murniramli

Lelang Sekolah dan penurunan penduduk muda

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on April 15, 2009 at 12:18 pm

Tadi pagi saya menyimak berita di sebuah channel TV di Jepang tentang lelang sebuah SD di kota Niikappu, Hokkaido melalui pelelangan di internet. Dari berita yang disajikan di sini diketahui bahwa pelelangan terjadi sebagai akibat adanya merger sekolah-sekolah.

Seperti pernah saya tulis dalam blog ini bahwa karena terjadi penurunan jumlah anak-anak usia sekolah di beberapa daerah di Jepang, maka banyak sekolah yang tidak mempunyai atau hanya sedikit murid (kurang dari 10). Oleh karena itu, untuk menekan biaya operasional yang besar, sekolah-sekolah harus dimerger.

Di kota Niikappu semula ada 9 SD yang tahun lalu pada bulan April dimerger menjadi 2 sekolah.  Tujuh sekolah yang tersisa kemudian dijual bagian2nya seperti lapangan, lapangan, bangunan, kolam renang, dan rumah guru. Tiga di antaranya dijual untuk keperluan panti jompo, sekolah berkuda, sedangkan 4 sekolah lainnya karena belum laku juga diputuskan untuk dijual melalui pelelangan di internet. Harga yang dipatok adalah sebesar 21,8juta yen ~67,4juta yen yang dapat dilunasi selama 19-34 tahun.

Saya teringat sejarah one room school di Amerika yang didirikan karena keinginan untuk menampung anak2 yang ingin bersekolah walaupun jumlahnya hanya 3 orang. Pemerintah biasanya kesulitan untuk menyediakan fasilitas pendidikan untuk wilayah terpelosok dengan jumlah siswa terbatas. Tetapi semangat bersekolah untuk menjadi orang terdidik tak boleh dipatahkan, sehingga dalam banyak kasus, masyarakat secara pribadi membuka kelas-kelas semacam one room school untuk mengajarkan anak baca tulis hitung.

Sekolah-sekolah yang dilelang di Jepang bukan sekolah yang buruk. Sebagaiamana sering ditulis, fasilitas sekolah di Jepang terstandardisasi. Di mana pun sekolah itu berada, ruang kelas, lapangan, kolam renang dll pasti tersedia. Bahkan semua sekolah mempunyai meja kursi yang sama, loker sepatu yang sama, dan bahkan papan tulis yang sama, berwarna hijau. Bedanya hanya sekolah-sekolah yang lama kebanyakan dibangun dengan konstruksi besi, sedangkan sekolah-sekolah baru banyak menggunakan konstruksi kayu.

Pembangunan sekolah di sebuah wilayah tentunya telah menghitung dengan cermat jumlah siswa yang akan tertampung di dalamnya. Jika di Indonesia yang jumlah populasi berusia mudanya masih dalam taraf tumbuh, maka kesulitannya adalah menyediakan sekolah dalam jumlah memadai. Tetapi bagi Jepang yang membangun sekolah-sekolah pada saat situasi demografi masih menunjukkan kurva yang menaik, maka di saat kurva pertumbuhan pendudukan mendekati bahkan mencapai angka nol, kesulitannya adalah mencari murid untuk duduk di sekolah-sekolah yang telah dibangun puluhan tahun lalu.

Pandangan penduduk di Jepang mengalami perubahan yang sangat tajam, yaitu dari komunitas yang menginginkan keluarga besar untuk mengelola industri rumah, menjadi komunitas yang hanya memiliki satu atau dua anak, atau menghindari pernikahan, karena beratnya beban biaya pengurusan seorang anak. Sekalipun pemerintah di hampir semua kota memberikan fasilitas biaya rumah sakit gratis untuk ibu2 yang melahirkan, memberikan tunjangan kepada anak, atau memberikan tunjangan uang sekolah (bagi SD dan SMP uang sekolah gratis), tetapi ini belum mampu mendongkrak angka kelahiran di Jepang.Ya, sebab biaya pengurusan seorang anak bukan hanya biaya pendidikan, tetapi biaya di luar itu lebih besar. Dan ini yang tidak sanggup ditanggung oleh orang-orang muda.

Jika jumlah siswa di level SD mengalami penurunan, apatah lagi di level yang lebih tinggi. Oleh karena itu beberapa universitas di Jepang menyediakan beasiswa untuk menampung sejumlah mahasiswa asing. Dari perbincangan dengan wakil dekan fakultas pendidikan beberapa waktu yang lalu, ditargetkan sekitar 300.000 ribu mahasiswa asing akan diterima di universitas2 Jepang hingga tahun 2010. Target dan rencana ini menjadi tersendat karena krisis ekonomi. Tetapi sekalipun sulit membiayai mahasiswa tersebut, banyak universitas yang menawarkan fasilitas potongan beasiswa atau uang masuk, dan kemudahan lainnya. Dan bagaimanapun juga, Jepang memiliki daya tarik tersendiri bagi ribuan mahasiswa dari negara Cina yang sekalipun tak mendapat beasiswa tetap akan berjuang untuk masuk dan memiliki status college student di Jepang.

Masuknya orang-orang asing ke Jepang merupakan sebuah nilai positif dan sekaligus negatif. Nilai positif dapat disimpulkan dari terpenuhinya kekosongan lowongan kerja dan sekolah oleh orang-orang asing, dan tetap berputarnya perekonomian Jepang. Segi negatifnya adalah semakin sulitnya Jepang mempertahankan nilai-nilai kedisiplinan dan budaya bersihnya.

Ya, kemajuan selalu saja mendatangkan efek samping selain manfaatnya yang berlimpah.

Iklan
  1. Bu Murni,
    Lho kok di tempat kita malah ada bengkok yang dilelang untuk sekolah ya, he..he.. Apa karena pendidikan udah bisa jadi lahan bisnis ya bu.. Udah sakura belum bu? udah HANAMI belum?

    murni : ya, sudah lewat sakuranya, Pak
    sakura tahun ini mekar lebih cepat, rontoknya juga cepat.

  2. kalau dengar nama bu Murni koq rasanya teringat ama bungan Sakura. Ayo bu segera pulang, Indonesia sudah menunggu bu Murni jadi CALEG dari partai Bunga Sakura he…he…
    Salam kenal bu

  3. jadi teringat kisah ….Laskar Pelangi .. hiks..hiks..hiks…

    …..Berkembangnya diskusi pendidikan inklusi berawal dari pengalaman Bu Mus menangani anak terbelakang mental. Ia tidak membeda-bedakan anak didik. Ia punya kiat khusus memperlakukan anak terbelakang, sehingga tetap semangat belajar. Dalam kelas Laskar Pelangi, dari sepuluh murid, ada satu anak yang terbelakang mental, bernama Harun.

    Saat masuk kelas 1 SD, umur Harun sudah 15 tahun, dan tercatat sebagai murid yang mendaftar paling akhir. Meski terbelakang mental, kehadiran Harun disambut bagaikan pahlawan. Harun berjasa menyelamatkan kelangsungan pendidikan di SSD Muhammadiyah Belitong.

    Pengawas sekolah dari Depdikbud SUmatera Selatan sudah mem – peringatkan, kalau tidak mampu mencari murid minimal sepuluh orang, sekolah dasar paling tua di Belitong itu akan ditutup. Tahun sebelumnya, SD itu masih isa merekrut 11 anak. Tapi tahun itu, saat anak-anak Laskar Pelangi masuk, para guru dan orang tua murid sempat panik, hingga deadline pukul 11.00, murid yang terdaftar baru sembilan orang.

    Dalam situasi kritis itu, Harus datang, didampingi ibunya, men- daftar sebagai murid kesepuluh. Selamatlah SD MUhammadiyah dari ancaman penutupan. Dipilihnya SD tersebut oleh orangtua Harun lebih banak karena faktor kebetulan. sekolah Luar Biasa (SLB), kebetulan, tidak tersedia di Pulau Belitong.

    Adanya di Pulau Bangka, pulau yang terpisah Selat Gaspar, di sebelah Barat Belitong.

    Selain jauh, orangtua Harun tak punya cukup ongkos sekolah ke sana. Alasan berikutnya, dan ini cukup menggelikan, menurut Ibunya Harun,”Lagi pula lebih baik kutitipkan di sekolah ini daripada di rumah dia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku.”

    “Dengan bekal cinta, Bu Muslimah sudah menemukan teori-teori yang mungkin baru sepuluh tahun terakhir ini kita pelajari.”

    Haidar Bagir, Pendiri Yayasan Lazuardi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: