidou (olahraga tradisional Jepang), shodou (kaligrafi), sadou (tradisi minum teh) yang dalam pemahaman orang Jepang memerlukan ketekunan untuk mencapai taraf tertinggi. Demikian pula moral atau kebaikan, memerlukan ketekunan untuk menemukan ‘jalan’ mencapainya.

Karenanya, pendidikan moral di sekolah-sekolah di Jepang tidak diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran.  Secara khusus wali kelas bertanggung jawab untuk mendiskusikan aturan kelas, aturan bermain bersama, atau hubungan kerjasama antaranggota kelas dalam 35 jam setiap tahun di SD dan SMP. Dalam pelajaran lain seperti seikatsuka atau pendidikan tentang kehidupan sehari-hari, siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktekkannya. Wali kelas juga menyampaikan kasus pelanggaran, dan mengajak siswa untuk mendiskusikan pemecahannya. Pendidikan moral di SMA selanjutnya menjadi pendidikan kewarganegaraan. Pembekalan prinsip dasar hidup yang kuat di masa pendidikan dasar inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.

Ketika berbicara tentang sains, yang muncul di kepala kita adalah teori dan rumus yang harus dihafalkan. Demikian pula ketika kita mendengar istilah pendidikan sosial, maka imajinasi akan mengerucut pada sejumlah uraian panjang tentang konsep hubungan manusia dengan makhluk, dan saat kita berbicara tentang pendidikan agama, maka otomatis kita merujuk kepada hubungan manusia dengan Tuhannya.

Pola pemikiran yang seperti itu yang membuat kita terjebak dan memisahkan ranah pembicaraan sains dan moral, sains dan agama, sosial dan sains, dan sebagainya, padahal sebenarnya pembelajaran dengan menyatukan kesemua konsep akan menciptakan pemahaman yang mendalam.

Kegiatan mempelajari pohon dalam pelajaran IPA di sebuah SD di Jepang menggambarkan bahwa siswa diarahkan tidak saja untuk memahami pohon secara ilmiah, tetapi mereka diajak pula untuk menempatkan pohon sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini siswa akan peduli dengan kondisi pohon di sekitarnya. Sebagai dampaknya, tidak ada penebangan liar di Jepang. Ketika mengajarkan tentang dinamika air, guru tidak saja mengajarkan konsep bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah, atau air mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan energi, tetapi empati siswa untuk menjaga kebersihan sumber-sumber air dan ekosistemnya adalah bentuk pembelajaran yang melengkapi inti pembelajaran sains.

Jika ingin mencontoh Jepang, pendidikan moral di Indonesia sudah saatnya beralih dari pendidikan teori kepada pendidikan praktis.

Iklan
  1. seyogyanya belajar demikian adanya.

    belajar sesuatu itu ada 3 hal, versinya bermacam-2
    di imani + di amini + di jalani
    di awali + di jalani+ di akhiri
    dikenali + diajari + dilakukan
    dst…..

    jika dipisah-pisahkan = ajaran sekuler atau
    boleh dibilang pintu awalan menuju munafiqun
    tuntunan untuk dilakukan, bukan untuk tontonan
    tontonan buat dilihat mata,tak cocog u/tuntunan

    mempelajari tentang sesuatu, karna terlihat oleh mata
    menarik hati dan memerintahkan pikiran untuk mengamati
    usai di rekam, tentunya ingin dicoba oleh anggota badan
    karna dorongan karsa ingin meniru/melakukan hal yg. sama
    diulangi karena serasa nyaman dan telah menjadi kebutuhan
    maka dilakukan dengan sukarela [kebiasaan baru] dsebut budaya

    belajar tentang [mengetahui sesuatu] moral,
    seperti yang dialami di sekolah-2 selama ini, diberitahukan
    rambu-2 gak boleh ini/itu, harus melakukan ini dan itu plus
    sanksi hukumnya diberitahu/dkabarkan, yang harus diketahui,
    tanpa harus dilakukan! = tuntunan menjadi tontonan utowo
    dituturi tanpo dilakoni or no action talk only, NATOlah.
    [learning how to think]

    belajar [melakukan] moral,
    usai dipahami, tahap berikutnya adalah dicoba melakukan/ mempraktekkan pemahamannya. boleh jadi dengan di bimbingan / pengawasan oleh sang guru dituturi banjur terus dilakoni atau usai dapat teori langsung dipraktekkan or [learning how to do]

    belajar [menjadi] bermoral,
    ini seringkali menjadi kesenjangan (tak disadari, ibu akar segala masalah {pendidikan, diantaranya}) menjadikan moral lebur tak terpisahkan dalam dirinya atau lebih pas adalah fatwa pujangga W.R. Soepratman alm. bangunlah JIWAnya, bangunlah BADANnya untuk Indonesia Raya…,
    knapa tidak kebalik,saja? badan itu pesuruh jiwa, bukan sebaliknya
    nanti spt. ini …tontonan menjadi tuntunan
    bisa ngelakoni terus dadi watak atau dinikmati lantas jadi perilaku baru dibiasakan or [learning to be]

    jadi seting pola pendidikan berlangsung selama ini menjadikan kita
    dibiasakan ngomong, menjadi gak biasa kalau mampu menjalani…….
    dan sungguh luar biasa seandainya menjadi sejiwa/mendarah daging

    dalam dunia pendidikan teknik, terlebih mengerikan lagi adanya
    prinsip pendidikan teknik {riil, kalau abstrak/imaginer = sastra}
    karena media praktek mahal sekali, maka pembelajaran berlangsung
    ya ilmu di “angan-angan”/”awang-awangan” apa bedanya (sedikit) dengan pendidikan Sastra, gak butuh kelas/ppan tulis, sekadar butuh mengembara-& meliar-kan nalar, mengambangkan imaginasi/giner

    desakan u/kuasai teknologi…biar tak dibohongi, lantas apa daya?
    walau daya tak punya,masih ada upaya! barangkali ini keistimewaan bangsa indonesia dibanding bangsa jepang! inspirasi cerdas pepatah melayoe jadi modal alasan, Tak ada akar, rotanpun jadi!

    unggul dalam desain merancang bangun =abstrak, lemah dalam manufactur =perbuatan! seyognyanya indonesia-jepang bersaudara ya

  2. bener banget mba…aku ngerasain sendiri gmn pendidikan di indonesia selama 17 th dr tk sampe kuliah, kok tidak membuat aku kenal dg diriku sendiri…pendidikan hanya sebatas teori dan wacana, kurang tauladan dan praktek. katanya siapa yg kenal diri sendiri bakal kenal Tuhan-nya, but aku bersyukur banget skr, doa’ku terkabul, aku dapat pencerahan setelah baca bukunya kuantum ikhlas-nya bpk erbe sentanu…aku ngerasa suatu keajaiban yg gak aku dpt-in di manapun, sekalipun di masjid.. mungkin jaman itu aku kayaknya sedikit atheis, tp skr aku ‘mengangguk’ pada Allah SWT.. dg ikhlas…hatiku jadi bening spt wkt aku balita wkt aku duduk dekat jendela yg banyak cahaya hangat, dikelilingi malaikat2 dan Allah ada dimanapun kita berada… gila selama 30 tahun baru tau lagi arti dan rasanya ikhlas, persis seperti itu…padahal itu pelajaran agama berbuku2 dg point2 hapalan yg kalo diraport nilaiku 80, jd aku sedih aja berapa banyak org spt aku yg msh kering hatinya walau begitu banyak teori dan pendidikan yg kita dapat dr sejak kecil…dg gelar2 dan jabatan2 yg aduhai…malah aku lagi prihatin dg anakku yg sekolah di sekolah negeri kok msh sama pelajaran agamanya spt aku dulu..mba murni sbg pendidik, aku doa’kan spy bisa memberikan pendidikan hati buat anak2 didik mba kelak….

  3. Bu Betty, tulisan ttg makanan tiruan dari plastik sudah saya buat lo di sini https://murniramli.wordpress.com/2008/12/27/sample-makanan-unik-di-jepang/

    jadi lunas hutang saya 😀

  4. ass, aku sepakat dengan pernyataan pada artikel itu. metode pembelajaran di negeri kita ini memang belum sepenuhnya bersifat horisontal,masih bersifat vertikal, masih transfer materi dari guru kepada siswa. semisal, kita di minta untuk menggambar bebek, pasti kepalanya ada disebelah kiri, atw menggambar pemandangan pasti gambarnya 2 gunung dengan hamparan sawah dibawahnya dengan pematang yang melintang ditengah-tengah. itu artinya materi pendidikan yang kita enyam masih merupakan konsep. tetapi, perkembangan pendidikan di Indonesia sekarang udah lebih baik dari yang sebelumnya. sekarang udah banyak yang yang mengembangkan materi tidak terbatas pada komunikasi satu arah,

    murni : alhamdulillah jika sdh ada kemajuan

  5. […] Murni Ramli Mahasiswa Program Doktor Graduate School of Education and Human Development,Nagoya University, […]

  6. 🙂 assalamualaikum mb murny..
    sebelumnya saya ucapkan terimakasih bnyak ya,stelah membaca articel mb,saya menjadi semakin optimis u meraih cita2 saya untuk menjadi seorang guru..
    secara tidak langsung saya merasa dpt motifasi,n tentunya wawasan luas untuk saya jadikan motifator dlm meraih cita_cita saya.. ^_^
    thank you very much n good luch to all ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: