murniramli

Doktor yang berjiwa doktor

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Renungan on Januari 9, 2009 at 11:30 am

Pak Tuswadi peserta TT di Aichi Kyouiku Daigaku tanpa sadar telah memberikan saya pelajaran yang berharga kemarin tentang sesuatu yang sangat dalam. Saat saya berbincang dengan seorang kawan yang hendak masuk program doktor, Pak Tuswadi tekun mendengarkan dan mencatat di buku kecilnya apa-apa yang kami diskusikan. Saya kemudian bercanda, kenapa menulis semuanya seperti wartawan yang menginterview saya ?  😀
“Ya, supaya saya juga bisa belajar”, katanya. Lalu, kalimat selanjutnya, “Benar kata ibu saya : kamu itu meskipun S2 tapi pikiranmu masih S1, meskipun S3 tapi pikiranmu masih S1, ngga ada gunanya !”, begitu kira-kira yang saya ingat.

Sepanjang perjalanan di dalam kereta saya terus terngiang-ngiang ucapan ibunya Pak Tuswadi. Hari inipun saya tepekur lama dan tiba-tiba saya berkata kepada  teman Cina saya yang sedang menulis thesisnya, “doktor itu bukan sekedar belajar di level sesudah S2, tapi dia harus mempunyai pemikiran dan jiwa doktor !”

Teman saya tiba-tiba berhenti mengetik dan menatap saya.Dia selalu begitu kalau saya secara tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang menurutnya lain daripada yang lain.

“Maksudnya apa ?”, tanyanya.Lalu meluncurlah kalimat hasil perenungan saya, yang sebenarnya seperti saya ucapkan kepada diri pribadi.

Orang-orang yang sudah  menjadi doktor bukan sekedar kepandaiannya layak diakui sebagai doktor tapi pekertinya harus selevel doktor. Mereka boleh saja paham in deep terhadap ilmunya dan kuat argumentasinya, tetapi kalau penghargaan dan perilakunya kepada sesama manusia tidak setinggi ilmunya, maka dia tidak layak disebut doktor.

Teman saya terdiam dan menatap saya yang sedang sibuk menulis formulir part time dari universitas.”Jadi, menurutmu seperti apa doktor itu?”, tanyanya. Saya gelagapan. “Hmmm….seperti ine”, kata saya (Ine = padi). Seseorang yang bergelar doktor seharusnya seperti padi, yang semakin berisi semakin merunduk. Bukan tidak berani tampil, tapi dia harus merendah dan bersikap santun.

“Lalu, untuk apa orang harus menjadi doktor ?”, tiba-tiba dia bertanya lagi. Barangkali maksudnya, kalau cuma sekedar bisa bersikap santun kepada sesama, ngapain harus repot-repot ngambil program doktor, masuk sekolah kepribadian saja 😀

Saya lagi-lagi terdiam dan berusaha mencari jawaban atau lebih tepatnya bertanya kepada diri sendiri, hey…kenapa sih kamu capek-capek masuk program doktor ?

“Program doktor itu seperti sebutir nasi yang nempel di tapak kaki manusia. Kalau tidak diambil dia mengganggu langkah, tapi kalau diambil, dia tidak bisa/mau dimakan lagi” 足裏に付いた米粒 (ashi ura ni tsuita kome tsubu)(ini adalah peribahasa Jepang yang dituliskan oleh seorang member milis yang saya ikuti).Artinya, program doktor itu harus diambil oleh orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian, tetapi setelah mendapatkannya jangan harap mendapatkan uang lebih dari gelar itu. Yang kita dapatkan setelah mengambil program doktor adalah derajat kepahaman yang lebih tinggi tentang sebutir nasi yang menempel di kaki 😀

Saya tidak menolak kenyataan bahwa orang yang bergelar doktor akan lebih dihargai di kalangannya, tetapi bukankah penghargaan itu muncul karena aktivitas yang terkait dengan ilmu kedoktorannya ? Kalau cuma menolong  seorang nenek mengangkati belanjaannya, dia tidak dielu-elukan karena gelar doktornya. Tetapi apabila seorang doktor berpendapat tentang sesuatu karena ilmunya, maka dia diam-diam dikagumi.

Saya juga tidak menyalahkan pemerintah yang mengharuskan guru-guru  untuk memiliki gelar Sarjana, Master atau Doktor, agar tunjangannya sebagai guru bisa dicairkan. Dan saya juga sama sekali tidak menyalahkan orang-orang yang mengambil master atau doktor di bidang apa saja yang tujuannya untuk mendapatkan lebih banyak “proyek” (uang). Saya cuma tidak mau seperti itu.

Saya teringat pertanyaan Ueda Sensei ketika mewawancarai saya saat ujian masuk Doktor di Universitas Nagoya, “Murni san, apa yang ingin kamu lakukan setelah menjadi doktor ?”  Dengan polosnya saya menjawab, “Saya ingin menjadi kepala sekolah”  Sensei saya tersenyum, “Ii kouchou ni nareru you ni ” (Saya doakan kamu menjadi kepala sekolah yang baik). Sekarang Ueda Sensei sekaligus menjadi kepala sekolah di Sekolah Afiliasi SMP dan SMA Nagoya University (ini kewajiban bergilir bagi professor di fakultas pendidikan). Saat saya mulai menyetorkan hasil-hasil tulisan disertasi dan paper-paper, Ueda Sensei kembali bertanya, “Murni san, mada kouchou sensei ni naritai no” (Murni, masih mau menjadi kepala sekolah?) . Saya tersenyum, “Sensei, berat ya menjadi kepala sekolah ?” (Saya tanyakan itu karena sensei tidak banyak lagi mengerjakan penelitian setelah disibukkan dengan aktivitas kepala sekolah).”Taihen da yo” (ya berat dong), kata Ueda Sensei sambil tertawa.
“Sensei, saya mau menjadi peneliti saja ! Karena kalau menjadi kepala sekolah saya mungkin tidak bisa meneliti lagi, dan kalau menjadi peneliti, saya bisa membantu kepala sekolah,” saya berterus terang kepada Sensei.

Dan setelah mengatakan itu, saya kemudian menjadi malu kalau berkonsultasi dengan Ueda Sensei tentang disertasi dan tulisan-tulisan saya. Sebab ternyata saya adalah benih yang baru menggembung karena air dan gas, dan belum bekecambah !

Iklan
  1. Berkecambahnya adalah pas lulus doktor Bu Murni :).

    Setelah itu jadi tanaman utuh yang tumbuh, menjalar, dan berbuah memberi manfaat buat sekitarnya.

    murni : amin 🙂

  2. “Gelarmu boleh saja S1, tetapi otakmu harus Master. Gelarmu mungkin saja Master, namun otakmu wajib Doktor. Jangan sebaliknya, banyak orang dengan gelar tinggi-tinggi, isi otaknya tidak lebih dari anak lulusan Sekolah Menengah!” (nasehat ibu)

    Hikmahnya adalah PROSES belajar itulah yang akan menjadikan seseorang itu berisi; persis seperti padi, satu biji menghasilkan banyak benih karena dia berproses seiring irama bumi.

    Sayang banyak orang hanya FOKUS pada tercapainya GELAR tanpa banyak BERPROSES.

  3. Pak Tus, wah saya salah tangkap, maknanya jadi lain ya 😀
    tp ndak apa2,mirip2
    mestinya sy ikutan Pak Tus nyatet2, tp mungkin ngga sempet krn banyakan sy yang bicara 🙂

  4. Akhirnya… aku dapat juga jejakmu, Mbak Murni *seneng banget !!* Kita sekelas dulu waktu SMA kelas 1 dan sama-sama aktif di Pramuka. Do you remember me ?

  5. ya, sy inget. Ini Reni yg imut 😀
    Emailnya sdh dibales. Blognya ta taut yo

  6. aduh senengnya masih inget aku. oke ma kasih, aku juga mau add blog ini di link aku. thanks ya… jangan “ngilang” lagi ya ? hehehe… kapan-kapan kalau pulang hubungi aku ya ?

  7. Baca tulisan ini, saya jadi berbesar hati. Kesempatan saya untuk menjadi ‘doktor’ masih terbuka luas 🙂

    murni : maksudnya ikut sekolah kepribadian ? 😀

  8. Mbak Murni, tulisan sampyan bagus lho. Saya jadi teringat dengan teman-teman saya yang doktor, tapi berpikiran materialistis, persis kayak anak baru lulus SMA.
    Mak Murni saya boleh tanya ya? Kadang saya bingun juga nih… Sebagai ilmuwan, kita dituntut untuk publikasi (artinya menunjukkan karya kita pada orang lain, kalau tidak punya publikasi dianggap tidak punya karya), di sisi lain kalau berkarya itu kan harus ikhlas (tidak peduli orang lain tahu atau tidak). Lalu bagaimana seorang doktor itu semestinya?

  9. Pak Masduqi, terima kasih sdh berkunjung.
    Sy coba menjawab pertanyaan Bapak,tp ini pandangan subyektif sekali :
    Sebenarnya kepentingan untuk membuat publikasi adalah agar kita dapat berkomunikasi dg peneliti di bidang yg sama dg yg kita tekuni. Bukan u menunjukkan bahwa sy sudah berkarya lo !
    Dg adanya publikasi, orang2 yg mengembangkan ilmu tsb u kemaslahatan manusia akan semakin bergiat dan tidak sempit pandangannya. Untuk melakukan sebuah kemaslahatan saya pikir tdk bisa kita lakukan sendiri, tp perlu kita kabarkan kepada dunia,bhw sy sudah menemukan ini, bgm selanjutnya ? Apakah ada yg sependapat, ada yg menentang itu adalah hal yg wajar, tp kita sama-sama punya tujuan untuk membuat yg lebih baik.

    Keikhlasan di bidang ilmu termasuk yg Bapak sampaikan, tdk peduli org lain tahu atau tidak terus berkarya,terus beramal. tdk peduli digaji besar atau tidak, tp terus saja menekuninya. Tp perlu diingat bhw ada kewajiban moral orang berilmu u membagi ilmunya. Membagi ilmu bisa saja dilakukan dg langsung menerapkannya, memberikan kuliah, dan yg paling luas jangkauannya adalah membuat publikasi. Publikasi tentu saja bisa dalam wahana apa saja, buku, tulisan ilmiah di jurnal, artikel di koran, dll.

    Sebagai seorang peneliti, kita ingin mendapatkan masukan kritis agar apa yg kita kerjakan menjadi lebih baik, dan wahana untuk ini adalah melalui presentasi atau menulis dalam jurnal yg sesuai dg bidang kita, krn di situlah berkumpul pakar2nya.

    Mengenai penilaian bhw org yg tidak mempunyai publikasi dianggap tdk punya karya, dalam konteks ini publikasi hanyalah salah satu alat ukur yang dipakai pemerintah untuk memberikan reward kepada orang yang mendapatkan gaji dari pemerintah 😀

    Sy belum menjadi doktor, Pak jadi masih harus belajar menjadi doktor yang semestinya.

    Oya, satu hal ttg publikasi, beberapa jurnal agak sulit diakses online kecuali membayar uang langganan tt. Ini masalah untung rugi pengelola bersangkutan, tp tidak menguntungkan bagi penulis. Oleh karena itu, sy lebih cenderung jika memang telah diijinkan oleh pihak redaksi lebih baik mempublish tulisan2 ilmiah kita ke dalam blog yg bebas diakses siapa saja.
    Mempublish buku-buku/bacaan ilmiah secara free online adalah salah satu bentuk keikhlasan juga. Saya ingin memulai yg seperti ini, insya Allah

    Mohon maaf jika ada salah kata

  10. Sekedar iseng mbak Murni, karena saya juga sedang dalam proses ini (menapaki jenjang Doktor) hehehe
    Nenek saya yang buta huruf selalu bilang “ko engka mo weremu massikola dottoro ko becca mancaji tawu ko baco”
    Artinya secara ringkas adalah “Nak, kalo memang ada takdirmu, bersekolah lah sampai doktor, agar bisa jadi orang”…tapi tetap aja ya kiasan? Apakah menjadi “orang” itu harus bersekolah doktor? Tentu saja tidak, tetapi yang tersirat adalah jika ingin menjadi “orang” harus betul-betul bersungguh-sungguh mencari sampai akhir (kalo kata orang alim sampai mengerti hakikatnya), nah dalam proses pembelajaran, yang tertinggi kan level doktor. Artinya doktor identik dengan kesempurnaan, alias titik tertinggi tetapi juga titik nol karena kebijaksanaannya. Dalam perenungan “dottoro”, dapat diinterpretasikan sebagai “dari dot (titik) to road” dari titik awal ke sebuah jalan lurus agar bisa menjadi sebetul-betuknya “orang” (tawu tongeng)…Nah pertanyaan selanjutnya? seperti apakah tawu tongeng tersebut? Kita semua sudah pahamlah akan hal ini, tinggal kemauan ‘tuk melaksanakan hehehe
    Kalau kata Uncle Iroh dalam Avatar the last airbender: It is our choice…Itu aja mbak, sorry ada sedikit falsafah Bugisnya, level dottoro kan? hehehe

  11. u Pak Agustan :
    hehehe…pesan neneknya kok sama dg nenek saya.
    Berarti nenek2 di Bugis mungkin punya pandangan yg sama ttg makna dottoro.
    Cuma bedanya nenek saya menganggap dottoro itu sama dengan dokter (dokter penyakit manusia) 😀

    dottoro = dot to road…..ini toponimi ya ? 😀

  12. puncak akademisi itu gelar doktor, diuji kriteria akademi
    seseorang, seringkali diasumsi/harapan/harapkan masyarakat sejajar kematangan jiwa penyandangnya. {sesuai kriteria : bangunlah jiwanya bangunlah badannya,karena unsur PENDIDIKAN, bukan hanya pengajaran ; namun apa yang terjadi, terkadang tak sinonim dengan kematangan penjiwaan/kejiwaan penyandangnya, karna pola pembelajaran di dunia Barat, memisahkan antara kemampuan intelegensia otak dengan emosi moral agama, budi pekerti, sopan santun [sekuler]. Nantikan diajarkan/ les tersendiri dalam kelas-sekolah kepribadian! [lahan bisnis tersendiri, spt. [JRPs]

    konteks peribahasa merunduk bagai ilmu padi, [asal melayu] tak berlaku disini [di barat, logika dipuja, abaikan humanika],
    karena jerih payahnya, men”dongak”pun layak dilakukan.

    Berbeda dengan ajaran Timur menyatu-seimbangkan antara kepandaian otak-kecerdasan hati-kepintaran jiwa {pola kuno ini memang masih adakah…menjalani?, kali mungkin masih tersisa di pondok pesantren….}

    bagus ni tulisan mbak murni, mencoba memadukan mazhab timur-barat
    walau gak gampang, kadang satu melindas/melunturkan yang lainnya,
    andai kan melarut bukannya lebih indah, bukan?

    “Gelarmu boleh saja S1, tetapi otakmu harus Master. Gelarmu mungkin saja Master, namun otakmu wajib Doktor. Jangan sebaliknya, banyak orang dengan gelar tinggi-tinggi, isi otaknya tidak lebih dari anak lulusan Sekolah Menengah!” (nasehat ibu)

    Hikmahnya adalah PROSES belajar itulah yang akan menjadikan seseorang itu berisi; persis seperti padi, satu biji menghasilkan banyak benih karena dia berproses seiring irama bumi.

    Sayang banyak orang hanya FOKUS pada tercapainya GELAR tanpa banyak BERPROSES.

  13. Saya merasa sebagai anak sma, jalan pemikirannya lho. Malu saya kalo ngaku sebagai lulusan S1. Adik saya yang gak tamat sma bisa mandiri, menghidupi diri sendiri. Saya selama selama belasan tahun menggantungkan hidup sama majikan.

  14. tidak ada yang instan, semua melalui proses.
    TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3
    barang siapa yang malalui proses bagaikan padi ; semakin berisi semakin merunduk.

  15. huuummm… bnyk yg hrs sy drenungkn nih, bu mur… terima kasih…

    tp kalo saya ditanya sarjana yg berjiwa sarjana itu apa-> (jwbn sementara saya):
    sarjana yg mengerti ilmu bidangnya lalu mengamalkn/mbagikn ilmunya. bagi saya, ini jg sudah mjd ssuatu yg tdk mudah…
    smg sj bs dcapai oleh kami2 generasi penerus…

    barakallahufiyk ibu mur…

    • @ginkgo7 : ya, krn membaca komentar Mba/Mas Ginkgo7, saya jadi membaca lagi tulisan di atas, dan memang betul banyak yg harus direnungkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: