murniramli

Mempertanyakan Lembaga Penitipan Anak di Jepang

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on April 25, 2009 at 2:20 pm

Dua hari yang lalu, seorang perempuan Jepang yang sudah berusia kira-kira 60 tahun, tetapi masih menjadi mahasiswa doktor di kampus saya, bercerita tentang diskusi yang mempersoalkan kehadiran Lembaga Penitipan Anak (Hoikuen) yang menjamur di Jepang.

Hoikuen (保育園)berada di bawah pembinaan Menteri Kesejahteraan. Lembaga-lembaga ini berkembang sangat pesat di Jepang karena banyaknya jumlah ibu yang keluar bekerja. Hampir semua teman Indonesia yang merangkap menjadi mahasiswa dan memiliki anak balita, pasti mengirimkan anaknya ke hoikuen.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh teman tsb, seorang politisi wanita Jepang mengatakan hendaknya perkembangan hoikuen dibatasi karena membuat semakin banyak wanita yang tidak mempedulikan pengasuhan anaknya. Dia bahkan meminta pemerintah untuk menghapus lembaga ini.

Teman saya yang juga merupakan peneliti wanita dan masalah gender di Jepang menolak pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa hoikuen adalah sebuah lembaga yang harus digiatkan di masa krisis seperti ini.

Semula saya termasuk yang mendukung pernyataan bahwa anak balita harus dalam pengasuhan ibunya hingga dia layak masuk ke Taman Kanak-Kanak. Tetapi mencermati krisis ekonomi yang melanda Jepang saat ini, memang tidak bisa dipungkiri perlunya hoikuen.

Saat krisis ekonomi melanda Jepang banyak suami yang diPHK atau dikurangi jam kerjanya. Hal ini akan sangat berimbas dengan asap dapur dan kehidupan keluarga di Jepang. Kondisi ini pula yang memaksa ibu-ibu yang semula tidak perlu bekerja di luar rumah, menjadi harus keluar bekerja.

Dalam kondisi seperti ini di Indonesia, biasanya anak-anak balita akan dipelihara oleh keluarga lainnya, misalnya nenek, kakek, paman/bibi, tetapi di Jepang ini sangat sulit, sebab umumnya anak yang sudah menikah tinggal memisah dengan orang tuanya. Jika di Indonesia kadang-kadang anak menjadi “anak pembantu”, karena kebanyakan diurus oleh pembantu, di Jepang pun tidak memungkingkan sebab hanya keluarga yang sangat kaya sekali yang mempekerjakan pembantu. Rata-rata semua pekerjaan rumah tangga di keluarga-keluarga Jepang dilakukan oleh ibu.

Saya bisa menerima alasan teman saya. Tetapi saya katakan bahwa di dalam Islam ada aturan selama minimal 2 tahun anak harus tetap diberi ASI dan berada dalam pengasuhan ibunya. Teman saya kemudian mengatakan bahwa dia juga mengusulkan hal yang sama dalam diskusi tsb. Dia katakan bahwa sekalipun dia mendukung hoikuen, tetap saja harus dibatasi usia anak yang boleh dikirim ke hoikuen. Selama 2 tahun sebaiknya ibu berusaha sekuat tenaga mengasuh anak di rumah, dan tentu saja baru mengirimnya ke hoikuen jika memang sudah tidak mungkin mengasuhnya dalam usia tersebut.

Saya menarik nafas panjang, dan terpekur memikirkan betapa besarnya beban wanita dalam hal ini.

Era ketika hanya laki-laki yang menguasai dunia kerja, dan menyuruh wanita untuk tinggal di rumah dengan tugas utama pengaturan rumah tangga dan pengasuhan anak sudah lewat.Wanita tidak mau menjadi golongan yang terkungkung. Mereka juga ingin menjadi orang yang terdidik. Dan setelah menjadi terdidik, maka beberapa wanita mampu melampaui keahlian laki-laki, lalu masuklah jaman di mana wanita menuntut laki-laki untuk mengakui ability mereka melalui pemberian kesempatan bekerja di kantor dan industri. Saat wanita memutuskan untuk bekerja, maka mulailah kita dihadapkan pada situasi siapa yang harus mengasuh anak?

Di masyarakat pedesaan yang wanitanya biasa bekerja di sawah, pengasuhan anak bisanya diserahkan kepada keluarga besar atau tetangga. Tetapi di kota besar, pengasuhan anak terpaksa dilimpahkan kepada pembantu/baby sitter atau sebagaimana di Jepang, di lembaga hoikuen.

Kita tidak bisa menyalahkan perubahan sosial atau kesepakatan alami yang meloloskan wanita pergi bekerja di luar rumah, sebab itu adalah sebuah penyesuaian terhadap masyarakat yang berubah. Yang perlu dilakukan adalah mengupdate metode pengsuhan anak, untuk menjaga agar sekalipun wanita tetap bekerja di luar, tugasnya sebagai pengasuh dan pendidik anak di rumah tetap dapat berjalan.

Salah satu pendekatan dan metode itu adalah hoikuen.

Sayangnya banyak hoikuen yang menerima balita yang masih merah. Bayi-bayi berusia 6 bulan, belum genap setahun sudah dikirimkan ke hoikuen karena ibunya terpaksa harus bekerja/kuliah.

Dalam kasus yang demikian, pemerintah, pihak kantor/kampus hendaknya memberikan kelonggaran kepada ibu untuk memberikan ijin cuti pengasuhan anak dalam masa yang cukup dan tetap memberikan gaji untuk yang bekerja, dan ibu, sekalipun memang berat harus berani mengambil resiko memilih mengasuh anak ketimbang mengerjakan yang lain hingga si anak cukup merasakan kehangatan dan kasih sayang ibunya.

Seandainya tidak dapat, maka langkah menitipkan anak di lembaga yang dekat dengan tempat bekerja, sehingga memungkinkan untuk ditengok dalam masa satu jam, adalah salah satu pilihan.

Sayang sekali dalam beberapa kasus, banyak juga ibu yang memilih menitipkan anak di hoikuen dan pergi bekerja, sekalipun penghasilan suami memadai. Hoikuen dalam kasus ini menjadi lembaga pelarian perempuan untuk lepas dari pengasuhan anak.

Saya sungguh bersyukur mendapatkan pengasuhan yang cukup di masa balita, dan untung sekali mamak tidak terpaksa bekerja di luar saat kami masih kecil.

Iklan
  1. Salam Kenal
    Saya Mala dari Rumah Aqiqah…
    Saya ingin berbagi informasi mengenai Aqiqah…
    Banyak cara untuk berbagi kepada sesama. Rumah Aqiqah (RA) membantu penyaluran Aqiqah kepada orang-orang yang membutuhkan di berbagai pelosok Tanah Air. RA sudah memiliki 17 cabang di berbagai kota di Indonesia. RA juga sudah bekerjasama dengan berbagai lembaga sosial, antara lain di Australia, Malaysia dan singapura. YM : mala15_fathiya@yahoo.com

  2. mbak…he..he.. tapi mungkin perlu juga ditanyain bagaimana perasaan seorang ibu saat dia pertama kali harus meletakkan bayinya yg baru berumur 1 bulan 3 minggu di hoikuen meskipun hanya 1 jam saja saat itu ?

  3. @ambi : sya bisa memahaminya.tidak akan ada ibu yg tega merelakan orok yg masih merah di tangan pengasuhan orang yg tak dikenalnya di hoikuen.bahkan saat bayi itu baru saja lahir,ibu ndak akan tega dan khawatir ktk perawat membawanya pergi.apatah lagi bayi yg sdh dalam pengasuhan 1 bln, 3 minggu.
    tp dalam keadaan terpaksa, perasaan “enggan” itu “terbunuh” secara pelan-pelan sejalan dg waktu, sejalan pula dg kepercayaan yg mulai tertanam kpd pihak houikuen.

    Jk tdk memahami masalah personal seorang ibu, mk dg mudah kita dapat menuduhnya lalai dg pengasuhan anaknya. Lalai dan tidaknya adalah penilaian yg absurd, org luar hanya menilai dr kasat mata, sejauh pandangan yg terlihat,tp hati nurani ibu itu sendiri yg sangat murni dalam menilai, dan itu adalah “tanya jawab”nya dg Allah.

    Pointnya adalah : Sudah waktunya kaum ibu diberi hak pengasuhan yg lebih baik baik oleh perusahaan/kampus.Agar dapat menghabiskan waktu pengasuhan minimal 6 bulan~ 1 tahun.
    Bukankah ini yg harus kita tuntut ?

    • betul mbak, saya setuju masa pengasuhan minimal 6 bln – 1 thn. di banyak negara eropa udah mulai berjalan, bahkan ayah juga bisa mengambil cuti ayah.
      btw, lama ngga berkunjung ternyata tampilannya dah lain ya

  4. tugas seorang ibu itu sangatlah mulia karena di tangan ibulah pembentukan karakter anak di mulai

  5. kalau saya dapet beas tt mombkgksho, yang akan saya lakukan pertama adalah mencari hoikuen, dari pada anak saya yang baru satu tahun saya tinggal st stgh tahun…. tapi mahal ga ya mba….

  6. @ Ibu Yusni : tidak mahal karena ada tunjangan anak

  7. Mau nanya nih, bagaimana dengan “kyoiku mama” yg terkenal itu, apakah dengan kondisi sekarang sudah mulai luntur?

  8. @Tari : masih ada dan masih kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: