murniramli

Amplop

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Maret 18, 2009 at 11:37 am

Semasa SD dulu, saya suka mengoleksi kertas surat bergambar berikut amplopnya. Kadang-kadang barang-barang itu tidak dipakai untuk keperluan sebenarnya tetapi lebih merupakan barang koleksi.

Di Jepang, banyak sekali ragam kertas surat dan amplop yang cantik-cantik. Kadang-kadang saya tertarik untuk mengoleksinya, tapi sejak berada di Jepang, saya mulai berfikir praktis, hanya membeli barang yang benar-benar saya butuhkan, dan menghentikan kebiasaan koleksi mengoleksi barang.

Tapi, ada seorang murid bahasa Indonesia saya yang tampaknya sangat senang dengan hal-hal yang indah. Apabila saya datang mengajar ke rumahnya, maka selalu saja disuguhkannya cangkir yang indah dipandang,dengan pegangan yang unik, pun piring dan kue-kue kecil yang tertata rapih. Saya selalu memuji keindahan ini. Setiap saya hendak pulang, dia selalu membekali dengan kue-kue kecil yang tidak sempat saya makan yang dibungkusnya dengan serbet kertas bergambar bunga. Saya suka sekali memandang serbet itu.

Tapi ada satu hal yang membuat saya terkesan sejak pertama kali mengajar beliau, yaitu amplop yang selalu dipakainya untuk memasukkan honor saya. Amplop itu ada yang mungkin amplop bekas, tetapi amplopnya indah sekali. Beberapa lagi masih baru. Saya yang semula tidak mau mengoleksi amplop, akhirnya terpaksa menumpuk amplop-amplop cantik tersebut.

Bukan masalah amplop yang cantik yang ingin saya ulas di sini, tetapi menghargai orang yang dipekerjakan dengan teknik yang sungguh bernilai.

Di Jepang, apabila kita bekerja di perusahaan/kantor, baik pekerja tetap atau part time, semua gaji biasanya ditransfer ke rekening masing-masing, dan setiap bulannya kita akan menerima amplop laporan gaji dari bos/pegawai di kantor, yang biasanya diberikan sambil mengatakan : “osukaresamadeshita” (artinya kira-kira terima kasih telah bekerja keras).

Tetapi ada juga perusahaan yang memberikan langsung uang (tanpa dimasukkan ke dalam amplop). Sebuah lembaga kursus tempat saya mengajar menerapkan sistem ini, dan saya sebagai penerima gaji itu selalu merasa malu dan tidak nyaman saat menerimanya.

Saya yakin tidak semua orang berperasaan sesensitif saya. Ada yang menganggapnya biasa saja barangkali, sama seperti kontraktor lapangan yang membayar gaji-gaji buruh dengan langsung menghitungnya di depan si buruh.

Tapi, menerima gaji atau memberikan uang sekecil apapun itu dengan memasukkannya ke dalam amplop akan membuat penerimanya merasa sangat dihargai. Apalagi pemberiannya dibarengi dengan ucapan terima kasih.

Iklan
  1. elajaran yang sangat berharga 🙂

  2. Wah di tempat saya kerja part time saj pake amplop kok Bu,…..

  3. Kalo di tempatku kerja, ngitung uangnya depan mata kita, langsung tanpa pandang bulu mata, 😛
    Tapi ngasih uangnya ke karyawan tetep pake amplop, 😀

  4. Gaji masuk rekening. HR dibagi begitu saja tanpa pakai amplop. Soalnya amplop di sini kan berkonotasi suap. Lagi pula “hemat”?!

  5. Assalamu ‘alaikum wr. wb. Salam kenal Mbak/ De Murni, saya seorang ibu rumah tangga yang sedang nyoba belajar blog dan ‘terdampar’ di sini. Saya senang sekali bisa berkenalan dengan Mbak walau hanya di dunia maya.
    Setelah membaca ‘amplop’, saya jadi tersenyum sendiri mengingat saya juga punya pengalaman menyangkut amplop ini.
    Jauh sebelum issu ‘global warming’ di negeri kita mencuat, saya memakai amplop dari kertas bekas ujian anak-anak untuk wadah uang honor untuk para ustadzah TKA/TPA. Amplop itu dibuat oleh anak-anak sendiri sebagai salah satu pelajaran keterampilan.
    Anak-anak senang bisa menghasilkan suatu karya, para ustadzah pun tidak keberatan menerima honor dengan amplop hasil daur ulang (yang penting isinya!Komentar mereka).
    Pada suatu hari, ada saudara dari kota berkunjung.Saudaraku itu bagi ukuran kampungku dianggap hidupnya sudah berhasil.Sebagai salah satu tanda keberhasilannya itu, biasanya yang baru datang dari kota bagi-bagi sedekah kepada saudara-saudaranya di kampung,tidak terkecuali saudaraku yang satu ini juga. Dia meminta amplop kepada saya. Karena yang kupunya cuma amplop hasil karya anak-anak didikku,ya yang aku kasih amplop itu sambil kuceritakan(dengan bangga ,tentunya!) bahwa amplop itu hasil karya anak-anak TKA/TPA. Tapi, alih-alih ia kagum pada ceritaku dan hasil karya anak didikku itu, dia malah berkata dengan ekspresi wajah yang penuh iba(?),”Ya,ampun! Kasihan bener,masa honor guru pakai amplopnya seperti begini!” sambil berlalu ke luar rumah menuju warung untuk………..membeli amplop! Tak tanggung-tanggung dia memberiku………..tiga dus, sambil berkata,” Kira-kira segini cukup ngga buat amplop honor guru setahun?”
    Hei, padahal kalau pada waktu itu saya dikasih kesempatan untuk memilih mau apa, saya akan memilih dikasih untuk isi amplopnya saja supaya bisa untuk menambah honor para ustadzah yang sebetulnya jumlahnya jauh di bawah UMR; kalau amplopnya sih biar tetap hasil karya anak-anakku saja.

  6. @Ibu Ella : salam kenal juga.
    Ya, mendapat gaji dg amplop buatan dari kertas bekas juga pernah saya alami di sekolah di Bogor. Tp itu berlangsung krn sya mengusulkan dmk. Sebagai bentuk penghematan dana sekolah.
    Saya senang membaca cerita Ibu, dan saya pikir anak2 sangat senang bila diberi tugas semacam ini.
    Mereka akan merasa sangat dihargai dan dibutuhkan untuk membuat amplop 😀

  7. To Murni,

    In Indonesia, the most important thing is not about the envelope itself but what the content is while saying ” Jangan dilihat isinya ya, tapi dilihat niat tulus memberinya..” What do you think ? It is interesting, isn’t it? I am not so sure if I belong to this kind of person. I will have myself think about it twice again. My best regards for you and all members. Thank

  8. coba amplopnya difoto lalu diikutkan posting, ikut senang kaliya ngelihatnya

  9. biasanya koleksi amplop plus kertas surat 🙂

    wah memberi uang gaji tanpa amplop, mungkin untuk penghematan kertas…hehehe

    murni : ya, itu salah satu alasan barangkali

  10. kalo di kantor saya mah parah, kadang amplopnya pake amplop bekas kartu kredit he he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: