murniramli

Susahnya memahami maksud orang Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Maret 15, 2009 at 11:41 am

Seperti yang dikenal khalayak umum, orang Jepang tak biasa berbicara terus terang. Mereka seperti selalu tersenyum,dalam keadaan senang maupun tak senang. Orang non Jepang harus pandai-pandai memahami sikap-sikap tak terbuka seperti ini. 

Memang tidak bisa disimpulkan bahwa semua orang Jepang demikian, sebab saya banyak juga menjumpai orang-orang yang secara tegas menyebutkan setuju atau tidak setuju, tapi ini sangat jarang 😀

Setelah berkali-kali menjadi interpreter tamu-tamu professor di sini, saya mulai bisa membaca karakter-karakter tersebut.  Dan lucunya saya mengetahui itu melalui acara makan malam bersama yang biasanya mereka dalam keadaan mabuk, dan secara tak sadar berbicara seperti ngelantur tetapi sebenarnya itulah honne (kata hati).

Sebagai misal : Dari beberapa kali kunjungan tamu dari luar negeri yang berdekatan jaraknya, tampaknya para professor mulai bosan dan merasa terbebani dengan tugas-tugas melayani tamu-tamu tersebut. Beberapa mengeluhkan kegiatan penelitian yang tak bisa berlanjut, beberapa lagi mengkritik kegiatannya tak bermakna apa-apa, tanpa hasil dan hanya menyebabkan capek. Oleh karena itu atas keluhan tersebut, saya mengusulkan bagaimana kalau anda menolak saja permintaan berkunjung tersebut.

Jawabannya ternyata tak mudah. Sebagai contoh seorang tamu (tamu B) hendak datang berkunjung pada bulan Januari. Para professor mengatakan tidak bisa sebab ada tamu (tamu A) lain yang akan berkunjung. Maka tamu B kemudian menanyakan bagaimana kalau bulan Februari ? Professor menjawab bahwa bulan tersebut mereka sibuk. Lalu tamu B kembali menawarkan bagaimana jika bulan Maret ? Maka…dengan sangat terpaksa para professor menerimanya, sebab pantang bagi mereka untuk menolak yang ketiga kalinya.

Saya baru mengetahui bahwa apabila orang Jepang sudah menyatakan keberatan (penolakan dua kali) maka itu artinya mereka benar-benar tidak bisa (menolak, enggan), setelah salah seorang professor menjelaskannya. Tetapi orang asing (tamu) kadang-kadang tidak memahami ini dan tetap menggebu-gebu ingin berkunjung. Sedangkan bagi orang Jepang, tamu harus dihormati seperti raja. Mereka harus dijamu dengan makanan yang serba enak, disiapkan penginapan yang layak, dan diajak plesir. Inilah yang menyita waktu. Tugas-tugas mengerjakan penelitian dan mempersiapkan paper-paper menjadi terhambat karena harus menemani tamu wawancara dan mengunjungi sekolah-sekolah.

Saya merasakan perbedaannya dengan Indonesia. Di Indonesia dulu, biasanya tamu-tamu yang akan berkunjung ke sekolah akan diltemani oleh dosen-dosen muda (asisten dosen), tetapi di Jepang, mengunjungi sekolah bukanlah pekerjaan yang gampang dengan hanya menelepon kepala sekolah kemudian menyatakan ingin berkunjung. Untuk sekolah-sekolah publik/negeri diperlukan prosedural dan birokrasi yang cukup panjang dan ini biasanya hanya bisa dilakukan oleh dosen-dosen senior yang pernah berhubungan langsung dengan sekolah tersebut (misalnya memberikan kuliah di sana) atau mengenal salah satu personal di educational board. Saya pikir prosedural ini sama dengan Indonesia atau negara lain.

Lalu, tidak hanya acara berkunjung yang harus mematuhi unggah-ungguh Japanese, tetapi servis yang menurut orang Jepang harus diberikan kepada tamu hingga makan malam. Dan biasanya professor harus merogoh kocek pribadinya termasuk untuk saya dan teman yang bertugas sebagai interpreter 😀  Ini yang membuat professor-professor bisa bangkrut jika setiap bulan ada saja tamu yang berkunjung.

Yang menggelikan lagi terkait dengan masalah jamuan di restoran adalah kebiasaan makan orang Jepang yang tidak dipahami oleh tamu asing. Biasanya professor akan menanyakan apa yang bisa dan mau kita makan, terkait dengan kehalalannya. Dan karena bagi sebagian orang asing, ikan mentah dan sushi adalah makanan khas Jepang, maka biasanya jamuan makan malam akan berlangsung di restoran sushi atau ikan yang lumayan memuaskan makanannya. Tetapi seperti biasa, porsi makanan yang disajikan tidak sebanding dengan harganya, seperti misalnya sashimi. Biasanya hanya 10-15 irisan ikan, atau menu-menu ikan yang disajikan dalam cawan-cawan kecil yang dipesan hanya 2-3, dengan maksud dimakan bersama-sama. Makanan-makanan ini harus dinikmati sambil minum dan dimakan pelan-pelan, karena diselingi dengan percakapan. Lalu, setelah ini habis datanglah menu kedua, ketiga, dan seterusnya hingga menu nasi secawan kecil dan terakhir makanan penutup.

Bagi orang asing yang terbiasa makan cepat dan segera ingin cepat bersendawa tanda kekenyangan 😀  biasanya agak sulit mengikuti ritme ini, sehingga kadang-kadang dalam percakapan bahasa Jepang yang tidak dipahami oleh si tamu, para professor tersebut menyindir pola makan tersebut, dan tentu saja mereka agak bingung untuk memesan makanan lagi sebab semakin akan menguras isi dompet 😀

Yang kedua, makan sambil mengecap (bunyi cap-cap dan mulut tidak tertutup) adalah tidak sopan bagi orang Jepang, sehingga usahakan ketika mengunyah makanan mulut harus tertutup, dan jika hendak bicara jangan sambil makan. Habiskan dulu makanan di dalam mulut kemudian berbicaralah. Minum sup atau menyeruput soba/udon (mie Jepang) perlu dengan mengeluarkan bunyi. Bisanya orang Jepang memahami orang asing yang tidak bisa melakukan ini (saya termasuk).

Saya biasanya punya trik supaya bisa mengikuti ritme makan orang Jepang. Pertama, saya akan menanyakan jenis makanan yang disajikan, apa namanya, bahannya apa dan terkenal di daerah mana ? Ini akan memperpanjang waktu bercakap dan membuat kita juga perlu makan pelan-pelan sebab sambil mendengarkan pembicaraan. Lalu, setelah sendokan pertama, ucapkanlah “oishii” (enak). Tetapi karena sekarang makin banyak perbendaharaan makanan yang saya ketahui, maka trik ini jarang saya pakai lagi 😀  Lalu,sebagai gantinya saya minum banyak kali, atau memutar-mutar mangkuk/cawan dan mencoba membaca-baca tulisan kanji yang ada di situ (kurang kerjaan hehehe…).

Saya perhatikan pula orang Jepang tak terbiasa mengingatkan kalau seorang asing melakukan kesalahan atau hal yang menurut mereka tak baik. Juga sangat sulit untuk menyuruh kita dengan kata “tolong” apabila kita sama-sama repot. Saya berkali-kali merasakan hal ini ketika professor hendak meminta tolong tetapi saya tidak bisa menangkap jelas bahwa dia benar-benar mengucapkan kata tolong (kudasai, onegai). Maka saya biasanya membaca kondisi ini dengan menyimak penjelasannya tentang skedulnya hari itu, dan kemudian menyodorkan diri kalau-kalau saya diperlukan.

Hal yang juga merupakan penyakit dan tidak hanya bagi orang Jepang barangkali adalah membalas budi. Sudah menjadi hal yang universal bahwa apabila kita sudah mendapat kebaikan dari orang lain, maka sangat sulit untuk menolak permintaan orang tersebut. Demikianlah yang dialami oleh professor-professor saya. Sehingga seperti sebuah hubungan yang timbal balik yang berlaku alami, kedua belah pihak saling berinteraksi. Perbedaannya adalah, orang Jepang merasa sangat tertekan dengan kedatangan tamu sebab mereka beranggapan harus melayaninya dengan pelayanan yang sempurna, dan merasa sangat malu jika tak dapat melakukan hal itu, sementara orang Indonesia atau bangsa lain menganggap tamu akan membawa keberkahan, dan lebih cenderung melayani tamu Jepang dengan apa adanya (apa yang ada di rumah). Ini bisa kita amati bahwa orang Indonesia dengan mudahnya menawarkan penginapan di rumahnya dan orang Jepang sangat jarang yang menawarkan hal serupa.

  1. Sudah menyatu banget kau dg adat dan tradisi Jepang.
    Banyak kali ilmu yang kau dapat dari Jepang, Mur.
    Makin pintar saja kau kini ..?!?
    Makin salut aku ama kau…
    *catatan : dibaca dengan loga batak ya? hehehe*

  2. saya sering membaca tulisan anda tentang Jepang, dan beberapa saya simpan di komputer saya, ternyata memahami orang Jepang sangat sulit. Tapi saya kagum pada kegigihan, kesopanan dan disiplin mereka. Saya juga masih sering nonton film OSHIN di TVRI meski hanya berdurasi 30 menit. Saya ingin tahu Ayako Kobyashi si pemeran Oshin kecil (kalau nggak salah) sekarang kayak apa ya ?

  3. belajar tentang kultur sebuah bangsa perlu buat mereka yang akan berkunjung apalagi tinggal lama ya 🙂

  4. @Pak/Bu Irul : terima kasih atas apresiasinya. Saya jarang nonton dramanya yg sekarang, Pak. Tp kelihatannya dia masih bermain drama, tp tak setenar OSHIN.
    @Mba Hani : Ya, begitulah

  5. Oh saya juga baru tau kalo ternyata 2 kali penolakan itu berarti ‘menolak total’ ya ^_^;
    Biasanya orang kita pakai hitungan ‘tiga’ ya ^^
    Tapi kayaknya kalo soal ritme makan, saya mungkin bisa mengikuti…soalnya saya kalo makan lamaaa sekali, bener2 dinikmati satu-persatu, heheheh.
    Kebetulan saya beberapa kali menemani teman saya yg orang Jepang, semuanya hobi jyoudan, doyan ngobrol. Mungkin karena orang2 muda ya ^^ jadi makan sambil ngobrol, itu pasti…malah ngobrolnya banyakan saya, hihihi.

    Tapi memang saya juga setuju, seterbuka2nya orang Jepang, tetap yang namanya tatemae ga bisa hilang ya. Harus pelan2 dianalisis maksud sebenarnya.
    Saya selalu perhatikan gesture atau ekspresi mereka, walaupun mereka bilang “oishii” atau “omoshiroii” sekalipun…biar tau tanggapan mereka yang sebenarnya.

    Yah kebetulan saja saya selalu dapat teman orang Jepang yang ‘lurus’ cenderung terlalu polos ^o^ dan lumayan ekspresif.
    Walaupun tetap aja kalo bukan inisiatif kita yang menawarkan sesuatu, biasanya mereka jarang minta.

  6. […] Tulisan asli dari artikel ini dan tulisan-tulisan menarik lainnya tentang budaya Jepang dapat pula diakses secara langsung melalui link berikut ini: Susahnya memahami maksud orang Jepang […]

  7. Assalamualaikum,

    Mbak Murni,

    Tulisan inspiratif ini telah di baca lebih lebih 500 orang dalam 24 jam setelah di posting di indosdm.com

    Makasih ya, semoga amal jariah Mbak Ramli diterima dan dibalas dengan lebih baik oleh Allah SWT.

    Salam hangat dari Bojong Gede

    Avis

  8. @Mba Riri : Salam kenal dan terima kasih u share-nya
    @Mas Avis : Matur nuwun atas postingannya

  9. bagus banget tulisannya…memang kalo tidak bergaul secara intens, kita tidak akan bisa memahami karakter orang Jepang sebaik ini….

    Usul: gimana kalau isi blog ini dijadikan buku? pasti menarik deh.

    Semangat ya, mbak!

    murni : Rencana bikin buku sdh ada dari dulu, Pak
    bahkan sdh sy ajukan ke sebuah penerbit, tp kelihatannya kurang pas dg penerbitnya.
    Krn tdk ada waktu luang, jd untuk sementara dibuat di blog sj dulu.
    Cuma ada kekhawatiran wordpress bangkrut lalu semua tulisan saya ilang…wah, gawat.
    sebagian sdh sy amankan di CD, tulisan2 lama, tapi masih ada ratusan yg belum.Nanti stlah disertasinya beres, barangkali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: