murniramli

Tulisan Ilmiah sangat perlu direview

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan on April 12, 2009 at 12:02 pm

Baru-baru ini salah satu bagian dari disertasi saya berjudul, The Study of the Historical Transition of the Educational System in Indonesia : Focus on Secondary Education’s Concept in New Order and Decentralization Era dimuat dalam Jurnal kampus. Tulisan tersebut berbahasa Jepang.

Bagi sebagian orang, mungkin ini biasa saja, sebab levelnya masih kampus. Tapi bagi saya, ini sebuah keberhasilan sebab ini adalah artikel pertama saya di Jurnal yang memberlakukan review agak ketat. Dan tentu saja karena ini berbahasa Jepang, maka saya sangat lega bisa lolos. Alhamdulillah.

Beberapa kali paper saya dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris ditolak, dan ini hampir membuat saya putus asa untuk menulis dalam kedua bahasa tersebut.

Saya bertekad menuliskan paper penelitian saya dalam Bahasa Indonesia dan bermaksud menerbitkannya dalam Jurnal Ilmiah di Indonesia. Sebuah tulisan telah saya terbitkan ke sebuah Jurnal milik sebuah universitas, tahun lalu, tapi hingga detik ini saya belum menerima tanggapan penerimaan atau penolakan, atau review tentang nasib paper tersebut.

Ketika mengikuti konferensi di Malaysia, saya juga mencoba memasukkan paper saya ke Jurnal sebuah universitas di sana. Sayangnya hampir setahun tanpa ada kabar. Setelah saya kirimkan email kepada komite pelaksana konferensi, barulah saya tahu paper saya ditolak dengan alasan bahasa. Ya, saya akui saya masih harus banyak melatih diri untuk menulis paper ilmiah dalam bahasa asing. Hanya sangat disayangkan karena pihak editorial jurnal tidak mengabarkan tentang penolakan tersebut. Saya pikir, pihak editorial tidak akan mengabari, seandainya saya tidak menanyakannya.

Sebuah paper juga terbit di sebuah jurnal yang baru di Indonesia, tetapi tanpa pemberitahuan dan tanpa review. Sekalipun Jurnal tersebut menampilkan beberapa nama pakar pendidikan sebagai pihak reviewer.

Sebenarnya Jurnal di fakultas Pendidikan di Nagoya University juga tidak sangat ketat mereview, tetapi juga tidak lunak. Sebagai gambaran, saya mengirimkan artikel saya pada bulan Oktober 2008. Setelah sebelumnya artikel tersebut diperiksa oleh dosen pembimbing. Setelah itu artikel tersebut dikembalikan beberapa pekan kemudian dengan penunjukkan tiga orang dosen sebagai reviewer. Saya membawa paper tersebut kepada tiga orang dosen tersebut dan menerima coretan merah banyak sekali. Setelah itu saya memasukkan lagi paper yang sudah saya perbaiki pada bulan November atau Desember awal. Kemudian terbitlah bentuk print out pertama yang masih harus dikoreksi. Kembali paper ini saya diskusikan dengan dua orang dosen yang ditunjuk sebagai reviewer. Setelah itu, saya masukkan lagi perbaikan pertama. Kemudian bulan Februari, terbit bentuk print out hasil koreksi, dan saya diminta mengecek kembali bahasa atau kalau ada kesalahan dalam waktu seminggu. Sampai proses ini kesalahannya makin sedikit. Setelah itu saya kembalikan perbaikan kedua. Dan kemudian keluar print out versi edit yang tidak bisa dikoreksi lagi. Setelah itu, bulan Maret atau awal April, artikel tersebut terbit.

Sebuah paper pernah saya kirimkan ke sebuah Jurnal berbahasa Inggris yang diterbitkan di Jepang. Dan sungguh tidak disangka, editor membalas dalam waktu 2 bulan setelah pengiriman dengan jawaban ditolak dan dilengkapi dengan komentar yang sangat membangun.

Sebuah paper lagi saya kirimkan ke Jurnal berbahasa Jepang yang levelnya agak tinggi. Dan hanya dalam waktu dua bulan (sesuai dengan skedul yang dituliskan di Jurnal), saya mendapatkan tanggapan tentang penolakan artikel juga dilengkapi dengan dua lembar komentar dan review yang sangat membangun.

Adanya review dan komentar yang seperti itu merupakan sebuah pelajaran berharga bagi peneliti pemula seperti saya. Saya lebih suka tulisan saya dicoret dan dikritisi dengan tajam, misalnya dengan kata-kata pedas, ” ini sangat tidak layak sebagai karya ilmiah”, atau “penulis tidak fokus, dll, daripada tidak ada komentar sama sekali.

Setelah terbitnya paper di Jurnal kampus, professor saya mendorong saya untuk menulis lagi untuk diterbitkan di sebuah Jurnal Gakkai (Research Meeting), dan satu lagi dimasukkan ke Jurnal kampus lagi.

Saya sampaikan kepada professor, bahwa sebenarnya saya sangat ingin  menerbitkan paper saya di jurnal kampus di Indonesia. Sayangnya saya belum mendapatkan Jurnal yang benar-benar mereview tulisan saya. Sampai-sampai saya terfikir untuk mengirimkan paper saya kepada salah seorang Professor di sebuah universitas di Indonesia, untuk mendapatkan masukan.

Saya pikir semakin banyak tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia, akan menghidupkan dunia penelitian di Indonesia.Kebiasaan tulis menulis yang bukan asal, tetapi menulis dengan bertanggung jawab harus mulai dibudayakan.

Oleh karena itu, sudah saatnya jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola universitas tidak lagi hanya sekedar menerima paper, tetapi melakukan review sesungguhnya dan memperbaiki manajemen penerbitan menjadi lebih baik. Seperti misalnya memberikan respon segera kepada penulis, menetapkan batas review dan proses edit, dan memberikan review yang membangun.

Dalam kaitannya dengan ini, tidak hanya dosen dan peneliti, tetapi guru-guru pun saat ini dibebankan untuk menulis karya ilmiah. Sangat disayangkan jika tulisan tersebut hanya sekedar tulisan yang dibuat untuk memperoleh sertifikat atau KUM.

Iklan
  1. wah sepertinya sulit sekali yah, padahal kalau di indonesia kayaknya mudah, kayaknya lho. Karena pada acara konferensi Teknik Sipil 3 yang akan diselenggarakan UPH saja sudah menerima lebih dari 100 paper dalam waktu sekitar 5 bulan.

    murni : ya, semangat berkonferensi cukup tinggi di Indonesia, tp mudah2an bukan krn iming2 KUM.
    Konferensi berbeda dg Jurnal. Dlm konferensi, tdk perlu full paper, bahkan kadang2 seseorang menyampaikan hal yg bukan penelitiannya. Tp jurnal sangat terkait dg keilmuan dan penelitian. Jadi makanya sangat dibutuhkan review.

  2. “tetapi menulis dengan bertanggung jawab harus mulai dibudayakan.”

    Setuju, bu. Bahkan tidak hanya untuk kategori tulisan ilmiah, artikel di media massa kalau perlu juga bisa mendapatkan review dari pihak yang berwenang. Saya sedang memprihatinkan media massa yang meloloskan artikel-artikel kontroversial hanya untuk populeritas.
    Maaf, OOT, saya awam dalam hal ini. Bagaimana guru dibebani penulisan karya ilmiah?

  3. Makanya ada jurnal terakreditas atau tidak ya, baik jurnal nasional dan international. bahkan untuk jurnal international pake “rating” segala 🙂 Kalau untuk seminar nasional dan internasional- yang hasilnya biasanya dalam bentuk prosiding, relatif tidak terlalu ketat dibandingkan jurnal ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: