murniramli

Diskriminasi Orang Asing di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Februari 8, 2009 at 2:48 am

Banyak cerita teman-teman yang mendapatkan perlakuan kurang nyaman dari orang Jepang selama tinggal di negeri sakura ini. Saya pribadi sudah sering pula. Tapi saya pikir memang demikianlah tipikal orang Jepang yang kadang-kadang agak tertutup dengan orang asing.

Selama bulan Februari-Maret, di Jepang adalah musim mencari apartemen baru. Musim pindah rumah. Saya termasuk di dalamnya yang harus mengusung barang-barang ke tempat baru. Selama ini alhamdulillah saya selalu tinggal di asrama mahasiswa, dan ini sangat membantu saya yang berstatus self-finance student. Tapi karena masih harus tinggal setahun lagi di Jepang, maka saya harus mencari apartemen. Dan ini adalah pengalaman pertama saya.

Kemarin ditemani seorang teman yang baik, saya datang ke sebuah agen yang menangani penyewaan kamar apartemen. Apabila hendak mencari apartemen, sebaiknya mengecek terlebih dahulu informasinya di internet, tentang sewa per bulan, fasilitas yang diinginkan ada di dalam kamar, dan lokasi apartemen. Langkah ini akan mempercepat proses pencarian, dan tidak bertele-tele disodori bermacam-macam alternatif oleh pihak agen.

Dari dua agen yang saya datangi sebenarnya saya sudah mendapatkan dan hampir membuat kontrak dengan salah satu mansion yang menurut saya fasilitas dan kamarnya cukup baik dan murah tentu saja. Sayangnya letaknya agak jauh dari kampus dan juga tidak praktis untuk pergi ke tempat kerja.

Ada satu lagi mansion yang kamar kosongnya cukup banyak, dan fasilitas kamarnya cukup bagus, dan harganya masih dalam kisaran yang saya inginkan. Sayang sekali mansion sebagus itu menolak menerima orang asing. Saya tiba-tiba merasa didiskriminasikan oleh orang Jepang, saat mendengar percakapan pihak agen dengan owner mansion.

Pihak agen kemudian dengan hati-hati menyampaikan bahwa alasan owner adalah karena selama ini banyak mahasiswa asing dari Cina dan Korea yang menempati mansion tersebut tetapi mereka tidak mematuhi peraturan persampahan yang njlimet di Jepang, sehingga pihak owner sering mendapat teguran dari tetangga.

Saya tidak bisa bilang apa-apa. Dan memang harus saya akui bahwa selama tinggal di asrama mahasiswa, perbuatan melanggar tersebut sering saya lihat. Di asrama yang sekarang saya tempati boleh dikatakan mahasiswanya sangat tidak ramah kecuali 1-2 orang. Selebihnya tak menjawab salam, membanting pintu, membuka pintu pagar parkir sepeda dan tidak menutupnya kembali dan membuang sampah yang tidak dipisah-pisahkan di tempat parkir. Saya masih rajin mengangkuti sampah-sampah itu ke tempat pembuangan yang seharusnya pada hari-hari yang sudah ditentukan. Kadang-kadang pulang jam 12 malam membuat hati sumpek melihat tumpukan sampah itu. Jadi kalau lagi rajin, saya angkut dan pisah-pisahkan. Tapi tindakan ini tidak memberi pelajaran yang baik kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut dan membuat mereka semakin menjadi-jadi. Saya ogah mengerjakannya sekarang dan tutup mata dengan sampah yang menumpuk di tempat parkir.

Seharusnya ada upaya lebih tegas dari pihak pengelola menegur atau mengeluarkan saja mahasiswa-mahasiswa yang tidak bisa diatur itu. Sebab banyak sekali mahasiswa asing lainnya yang berperilaku lebih baik dan mengharapkan sekali tinggal di asrama yang murah dan bagus tersebut.

Penolakan oleh pemilik mansion tersebut membuat saya cukup hati-hati saat mencari kamar sewa lainnya. Selalu saya pastikan apakah mansion ini boleh untuk mahasiswa asing.

Biasanya pihak agen yang baik akan mencoba meyakinkan owner tentang status kita sebagai peminjam, misalnya sudah berapa lama tinggal di Jepang, apakah tidak ada masalah dengan bahasa, dan guarantor. Saya sudah memenuhi semua kriteria dengan baik, tinggal di Jepang selama 4 tahun lebih, bisa berbahasa Jepang dan guarantor saya adalah Prof di kampus.

Hari ini saya mendatangi lagi sebuah agen, dan alhamdulillah ada kamar yang cukup representatif, dan menerima mahasiswa asing. Mudah-mudahan lancar semuanya. Besok saya akan melihat kamar itu.

Begitulah, saya tidak bisa menyalahkan orang Jepang dalam diskriminasi seperti kasus di atas. Tapi menganggap semua orang asing berperilaku buruk dan tidak patuh pada peraturan adalah juga sebuah kesalahan besar.

Saya dan beberapa teman asing lainnya sedang berjuang untuk membuktikan kepada orang Jepang bahwa kami mampu lebih baik daripada mereka.

Iklan
  1. Hmmm, memang susah klo mau mengatur orang yang tidak disiplin, contoh yang baik ya bu guru :D, semangat bu guru, ganbatte ne 🙂

  2. Ternyata tinggal di negeri orang kudu pinter-2 nyesuaikan diri yach ? Betul kata pepatah : dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung. (eh…betul kan bunyi pepatahnya hehehe. Gaya banget nulisnya, tapi ternyata ragu dengan kebenarannya. Jadi malu…).
    Aku gak bisa ngebayangin kamu bisa betah bertahan hidup 4 tahun bersama orang-orang yg cuek, Mur. Padahal di tempat kita, mana bisa kita cuek-cuekan dengan tetangga. Iya to ??

    murni : betul, apalagi jadi tetangganya Reni…pasti dapet kiriman kolak tiap hari heehehe…

  3. Mbak..kenapa harus meninggalkan asrama mahasiswa dan mencari apartemen? apakah tinggal da asrama tersebut ada limit timenya? maksudnya karena sudah sekian tahun…jadi tidak boleh diperpanjang lg gitu (maaf kalau banyak nanya…soalnya pengen tahu sih…maklum belum pernah tinggal di Jepang…kalau dijajah iya..walau tidak ngalami sendiri hehehe…)
    Semoga acara pindahannya sukses ya? Maunya sih ngebantu ngangkut2…tapi tempatnya jauh banget sih…jadi ngebantu doa aja ya…”Nyengir”.

    murni : iya ada limit waktunya.
    makasih doanya. Alhamdulillah hari ini sdh dapet kamar yg deket banget dg stasiun dan kampus, jadi tinggal lumpat heheheh….

  4. Wah, pindahan ya.. Tapi sudah dapet kan bu? Mudah-mudahan kerasan. Tungu saya di sana yaa, heheh cuma becanda ding!!!
    Cepat kembali…

    murni : iya, maunya cepat kembali nih…

  5. wah memang di jepang sering ada diskriminasi untuk orang asing,saya pernah mengalaminya kok bu.padahal kita kan sudah berusaha memperbaiki citra 😀 tapi mau gimana lagi ding

    murni : ya, di mana-mana ada kayaknya 😀

  6. saya rasa semua kembali ke personalitynya masing-masing ya bu….!tapi setidaknya hal yang tidak disiplin itu tidak menjadi ciri orang asia. bu … boleh kalau boleh minta saran apa yang perlu saya persiapkan untuk menghadapi test teacher training besok senin 16 Feb 09? salam kenal mas rofiq!

  7. @Ainur Rofiq : Belajar preparasi TOEFL atau tes2 bhs Inggris lainnya.

  8. Murni san e

    Sonna koto mou Indonesia dewa takusan aru kamo sirimasen ga Sabang kara papua made mou “Diskriminasi” hontoni taihen naru. Nigen desu kara, kami no iro mou mondai naru deshou.Jibun de kangaete, donna hito watashi tachi wa naru aruka

  9. kalo boleh tau mba, harga sewa asrama berapa? kalo apartmen berapan, makasih

  10. @Yusni : Tergantung daerah dan bangunan. harga sewa berkisar dari 7.000 yen (perumahan family) sampai 60.000 yen di Nagoya. Asrama hanya boleh ditempati selama 6 bulan untuk kasus Univ. Nagoya. Harga sewanya 5000 sd 25000 yen

  11. salam kenal,mbak..tulisannya bagus2 sekali..
    1.gak ada tulisan mengenai electicity?
    apa colokan listrik jepang sama dengan di indo?
    2.ujian tertulis tes monbusho teacher training materinya apa saja?
    matematika,dll ato cuman bhs inggris?

    Terimakasih^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: