murniramli

Terlalu cepat sukses, terlalu cepat jatuh

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Februari 27, 2009 at 3:12 am

Pagi ini saya berkunjung ke kantor asrama Hattori yang sudah saya tinggali selama 2 tahun. Saya bermaksud membayar uang kontrak untuk bulan Maret sebab pembayaran bulan Maret tidak lagi melalui automatic bank, karena saya akan pindah.

Seperti biasa petugasnya, seorang Ibu cantik yang selalu menyapa saya dengan ramah, menyambut dengan penuh kekeluargaan. Saya ucapkan terima kasih atas bingkisan kue kecil yang diselipkan di pintu kamar saya tadi malam. Pihak pengurus asrama selalu saja membuat kejutan-kejutan sama. Setiap saya pulang malam, kadang-kadang saya temukan permen, apel, jeruk yang digantung di pintu kamar. Kemarin, dalam rangka perayaan o hina matsuri, mereka menyelipkan brosur pameran boneka-boneka o-hina sama di Tokugawa Museum dan juga kue dan permen.

Beberapa menit kami bercakap-cakap tiba-tiba seseorang menepuk halus pundak saya, ternyata beliau adalah pemilik kaikan, Pak Hattori yang biasa dipanggil “sacho” (boss). Saya lebih suka memanggilnya Ojiisan (kakek) karena umurnya sudah 90 tahunan.

Seperti biasa beliau dengan semangat mengulang kembali kisah pembangunan asrama mahasiswa asing dan sejarah daerah Motoyama. Dan entah kenapa saya tidak pernah bosan mendengar kisahnya. Kali ini beliau lebih detil menjelaskan bahwa asrama kami karena berada dalam pantauan Educational Board (Kyouikuiinkai) (sy kurang menangkap jelas hal ini), dan sacho ditekan untuk mengurangi jumlah beasiswa kepada mahasiswa asing yang semula dilakukannya sebelum mendirikan asrama, yaitu dari 50rb yen menjadi 30rb yen. Pengurangan ini dimaksudkan untuk menambah jumlah mahasiswa penerima. Beliau menolaknya dengan keras dan mengatakan bermaksud menaikkan beasiswa menjadi 70rb yen. Tapi karena proses tarik ulur yang tidak berkeputusan, akhirnya sacho memutuskan membuat asrama untuk mahasiswa dengan uang sewa 5rb (Asrama Motoyama) dan 10rb yen (asrama Higashiyama).

Kasus yang menimpa kebanyakan mahasiswa dari jurusan sosial yang sedang menempuh doktor, yang sangat jarang bisa menyelesaikan programnya dalam waktu 3 tahun, menjadi perhatian sacho. Dan beliau mengatakan ke depan akan memikirkan agar mahasiswa yang perlu memperpanjang setahun lagi studinya untuk tetap dapat tinggal di asrama.

Selain tentang asrama beliau juga menceritakan gedung yang disewakan kepada Matsuzakaya Dept Store di daerah Motoyama, dan berbagai kesulitan akibat krisis ekonomi saat ini. Dari penjelasan panjangnya saya bisa membuat sebuah kesimpulan berupa grafik tentang kesuksesan dan kejatuhan manusia.

Sacho menjelaskan bahwa krisis ekonomi yang menimpa perusahaan saat ini adalah akibat dari sebuah lonjakan kesuksesan yang begitu drastis yang terjadi dalam waktu yang pendek, yang kemudian diikuti oleh kejatuhan yang curam dalam waktu yang singkat pula.

Menurut beliau, sebuah usaha memang wajar akan mengalami kesuksesan dan kegagalan tetapi proses yang berlangsung lambat dan alami adalah yang paling nikmat. Di kepala saya terbayang sebuah grafik yang bergerak naik dengan secara tetap dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat. Dan kemudian bergerak turun secara lamban datar dan akhirnya mencapai titik terendah.

Dengan kata lain proses menuju kesuksesan itu harus dipenuhi dengan usaha yang wajar dan proses  menuju kejatuhan pun harus berjalan sewajarnya agar dapat dinikmati.

Ya, tidak ada yang selamanya berada di puncak dan tidak ada yang selamanya berada di dasar dalam hidup ini. Semuanya mengalami naik turun. Apabila kesuksesan ada maka pastilah kegagalan mengintai. Dan apabila kegagalan ada maka pastilah kesuksesan ada di baliknya.Sebagaimana Allah telah menyatakan dalam Al-Quran tentang datangnya rahmat sesudah turunnya hujan. Subhanallahu wallaahu akbar.

Tinggalah kepada insan, ingin memilih yang mana kesuksesan yang mendadak atau kesuksesan yang alami.

Iklan
  1. Memang sangat menarik mendengar pembicaraan sesorang yang sudah makan garam kehidupan ini..

    Saya akan sangat senang sekali emndengar cerita cerita berhikmah lainnya tentang memaknai kehidupan ini..

    Salam hangat Bocahbancar…

  2. Aku menyukai menjalani proses yang terjadi dalam hidupku. Memang melelahkan menjalani proses yang panjang dan berliku. Tapi hasil yang dipetik dari sebuah proses yang panjang ternyata sungguh nikmat.
    Salam…, sahabat.

  3. easy come, easy go
    mungkinkah ini dampak dari kapitalisme?

  4. Yah benar mbak. Bukankah jalan bermil-mil dimulai dari selangkah demi selangkah, Jadi wajar aja kalau jalan yg bermil ditempuh dgn loncat-loncat, otomatis lebih cepat lelah dan jatuh deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: