murniramli

Menulis dengan runut dan bermakna

In Penelitian Pendidikan on Maret 30, 2009 at 12:05 am

Selama 1 hari 1 malam saya menginap di villa seorang professor di Nagano. Kami berempat (prof.utama, asisten prof, dan seorang mhsw doktor) berangkat dengan tujuan bukan untuk bersantai tetapi untuk mendiskusikan masalah penelitian. Saya sebenarnya tidak termasuk dalam tim Comparative Education di Nagoya University, tetapi karena fokus penelitian mereka kebanyakan adalah Indonesia dan Malaysia, khususnya tentang perkembangan Islam dan pendidikan, maka saya sedikit banyak bisa berkomentar.

Dalam salah satu diskusi, professor utama mengatakan bahwa banyak paper yang ditulis mengikuti pola atau runutan penulisan yang baku (pendahuluan, latar belakang, metode, tinjauan pustaka, hasil dan pembahasan, kesimpulan) malah tidak menarik, dan yang ditulis dengan model tanpa pola, justru banyak yang menarik. Saya kemudian menyeletuk bahwa kasus itu barangkali hanya untuk penelitian sosial yang akan lebih menarik memang jika dibawakan dengan gaya bercerita. Tetapi menulis thesis dalam bidang  sains menuntut adanya pola pikir atau runutan penulisan yang saklek.

Saya memang mengalami kesulitan besar saat menulis disertasi dalam bahasa Jepang dan tanpa ada pola baku. Tidak seperti di Indonesia yang pola penulisan thesis atau skripsi sudah dibakukan, di Jepang sama sekali tidak ada pembakuan, khusus untuk bidang sosial. Yang perlu dilakukan adalah menulis hasil penelitian dalam bentuk yang mirip cerita tetapi dengan argumentasi yang kuat, analisa yang tajam yang disesuaikan dengan permasalahan.

Tetapi laporan hasil penelitian bukan sekedar paparan deskriptif, isinya akan sangat menarik jika tetap difokuskan kepada satu permasalahan atau satu point of view (kanten). Bolak-balik saya harus merombak isi disertasi, dan sebagaimana kebiasaan di blog, saya sangat senang bercerita ke sana ke mari, maka saat pertama kali membaca disertasi saya, dua orang professor pembimbing mengatakan : “apa yang ingin kamu jawab dengan tulisan ini ?” Sayangnya mereka tidak mengajari saya bagaimana seharusnya menulis seperti yang mereka maksudkan. Berkali-kali saya tanyakan, dan jawaban dari beberapa orang selalu saja sama, seperti yang ditulis di buku-buku. Saya tetap tidak merasa mendapatkan manfaat berarti yang dapat mengubah pola penulisan saya.

Suatu kali saya minta seorang teman mahasiswa doktor Jepang untuk memeriksa paper yang saya buat, kebetulan penelitian kami tentang Indonesia. Paper yang saya sodorkan adalah paper yang sudah saya perbaiki setelah sebelumnya juga mendapat coretan merah banyak sekali dari professor utama. Kali ini teman saya tidak mempermasalahkan masalah bahasa, tetapi saya minta dia mengkritisi bagian isi dan runutan penulisan. Dan sangat bersyukur karena dia mau menghabiskan waktu seharian untuk mengecek per paragraf, menanyai saya apa yang ingin saya tulis sebenarnya. Dalam proses itu, tiba-tiba di kepala saya mulai tergambar sebuah link seperti jalur kereta bawah tanah di Nagoya.

Bahwa untuk sampai ke Nagoya stasiun dari Nagoya daigaku, saya harus naik kereta line ungu menuju Motoyama, dan harus ganti kereta line kuning menuju Nagoya dalam waktu 14 menit. Selain rute itu tentu saja ada rute yang lain. Maka seperti itulah urutan cerita dalam disertasi yang harus saya buat. Gambaran lain adalah urutan kegiatan di pagi hari. Urutan yang biasa saya lakukan adalah bangun (setelah tidur sejenak sesudah sholat subuh), menyetel TV  dan menonton sambil tetap meringkuk di bawah selimut  karena udara dingin, kadang-kadang membuka komputer dan mulai mengetik disertasi, mandi, sarapan (kadang-kadang tidak), menyeterika, sambil menunggu seterika panas merapikan tempat tidur, berpakaian, berangkat. Rutinitas seperti itu tujuannya adalah persiapan mesiu dan perlengkapan untuk pertempuran hidup di hari itu. Pada bagian-bagian tertentu dalam rutinitas itu ada yang memakan waktu agak lama, adapula yang sangat singkat, seperti sarapan misalnya. Karena sangat singkat maka kadang-kadang setibanya di kampus perut saya langsung bernyanyi. Sebaliknya menonton TV kadang-kadang memakan waktu 1-2 jam yang pada akhirnya menimbulkan penyesalan karena hanya buang waktu dan tidak bisa datang lebih pagi ke kampus.

Proses menulis sama seperti itu. Di bagian tertentu yang kita sangat tertarik, kita tulis dengan sangat panjang, bertele-tele, dan di bagian lain yang hanya merupakan kutipan misalnya kita tulis ala kadarnya tanpa ada penjelasan. Pada bagian-bagian yang kurang penjelasan, biasanya sensei-sensei Jepang akan berkomentar “mou chotto hoshii naa” (sedikit lagi akan terasa ayem). Ya, membaca bagian yang kurang penjelasan seakan-akan makan tapi dalam porsi yang tidak mengenyangkan, sehingga masih terasa lapar. Sebaliknya membaca bagian yang bertele-tele seakan makan makanan untuk 3 orang. Porsi makan seseorang sudah cukup adanya, tapi kita dipaksa untuk menelan porsi makanan 2 orang lagi, yang membuat kita selanjutnya tidak mampu mencernanya dengan baik lagi.

Dalam proses penulisan biasanya kita dianjurkan untuk membuat outline penulisan. Saya termasuk orang yang paling susah mentaati outline. Sekalipun outline sudah saya susun, tulisan jadinya biasanya menyimpang dan membengkak. Menurut sensei, saya terlalu kebanyakan ide dan argumen di kepala dan kebingungan untuk tetap konsisten pada fokus bahasan.

Untuk orang-orang yang setipe dengan saya, maka langkah menyusun kembali jalur tulisan sangat perlu. Pertama sarikan kembali poin-poin bahasan per paragraf, lalu masukkan dalam rangkaian yang menghubungkan antara titik awal (permasalahan atau pertanyaan) secara berurutan seperti layaknya jalur stasiun kereta sampai di titik akhir (jawaban atas pertanyaan). Dalam proses ini jangan segan untuk menghapus, membuang bagian yang membuat tulisan membengkak dan jangan merasa capek pula untuk menambah bagian-bagian yang kurang sehingga dapat membuat pembacanya bersendawa atau manggut-manggut. Setelah memeriksa ulang dan memperbaikinya, maka minta kembali orang lain untuk membacanya.

Demikianlah, menulis dengan runut dan bermakna memang kelihatannya gampang seakan naik kereta yang hanya sekedar mengikuti jalur yang sudah ada, tetapi jika kita tidak segera menuliskannya maka kita tidak akan paham jalur yang seharusnya kita tempuh. sehingga nasihat yang cukup baik barangkali bagi para penulis skripsi/thesis/disertasi adalah jangan terlalu banyak membaca buku panduan menulis, dan kurangi banyak berbicara/bercerita tentang penelitian anda kepada orang lain tanpa teks tulisan, tapi mulailah menulis dan berbicara/presentasi berdasarkan apa yang anda sudah tulis.

Iklan
  1. tesisnya lebih kebentuk narasi ya mbak? menarik ya 🙂

    murni : ndak juga Mba Hani. Bentuk narasi memang disukai beberapa peneliti sosial di Jepang, tp Prof saya tdk begitu. Jd pernyataan yg ditulis per paragraf harus pernyataan yang bernas, bermakna dan bukan sekedar pernyataan subyektif, tp hrs dibuktikan. wah….bingung menerangkannya

  2. Yth, ibu murni,

    Membaca artikel anda, saya jadi teringat waktu menulis skripsi saya waktu kuliah di Nagasaki dulu. Ternyata ada juga orang yang berkenaan dengan cara penulisan yang runtut demikian. Jika anda banyak coretan merahnya apalagi saya he.he.he. maknya draftnya saya bawa pulang untuk memahami, maunya apa sih profesor saya itu, karena saya dapat 2 orang profesor, satu dari jepang dan satu lagi dari Inggris,makanya permasalahan saya jadi lebih berat.
    Tetapi prinsipnya pemaparan bu murni, saya setuju juga.
    Semangat ya bu, kita doakan dari INA
    Salam juga untuk komenatator lainya, juga Bu Hani yang suka Narative haa.ha. maaf bu, joudan dake desu

    murni : terima kasih doanya, Pak

  3. assalamualaikum. bu murni, saya mahasiswa yang sedikit-sedikit tertarik di dunia tulis menulis. tapi ya masih butuh banyak berlatih, sekedar nanya, kalo di jepang apa ada juga kompetisi2 untuk para penulis atau peneliti seperti di indonesia. oya… kalo berkenan bu murni bisa beri saya contoh bentuk tulisan yang ibu maksud di tulisan ini.? mudah2an bisa memperkaya khazanah keilmuan saya di bidang tulis menulis… syukran jazilan, wa nad’u li najahik

    murni : Dek Khoirur, tulisan yg dimaksud adalah disertasi saya, dalam bahasa Jepang dan belum bisa saya share karena belum selesai.

  4. Wow … pengalaman mengasyikkan, berbahagialah Sampeyan

    murni : alhamdulillah, Pak

  5. Hmm tulisan ini bagus. Jadi jikalau saya dapat kesempatan sekolah lagi di jepun di bidang ilmu sosial, paling tidak ada gambaran. ngomong-omong kapan menulis di tribun jabar lagi. Semoga suskes mbak murni

    murni : nulisnya belum sempat2 lagi Pak Aditya. Masih sibuk dg urusan disertasi.

  6. Selamat Siang…
    Salam Pendidikan dan Salam Kenal dari Balikpapan…
    Boleh bertukar link..? 😀

    murni : salam kenal juga.silahkan ditaut

  7. Assalamu ‘alaikum ww. Mbak Murni,saya sedang belajar menuangkan ide ke dalam tulisan;Menulis saya jadikan sebagai terapi untuk mengembalikan kemampuan ‘berpikir’ saya setelah kena stroke pasca melahirkan. Tulisan Mbak di atas menyemangati saya untuk terus belajar. Terima kasih ya Mbak.

  8. @Ibu Ella : senang mendengar tulisan ini dapat menyemangati Ibu.
    Selamat berkarya

  9. bu, saya kopi ya postingannya. seperti postingan pak ERSIS, sering juga saya kopi. sekedar untuk dibaca-baca ketika offline, karena tulisan ini bermanfaat

  10. @Pak Budi, silahkan Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: