murniramli

RSBI vs sekolah Jepang

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on Januari 27, 2009 at 12:01 pm

Selama seminggu saya harus mendampingi rombongan kepsek dari Jateng berkunjung ke sekolah-sekolah di Jepang sebaga translator.

Saya tidak sempat menulis banyak di blog ini dan banyak komentar yang terabaikan, mohon maaf sebesarnya.

Kedatangan kepsek yang sebagian besar adalah kepsek Rintisan SMA/SMP bertaraf internasional bertujuan untuk menjajagi kerjasama dengan sekolah-sekolah di Jepang dalam bentuk sister school.

Saya pribadi berpendapat bahwa sister school bukan milik RSBI atau SBI semata, tetapi sekolah dengan embel-embel nama apapun bebas untuk melakukannya.

Saya mendapat kesan bahwa Kepsek yang datang  memang agak terbebani dengan keharusan untuk membentuk sister school tersebut sebagai salah satu syarat RSBI.

Salah satu konsep RSBI yaitu mengacu kepada standar negara-negara OECD, termasuk Jepang dianggap oleh sebagian pemikir Jepang sebagai konsep yang tidak jelas. Apalagi dengan keinginan untuk mendapatkan akreditasi dari badan khusus di Jepang tentang  status keinternasioanalan RSBI tersebut mendapat tanggapan yang sangat kritis karena tidak ada Badan Akreditasi Sekolah di Jepang atau lembaga akreditasi-akrediatasian di level pendidikan dasar dan menengah, sebagaimana yg dikehendaki oleh pengelola RSBI. Pun tidak ada kurikulum universitas semacam Cambridge yang bisa diadopsi dan dibeli hak patennya lalu lulusan RSBI diakui setara dengan lulusan-lulusan sekolah yang menerapkan sistem Cambridge.

Jepang sama sekali tidak mengenal istilah sekolah internasional maupun nasional. Menurut pandangan pakar pendidikan di sini, pendidikan bukanlah barang elit yang harus diberikan hanya kepada sebagian anak yang pandai saja. Tetapi pendidikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas yang sama. Memang mereka mengakui bahwa anak yang pandai peru difasilitasi secara lebih baik, tapi bukan dengan mendirikan sekolah berstandar internasional mengikuti standar negara lain.

Seorang prof Jepang menceritakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sama dengan kondisi Jepang di tahun 60an-70an, saat itu APK SD dan SMP di Jepang telah mencapai 95-97%, sementara APK SMA masih 50%. Yang dilakukan pemerintah Jepang bukanlah mendirikan sekolah unggul tetapi membangun sekolah-sekolah dengan fasilitas yang sama yang bisa mendidik anak-anak tanpa ada perbedaan. Yang karenanya dapat disaksikan fasilitas sekolah Jepang hampir sama dengan kualitas yang memadai proses pembelajaran.

Prof tersebut kemudian menanyakan mengapa Indonesia tidak mencoba untuk mempersiapkan pendidikan untuk semua warganya dengan kualitas yang sama seperti halnya Jepang ? Seandainya dana negara sedikit, dana itu harus dinikmati bersama oleh rakyat. Barangkali itu akan lebih baik bagi rakyat Indonesia, daripada membuat sekolah internasional.

Saya pribadi yang meneliti RSBI ini dari aspek latar belakang hukum dan penerapannya di lapang, sungguh sepakat dengan ide beliau. Dana yang disalurkan pemerintah untuk proyek ini sungguh besar semoga tidak menjadi sia-sia karena ketidakmatangan konsep yang kita punyai. Saya merasa agak sedih bahwa pada kenyataannya konsep RSBI hanya menjadi pembicaraan yang hanya dipahami oleh pembuat kebijakannya dan kepala sekolah di level pelaksana tidak memahami latar belakang pemikiran dan apa makna kata pendidikan berstandar bagi warga negara selain yang tertera di lembaran UU. Sedih sekali bahwa kepala sekolah ternyata belum diberi otonomi luas selain hanya menjadi pengikut kebijakan pusat.

Kunjungan ke sekolah-sekolah Jepang yang dilakukan oleh para kepsek mudah-mudahan menyadarkan kita bahwa sebuah sekolah yang menghasilkan lulusan yang baik di Jepang, ruang kelasnya masih berpapantuliskan papan tulis kayu,dengan alat tulis kapur, dan tidak dilengkapi dengan OHP. Bahwa setiap siswa belum mengakses internet secara bebas di sekolah, dan setiap siswa tidak dapat membawa laptop sendiri-sendiri ke sekolah dan bebas mengakses internet. Di seantero Jepang belum ada sekolah semacam ini, sebagaimana yang menjadi kriteria RSBI.

Tetapi tidak berarti bahwa pendidikan anak-anak Jepang tidak menginternasional, dan teknologi serta kecanggihan IT tidak mereka pahami dengan baik. Dengan bangganya kita memamerkan bahwa RSBI di Indonesia sudah memiliki ruang lab canggih, lab bahasa, pelajaran berbahasa pengantar berbahasa Inggris, sementara guru-guru di Jepang dan pemikir di Jepang mengernyitkan dahi, seperti apa gerangan pendidikan ala internasional itu ? Sebab fasilitas sekolah di Jepang diadakan karena memang itu dibutuhkan, dan mereka beranggapan bahwa fasilitas internet yang bebas akses tidak dibutuhkan di sekolah, maka tidak diadakan.

Saya menangkap kesan guru-guru di Jepang dan pemikir pendidikannya yang mendengarkan uraian RSBI agak sulit memahami kelogisannya.

Para pemegang kebijakan di Indonesia barangkali dapat berpikir ulang tentang konsep RSBI ini.Saya yakin bukan pendidikan mercu suar dan bukan pendidikan untuk orang berkantong tebal yang kita usung lewat program RSBI (semoga keyakinan saya benar)

Perenungan mendalam dan rasa keberpihakan kepada anak-anak yang dididik harus kita lakukan. Bahwa pendidikan itu adalah untuk anak-anak, agar mereka menjadi manusia dewasa dan berakhlak di lingkungannya, bukan pendidikan agar negara diakui oleh negara lain sebagai negara maju, atau agar diakui sebagai anggota OECD. Juga bukan barang jualan yang harus dijual mahal kepada rakyat. Pendidikan adalah hak rakyat yang harus dipenuhi pemerintah yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat.

Iklan
  1. semoga ulasan diatas menyadarkan juga memurnikan esensi makna pendidikan itu sebenarnya apa untuk pemegang amanah warga negaranya.
    barangkali disini “banyak” unsur bermain, mulai dari :
    – karena prestasi benar-2 diperjuangkan, prestise akan menyertai
    dengan ekor-2nya, yaitu : fasilitas mengalir tanpa diminta,
    karna sympatie & empati
    – pepatah jawa mengatakan, temenono, bakal tinemu, tinemu temenono
    = tekunilah, pasti akan ketemu, jika ketemu, maka tekunilah..

    – karena prestise benar-2 dipertimbangkan prestasi numpang lewat
    dengan ekor2-nya, yaitu :
    – kemewahan & kebanggaan identik dng kecanggihan, membuka peluang
    – hadirnya fasilitas-2 yang bagus demi mengejar kesamaan “gaya”,
    – & menumbuhkan geliat ekonomi kerja sama penyedia jasa–sekolah
    – ujungnya sekolah hanya buat si kaya, si miskin dilarang sekolah
    – pepatah jawa menyatakan,
    titenono dadi opo, dadi opo titenono=perhatikan akan jadi apa,
    jadi apa esok, perhatikan

    – kita gemar bermain-main, tak mau bersungguh-sungguh atau memang
    kita belum mampu melihat sejati baru fatamorgana yang mempesona
    silau oleh gemebyar sinar, bukan apa penyebab sinar itu berkilau
    – kita suka kepalsuan ketimbang kesungguhan, kapan phenomena ini
    kan berakhir? semoga cepat berlalu dan memperoleh pencerahan
    sejati seperti apa makna sesungguhnya pendidikan itu, diulas
    dengan apik diatas. amin

  2. semoga ulasan diatas menyadarkan juga memurnikan esensi makna pendidikan itu sebenarnya apa untuk pemegang amanah warga negaranya.
    barangkali disini “banyak” unsur bermain, mulai dari :
    – karena prestasi benar-2 diperjuangkan, prestise akan menyertai
    dengan ekor-2nya, yaitu : fasilitas mengalir tanpa diminta,
    karna sympatie & empati
    – pepatah jawa mengatakan, temenono, bakal tinemu, tinemu temenono
    = tekunilah, pasti akan ketemu, jika ketemu, maka tekunilah..

    – karena prestise benar-2 dipertimbangkan prestasi numpang lewat
    dengan ekor2-nya, yaitu :
    – kemewahan & kebanggaan identik dng kecanggihan, membuka peluang
    – hadirnya fasilitas-2 yang bagus demi mengejar kesamaan “gaya”,
    – & menumbuhkan geliat ekonomi kerja sama penyedia jasa–sekolah
    – ujungnya sekolah hanya buat si kaya, si miskin dilarang sekolah
    – pepatah jawa menyatakan,
    titenono dadi opo, dadi opo titenono=perhatikan akan jadi apa,
    jadi apa esok, perhatikan

    – kita gemar bermain-main, tak mau bersungguh-sungguh atau memang
    kita belum mampu melihat sejati baru fatamorgana yang mempesona
    silau oleh gemebyar sinar, bukan apa penyebab sinar itu berkilau
    – kita suka kepalsuan ketimbang kesungguhan, kapan phenomena ini
    kan berakhir? semoga cepat berlalu dan memperoleh pencerahan
    sejati seperti apa makna sesungguhnya pendidikan itu, diulas
    dengan apik diatas. amin

    maap khoq masuk alhumairoh ya…. jadi kagak enak nie

  3. […] Tulisan asli artikel ini dan artikel  menarik lainnya pada tulisan ini, dapat pula diakses melalui link ini : RSBI vs sekolah Jepang […]

  4. @Pak Ardi alias alHumairoh :
    hehehhe….ketauan Pak Ardi numpang blog putrinya ya 😀

  5. Iya..mbak sepertinya sekarang sedang trennya sekolah mengejar-ngejar status BI alias Berstandar Internasional… Mungkin bukan salah sekolah juga kalo mereka ikutan tren tersebut karena mereka sendiri memang berjuang untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah mereka…Namun demikian yang kadang2 belum disadari adalah bahwa mutu pendidikan tidak selalu beranologi dengan sarana prasarana yang mentereng yang seperti mbak sampaikan di atas…
    Bagi saya mutu pendidikan adalah bagaimana output dari sekolah itu dapat “survive’ dan berguna di lingkungan sosialnya sama seperti yang mbak sampaikan..
    Namun demikian tidak mudah merubah paradigma di lapangan…
    Karena kurang jelasnya konsep RSBI or SBI disosialisasikan di lapanganlah yang mungkin menyebabkan bergesernya or tidak sepamahaman antara penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan.
    semoga ke depan…pendidikan di negara kita memang benar2 pendidikan yang berpihak untuk kemaslahatan rakyatnya…

    Eh mbak…dapat salam dari Renny…ternyata dulu kelas 1 nya sekelas ya ma Renny….
    Kemarin pas ketemu di pemkot…dia cerita banyak lho soal mbak…
    Ternyata emang dari dulu udaj “jagoan” he…he…he…
    Sukses ya mbak.

  6. Ternyata walau pernah di IPB, kamu lebih concern, mendalami dan menjiwai bidang kependidikan ya ? Semoga di Indonesia akan muncul banyak tokoh di bidang kependidikan yang sependapat denganmu, sehingga pendidikan kita bisa lebih maju lagi. Amien.

  7. Bocahbancar say di sini sebagai seorang objek(siswa). Sebagai seorang siswa yang masuk dalam kelas SBI pastilah akan merasa sangat bangga. Yang pinter sendiri lah, yang fasilitas wah sendiri lah yang perlakuan siswanya berbeda dengan siswa lainnya lah. Pokoknya seolah olah mereka ini adalah seorang calon Profesor. Nah lo, setelah tau kek begini seorang yang merancang SBi ini(malu sekali keadaaan yang sama dialami Jepang tahun 60-70an dulu kita singkapi dengan sok pinter, sok kaya)..

    Hah..Pemikiran Bu Murni ini patut di share kepada semuanya. Saya yakin yang merancang SBI ini juga merupakan orang yang hebat, cuman sudut pandangnya saja yang perlu kita ajak diskusikan untuk mencari solusi terbaik bagi pendidikan yang bermutu namun menjangkau seluruh lapisan masyarakat..

    Saya jadi bersemangat Bu membaca postingan Anda ini..

    murni : alhamdulillah

  8. Siswa ditempatkan dalam kelas mewah.. eksklusifitas.. Dampaknya sangat terasa di sekolah yang memiliki kelas RSBI dan kelas reguler.
    Siswa dikenalkan dengan internet.. akhirnya malah dicurigai mengakses hal-hal yang kurang baik. Artinya barangkali justru para orangtua dan guru yang belum siap menerima perubahan yang terlalu cepat (baca:dipaksakan).
    Akhlak, martabat dan moral menghargai diri sendiri masih kurang kita miliki.
    Terimakasih , Bu, postingan Ibu selalu Inspiring…

    murni : sama-sama, alhamdulillah.
    gimana di sekolahnya, aman2 saja ?

  9. Akreditasi=komersialisasi pendidikan
    Orang jepang nggak bakalan ngerti yg beginian. Mereka pasti bingung dgn prinsip pendidikan=duit alias komersil.

    murni : tp mereka ngerti bhw pendidikan itu perlu biaya tinggi 😀

  10. Ulasan yang disampaikan sungguh menarik dan menohok kita sebagai praktisi pendidikan. Seyogyanya kesempatan berkunjung dan mengadakan sister school bukan hanya milik sekolah RSBI tetapi juga diberikan pada sekolah yang berada di pinggiran atau malah di daerah terpencil.
    Mungkin saja di Jepang ada juga sekolah yang berada jauh dari kota. Bisa melihat bagaimana pengelolaan sekolah yang berada di pinggiran

    murni : seperti kebanyakan manusia, maunya berteman dg golongan atas atau orang yg lebih OK daripadanya dan enggan berteman dg orang-org pinggiran 😀 Demikian pula sekolah ternyata ….

  11. setelah ngebaca blog2 tentang sbi, aku jd ragu mau nerusin thesis ku yg tentang implementasi sbi di propinsiku. sepertinya sdh kebaca hasilnya kl sbi berjalannya sempoyongan; antara iya dan ngaa

  12. mba meme : saya sarankan jangan menghentikan thesisnya. Justru dg mempelajarinya dg detil kita menjadi tau kekurangan, keinginan peserta didik dan ortu dan ketidaksinkronannya dg harapan ortu. Hasil penelitian ttg ini sangat dibutuhkan untuk memperbaiki mutu pendidikan kita.
    Sekalipun tau jalannya sempoyongan, penelitian harus dilakukan untuk mengetahui kenapa dia sempoyongan, dan bagaimana agar dia tidak sempoyongan. Inilah kuncinya meneliti.

  13. Cuma pengen tahu aja apakah dua istilah dibawah ini sama artinya:
    pendidikan = komersil
    pendidikan = mahal

    rasanya sih orang Jepang tahu kalau pendidikan itu butuh biaya tinggi (mahal), tapi kalau pendidikan dijadikan lahan untuk mengeruk duit (komersil) mungkin mereka rada bingung.

    Pengetahuan saya masih kurang dalam soal pemakaian kata. Ma’af :mrgreen:

  14. Ando-kun,

    Saya tidak lebih pandai daripada anda dalam menggunakan/membuat padanan kata.
    Mari mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia,
    ini link-nya :
    http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/

    Kalau tdk salah yg di-online kan bukan edisi terbaru.
    Jk anda berada di Indonesia, silahkan mengintipnya di toko buku, mestinya Edisi terbaru sudah dipasarkan.
    Saya selalu menggunakannya kalau saya bingung dengan bahasa Indonesia 😀

  15. Sungguh ironis, begitu membaca semangat sekolah bertaraf internasional, semua orang jadi pesimis, artinya (semua orang adalah pandai) karena hanya mereka yang pesimis yang ilmuwan, tapi dengan catatan (Pribadi nih) dalam menjalankan program harus optimis, suka atau tidak, perubahan jaman memang berubah. Benar adanya di jepang tidak ada kategori sekolah nasional atau internasional dalam standarnya, karena penulis juga alumnus dari Universitas di jepang dan juga pernah praktek mengajar baik tingkat Dasar, juga menengah. secara fasilitas semua standar (Dalam kategeori berdasarkan jumlah siswa yang diterima di daerah itu sendiri), lengkap dengan standar fisik bangunan, dengan standar gaji guru yang tinggi (Jadi guru benar benar menghabiskan waktu untuk membantu murid muridnya dalam mewujudkan cita cita mereka dan bukan mencentak murid menjadi seperti apa yang diinginkan oleh gurunya. (filosofinya, jika kita mengajar murid menjadi pintar atau pandai, kayak sair dalam lagu kita). tapi mereka mengajar murid agar murid bisa mengajar dirinya sendiri. Nah jika acuannya adalah Sekolah dengan komersialisasi atau mahal,(Lucunya, yang mahal malah dicari oleh para wali murid) coba jika gratis, malah dianggap ndak bermutu kan?.. Justru tantangan kita adalah memadukan budaya pendidikan kita (Sekolah Taman Siswa) dengan standar nasional maupun internasional tanpa menghilangkan identitas pendidikan kita, atau memang kita lagi kena euforia sekolah standar Internasional? Jadi mau yang mana?

  16. Sekolah Internasional ya Mba, saya sebagai gurunya aja…masih bingung.

    Tulisannya aku posting ya…

  17. Ass.
    Mbak, ada yang tanya melalui saya. Dari laporan mbak, dengan proses apa kepsek itu dapat pergi ke jepang, melalui program apa? Gitu…Mohon jawabannya
    Kuma

  18. @Kuma :
    Wa alaikum salam
    Mereka datang via kerjasama antara UNDIP dan Meidai, plus Dinas Pendidikan Jateng

  19. Ooh gitu, makasih ya mbak Murni, berarti kunjungannya difasilitasi UNIV dan Depdiknas

  20. sayang juga sudah jauh-jauh keluar banyak uang, yg bisa diterapkan di sekolah belum ada, lebih baik para kepsek smk sbi datang ke tempat industri yg ngrekut aluni smk, dan mengidentifikasi kompetensi yg dibutuhkan, tentu banyak dibutuhkan.

  21. kalau sekolah di SBI di ajari ANTRI ngga ya, ????? he heh he,

  22. Kebetulan saya bekerja di Penerbit Erlangga-Jakarta. Setelah mempelajari ketentuan tentang SBI-RSBI, maka untuk mendukung tujuan pemerintah tersebut kami mengalihbahasakan Buku buku Pelajaran yang wajib diajarkan dalam bahasa Inggris seperti Matematika dan IPA dari buku pelajaran (Berdasarkan SI) terbitan kami.
    Ternyata kami kurang berhasil memasarkannya sebab ternyata kebanyakan Guru dan siswa belum siap belajar Matematika dan Sains dalam bahasa Inggris. Mayoritas Kepala Sekolah meminta buku Matematika dan Sains dalam dwi bahasa.
    Untuk meyakinkan para guru, kami membawa sekaligus buku Matematika (edisi Indonesia) dan Maths (English Edition) namun mereka menganggap buku mesti bilingual.
    Jadi apa yang disampaikan Ibu Murni sangat dapat dimengerti karena tentang Buku Pelajaran saja sudah tidak satu visi

  23. Mbak Murni . . Pemikirannya TOP dah.. Tapi memerahkan kuping sebahagian orang.. Mari kita berpikir positif setiap perbedaan Kapan nih pulang ke Indonesia untuk membenahi pendidikan kita..??!

  24. @Pak Dharma :Terima kasih informasinya. Sy belum tahu buku textbook apa yg dipakai di SBI. Apakah buku terjemahan atau buku2 luar ?

    @aNa : tdk bermaksud memerahkan kuping siapapun. Saya cuma coba tuliskan apa yang saya lihat dan alami saat kunjungan tsb. Belum ada yg memanggil saya untuk pulang untuk membenahi pendidikan negara 🙂

  25. Untuk Pak Dharma : saya kira sebagai guru yang profesional tidak harus berpatokan pada satu buku / penerbit , semakin banyak buku penunjang tentunya akan semakin menambah wawasan Jika guru lebih kreatif mungkin dapat membuat modul yang refrensinya dari berbagai sumber sehingga materi akan semakin lebih berwarna..

    Mbak Murni teruslah menulis dan mengeluarkan ide ide yang realita yang sesuai dengan kondisi di lapangan , jika perlu jangan hanya melihat kegiatan saat ada kunjungan , Lihat juga keadaan di dalam Indonesia kan bisa dilihat melalui berbagai media ..saya yakin banyak kebijakan yang perlu dikaji ulang melalui pemikiran yang lebih dalam.

  26. […] Tulisan asli artikel ini dan artikel  menarik lainnya pada tulisan ini, dapat pula diakses melalui link ini : RSBI vs sekolah Jepang […]

  27. Bu Uni, membaca tulisan ibu ttg RSBI vs Sekolah Jepang, saya teringat dengan film Laskar Pelangi, gimana menurut Ibu?

  28. Menurutt ku sekolah ,nya (RSBI) di wil Indonesia itu bukannya mngacu pd progam pndidikan ,tp hanyya byaranya aja yg mahal ,

  29. gimana yaa… Sebagai guru di sekolah negeri dan punya anak yg sekolah di sekolah rsbi, saya berpendapat:
    1. Pendidikan yang baik, memang butuh kesungguhan, pengorbanan dan BIAYA yang besar. Biaya mana pemerintah harus ambil bagian dalam porsi yang paling besar–selain dunia swasta dan masyarakat (utamanya yang mampu)
    2. Manakala pemerintah tidak or kurang sanggup dan seasta kurang maksimal, maka mau tidak mau jatuhnya ya harus ortu siswalah yang menanggungnya.
    3. Lembaga pendidikan yang sudah terbukti-teruji bagus seperti Pondok modern gontor saja, walau penampilan lahiriyahnya termasuk tidak mewah-wah, tapi sangat besar juga biayanya
    4. Kesimpulannya: kita terima saja segala macam model sekolah yang ada di negeri ini. Kita berikan kontribusi terbaik yang bisa kita berikan. Semoga apapun model sekolah yang hadir di bumi indonesia ini, anak-anak potensial dari keluarga tidak mampu tidak sampai terlantar pendidikannya.

    Wallahu a’lam …

  30. @Pak Hamid :
    Saya setuju dg pernyataan Bapak bhw pendiidkan yg baik memang butuh kesungguhan, pengorbanan dan BIAYA besar, sebab itu juga yg terjadi di negara manapun.
    TETAPI BIAYA BESAR yg dimaksudkan adalah 80-90% dari anggaran pemerintah.
    Jadi, semestinya pemerintah menggunakan anggaran sebaik mungkin untuk membuat fasilitas belajar/pendidikan memenuhi standar internasional (sy kurang setuju dg definisi internasional identik dg berAC dan ber-audio visual, atau papan tulis harus white board, apalagi berbahasa Inggris). Dengan benar2 memenuhi kriteria dlm standar nasional pemerintah (PP No 19/2005), sebenarnya sekolah-sekolah kita sudah selayak dg sekolah2 yg ada di Jepang.

    2. Orang tua memang menanggung sebagian kecil biaya pemerintah.
    Pemerintah kita bukan TIDAK SANGGUP atau MAMPU, tp tdk ada GOOD WILL untuk memperbaiki fasilitas pendidikan.

    3. Mohon dibedakan antara sekolah swasta dg negeri. Gontor wajar operasionalnya besar krn mereka tdk mendapat bantuan cukup dr pemerintah. Gontor swakelola.

    4. Saya setuju dg keharusan melakukan kontribusi terbaik. Dan itu adalah mengkritisi dan membawakan solusi yg lebih baik thd kebijakan. Kalau rakyat hanya pasrah dan menerima, mk akan terjadi kesewenang-wenangan pemerintah, bukankah sudah banyak contohnya ?
    Harapan Bapak bhw anak-anak potensial dr keluarga tak mampu akan mendapat pendidkn layak HANYA akan menjadi MIMPI yg tak sampai jk kita membiarkan pemerintah dg kebijakan pendidikan yg sekarang ini.

    Mohon maaf jk ada salah kata

  31. […] masih jauh dari harapan “Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Saya mengutip dari https://murniramli.wordpress.com/2009/01/27/kedatangan-kepala-sekolah-sma-smp-jateng/ : “Dulu saat tahun 60-70an, kondisi ekonomi Jepang persis dengan kondisi Indonesia sekarang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: