murniramli

Kaisar yang dicintai rakyatnya

In Serba-Serbi Jepang on April 25, 2009 at 1:34 pm

Pagi ini sebuah channel TV di Jepang menyiarkan tentang kehidupan Kaisar (Tenno) yang memperingati pernikahannya dengan Putri Michiko ke-50 tahun. Sekalipun dalam sistem pemerintahan Tenno tidak memiliki kekuasaaan secara politik, tapi setiap kali menyaksikan siaran tentang perjalanannya mengunjungi rakyat Jepang di seantero negeri, saya bisa menangkap karisma dan daya pengikat rakyat Jepang  dalam diri Tenno.

Saat terjadi gempa besar di Niigata, Tenno dan Putri Michiko mendatangi para korban yang sedang mengungsi di pusat pengungsian. Kedatangannya membawa sebuah semangat baru bagi rakyatnya yang sedang tak berdaya menghadapi musibah.

Dalam siaran pagi ini digambarkan tentang aktifitas jalan-jalan mengitari halaman istana yang dipenuhi dengan pohon-pohon tua bersejarah. Terlihat sesekali Tenno mencabut rumput berumbi dan menyerahkannya kepada Putri Michiko. Kelihatan mereka berdua sangat paham dengan tanam-tanaman. Di bagian lain, Tenno menemui rombongan dari Kyoto University yang membicarakan tentang upaya pelestarian tanaman.

Selain gambaran di masa tuanya ditampilkan pula episode Tenno muda. Gaya bicaranya sangat berbeda dengan Tenno yang sekarang. Tenno muda sangat tegas dan terkesan bicara lebih blak-blakan sebagaimana layaknya anak muda Jepang pada masanya. Tenno dalam usia saat ini, bicaranya sangat halus dan bijaksana.

Saya teringat kepada ucapan seorang professor yang terkenal keras dan strict kepada mahasiswanya tentang kelonggaran sikapnya akhir-akhir ini. Beliau mengatakan bahwa, “toshi o totta ningen wa maru ni natta”. Artinya manusia itu semakin tua semakin bijak. Dia tidak lagi kaku seperti sudut meja yang menyiku, tetapi akan menjadi melengkung bahkan menjadi bundar.

Ya, saya melihat Tenno seperti itu. Dalam usianya yang sudah uzur, terlihat kebijakan di wajah dan perkataannya.

Sebagai spirit bagi rakyatnya, Tenno dan Putri Michiko sangat menghargai hasil karya rakyat Jepang. Mainan yang diberikan kepada cucu-cucunya adalah mainan kayu hasil karya anak-anak handicapped di sebuah kota Jepang. Tenno juga ikut memanen padi setiap tahunnya, dan Putri Michiko ikut terlibat dalam pemeliharaan ulat sutera yang menghasilkan sutera Jepang yang sangat tinggi kualitasnya. Dikatakan bahwa Putri Michiko sesekali masih membuatkan Tenno penganan khas Jepang, mochi yang diberi pewarna hijau dari perdu yomogi. Yomogi banyak tumbuh di halaman istana.

Kunjungan Tenno dan Putri Michiko selalu saja mendatangkan keharuan bagi rakyat Jepang, di mana pun mereka berada. Kunjungannya ke Brazil dan Saipan, menemui rakat Jepang di sana, yang masih menyisakan keperihan perang dunia disambut masyarakat Jepang di sana dengan sukacita. Tenno dan Putri Michiko terlihat serius mendengarkan seorang kakek bercerita tentang upayanya melarikan diri. Kedatangannya ke Belanda yang disambut protes sekelompok keluarga korban perang menuntut pemerintah Jepang untuk bertanggungjawab, dijawab oleh Tenno dalam sebuah pidatonya bahwa beliau pun tidak berusaha melupakan akibat perang tersebut. Ya, sekalipun beliau tidak terlibat langsung dalam perang, tetapi kaitannya dengan ayahnya yang memimpin Jepang pada masa itu, Kaisar Hirohito, tidak mudah untuk dilepaskan begitu saja.

Sebagaimana putranya, Pangeran Naruhito, Tenno juga gemar dan memiliki apresiasi yang tinggi dengan segala bentuk kesenian. Bahkan Puteri Michiko ikut terlibat sebagai pianis dalam sebuah konser. Pangeran Naruhito juga pernah tampil sebagai pemain biola. Kecintaan kepada alam, tanaman dan hewan yang ada di Jepang sepertinya menjadi hal wajib yang harus ditanamkan kepada anggota kerajaan. Hampir semuanya sangat perhatian dengan tanaman, dan putra kedua adalah seorang zoologis.Tidak ada satupun putranya yang berkecimpung di bidang usaha, mereka terlihat cenderung bergelut di bidang pengembangan sains dan budaya.

Banyak pemimpin yang dicaci dan dijelekkan oleh rakyatnya atau oleh masyarakat dunia karena ketidakarifannya, tetapi saya belum pernah menyaksikan dan mendengarkan orang Jepang yang menjelek-jelekkan kaisarnya. Dan memang tidak selayaknya dijelekkan,karena santun dan cintanya beliau kepada rakyatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: