murniramli

Sistem Persekolahan dan Statistik Pendidikan Aichi

In Administrasi Pendidikan, Dinas Pendidikan Jepang, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, SMA di Jepang on Februari 2, 2009 at 11:48 am

Tulisan kali ini akan membahas tentang sistem persekolahan di Aichi.

Sistem persekolahan modern di Jepang dimulai sejak tahun 1872. Hingga PD II, sistem persekolahan di Jepang mengenal pola multi track, yaitu banyak jenis sekolah yang bisa ditempuh di level pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sejak PD II mulai diterapkan sistem single track, yaitu 6-3-3-4, sama seperti sistem di Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini mulai muncul kembali keinginan untuk menerapkan sistem multi track.

Setiap anak yang berusia 3 th dan 5 th dapat mengikuti program Taman Kanak-Kanak yang lama pendidikannya adalah antara 2-3 tahun. TK di Jepang disebut youchien. Sedangkan anak-anak yang lebih muda lagi dapat dimasukkan ke program play group atau disebut hoikuen. Umumnya anak-anak yang masih bayi pun dapat dititipkan ke Hoikuen dengan syarat ibunya harus bekerja/belajar sehingga tidak punya waktu untuk merawat anaknya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya Hoikuen berada di bawah Kementerian Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Wajib Belajar di Jepang berlangsung 9 tahun yaitu SD dan SMP. Semua anak yang berusia 6 tahun diwajibkan untuk mengikuti pendidikan SD selama 6 tahun, dan selanjutnya juga harus melanjutkan ke SMP selama 3 tahun. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan mendapatkan sanksi.

Anak-anak memasuki SD dan SMP publik yang paling dekat dengan tempat tinggalnya, tetapi diperkenankan juga untuk memilih sekolah swasta yang kemungkinan berada jauh dari lokasi tempat tinggalnya. Namun biasanya ada ketentuan jarak tempuh tidak melebihi 1 jam.

Tidak ada sistem kenaikan kelas dan ujian kenaikan kelas atau kelulusan di SD, SMP dan SMA. Sehingga dalam program Wajib Belajar setiap anak secara otomatis naik ke jenjang berikutnya. Prestasi akademik dinilai melalui tes yang dilakukan secara bertahap pada setiap semester, tetapi bukan menjadi parameter kenaikan kelas atau kelulusan.

Sekitar 97% lulusan SMP di Aichi melanjutkan ke SMA. Untuk masuk ke SMA terdapat tes tertulis yang harus diikuti. Tes tersebut berbeda-beda sesuai dengan sekolah. Ada tiga macam jenis pendidikan menengah atas, yaitu sistem full-time, part-time, dan correspondence. Sistem full time membutuhkan waktu 3 tahun, sedangkan dua sistem yang lainnya memerlukan waktu lebih dari 3 tahun.

Ada 3 macam jenis sekolah menengah atas yaitu SMA, SMK dan SMA Terpadu yang memadukan antara pendidikan umum dan kejuruan. Sebagian besar SMA juga menawarkan program kejuruan. Jenis SMK yang ada di Aichi adalah pertanian, teknik, bisnis dan perdagangan, home economics, kesejahteraan dan pelayanan masyarakat, perikanan, kesehatan, Bhs Inggris, musik, seni, olahraga, dan intercultural studies. Program kejuruan ini selalu diperbaharui mengikuti perkembangan dan permintaan industri.

Anak-anak kelas 3 SMA yang akan melanjutkan ke PT biasanya mendapatkan pelajaran tambahan di pagi hari, setelah jam sekolah berakhir atau pada saat liburan musim panas.

Pendidikan Luar biasa mendapat perhatian khusus di Aichi, dengan diselenggarakannya training-training untuk anak-anak cacat yang memungkinkan mereka menekuni bidang kerja tertentu setamatnya dari sekolah. Training-training tersebut diselenggarakan selama mereka menempuh pendidikan di sekolah menengah atas.

Lulusan pendidikan menengah atas yang melanjutkan ke universitas atau sekolah tinggi sebesar 58%, dan 17% melanjutkan ke College/akademi, kemudian 20% bekerja.

Jumlah SD di Aichi adalah 983 sekolah, SMP sebanyak 410 buah, yang dikelola oleh pemerintah tingkat kota dan distrik/municipal. Adapun SMA sebanyak 222 sekolah, di antaranya 152 adalah sekolah provinsi.

Jumlah siswa SD pada tahun 2007 adalah sebanyak 437,862 siswa, siswa SMP sebanyak 211,451 orang, siswa SMA full time course sebanyak 182,008 orang, dan 5,009 siswa yang mengambil program part time course.

Di kalangan siswa SMA program full time course, 73.8% adalah siswa SMA, 9.5% adalah siswa SMK Teknik, 8% adalah siswa SMK Bisnis/Commercial, 2.9% adalah siswa SMA Terpadu, 2.7% adalah siswa SMK Home Economics, dan 1.8% adalah siswa SMK Pertanian. Sedangkan dari total siswa yang memilih program part-time course sebanyak 74.5% adalah siswa SMA, 13% adalah siswa SMK Teknik, 7% adalah siswa SMK Commercial, dan 5.5% adalah siswa SMK Perawatan.

Sekolah-sekolah di Aichi telah dilengkapi dengan fasilitas komputer dan internet. Hingga tahun 2007 sekitar 50.2% SD, 63% SMP, 84.6% SMA, dan 32.4% SLB telah dilengkapi dengan fasilitas komputer untuk pembelajaran. Kemudian pada tahun yang sama, sekitar 94.6% SD, 92.4% SMP, 98.1% SMA, dan 100% SLB telah mempunyai home page sekolah dalam Bahasa Jepang.

Guru-guru SD rata-rata berusia 44.9 tahun dengan 60.7% adalah wanita. Guru-guru SMP kebanyakan adalah laki-laki (62.2%) dengan rata-rata usia 42.8 tahun. Adapun guru-guru SMA sebanyak 74.1% adalah laki-laki dengan rata-rata usia 45.2 tahun.

Guru-guru bertugas di sebuah sekolah dalam waktu maksimal 10 tahun, dan kebanyakan dalam masa 5 tahun akan dirotasi ke sekolah yang lain. Sistem ini berlaku untuk kepala sekolah.

Beberapa fasilitas penunjang pendidikan di Aichi antara lain, terdapat 389 aula pertemuan warga, 87 perpustakaan, 78 aula budaya, 30 perpustakaan audio visual, dan 31 museum. Kemudian fasilitas olah raga adalah 32 lapangan atletik, 136 lapangan atletik serba guna, 90 lapagan olah raga multi purpose, 158 gymnasium, 76 tempat latihan judo dan kendo, 120 kolam renang (data 2007).

Dari semua fasilitas dan sarana pendidikan tersebut, pemerintah Aichi menetapkan Aichi’s Human Development Plan yang berisi :

1. Individuals who understand the value of their own lives, and the lives of others

2. Successful, self-confident individuals

3. Healthy individuals, capable of inheriting and developing culture

4. Individuals capable of interacting in the new global society

Iklan
  1. bagus banget goal pemerintah aichi….kalo goal pemerintah bandung apa ya ????….pa dada ????….

  2. Mbak, aturan untuk anak SD dan SMP harus sekolah di dekat tempat tinggal itu apakah ada sanksinya kalau dilanggar?
    Kebijakan tersebut kalau bisa diterapkan di Madiun mungkin bisa mengurangi kemacetan pagi hari di satu titik dan juga penumpukan murid di SD2 tertentu (karena masih ada istilah SD favorit di masyarakat..). Namun dalam penerapannya tentu saja harus disertai dengan tersedianya sapras dan mutu guru yang merata di semua sekolah.

    Selain itu sistem rotasi guru harusnya bisa diterapkan di Madiun mbak…karena selama ini guru2 itu kalau dimutasi pasti responnya masih “negatif’ apalagi kalau dimutasi dari sekolah yang bagus ke sekolah yang biasa saja….waduh…pasti banyak yang merasa keberatan…daripada merasa tertantang untuk memajukan sekolah yang baru…..

  3. Mba Heni :

    Bukan tdk ada sanksinya, tp sekolah yg dituju ngga mau nerima siswa tsb (untuk kasus sekolah negeri ya, sekolah swasta bebas).
    Mestinya Madiun bisa menerapkannya krn wwilayahnya tdk terlalu besar, dan akan sangat baik jk diterapkan di kota-kota besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: