murniramli

Bukan sekedar mengganti kurikulum

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, SMA di Jepang, SMK Jepang, SMP Jepang on April 30, 2009 at 6:01 am

Seperti halnya di Indonesia, pergantian kurikulum juga terjadi di Jepang, sekalipun tidak dalam frekuensi yang sama. Panduan tentang muatan pembelajaran di sekolah termuat dalam gakusyuushidouyouryo (学習指導要領). Dokumen ini berisikan keterangan lengkap tentang tujuan pembelajaran di sekolah, materi pelajaran, pendidikan moral dan kegiatan khusus terkait dengan sekolah. Gakusyuushidouyouryou dapat dikatakan sebagai standar minimum yang harus dicapai oleh sekolah-sekolah negeri (国立学校)、sekolah publik (公立学校)、dan sekolah swasta (私立学校).

Gakusyuushidouyouryou pertama kali dikeluarkan pada tahun 1947, bertepatan dengan lahirnya UU Pendidikan di Jepang. Selanjutnya berkali-kali mengalami pemabaharuan, yaitu pada tahun 1951, 1956, 1961, 1971, 1980, 1992, 2002, dan yang akan datang adalah 2011. Pembuatan dan penerapannya secara sempurna biasanya memakan waktu 2 tahun setelah diterbitkan, dan biasanya SD dan SMP akan menerapkan duluan daripada SMA. Selain pendidikan dasar dan menengah, pendidikan pra sekolah (TK) juga mempunyai gakusyuushidouyouryou.

Pembaharuan kurikulum di Jepang mengikuti pola 10 tahunan. Tentunya ada hal baru yang dimasukkan dalam setiap kurikulum, mengikuti perubahan sosial dan ekonomi masyarakat Jepang dan dunia. Tetapi sekalipun perubahan selalu terjadi, para pakar pendidikan Jepang mensinyalir adanya kemunduran dalam dunia pendidikan di Jepang.

Kemunduran tersebut di antaranya adalah menurunnya minat bersekolah anak-anak, dekadensi moral dan kedisiplinan yang mulai rapuh, juga prestasi belajar yang menurun yang terbukti dari hasil PISA atau TIMMS, sekalipun beberapa pakar meragukan alat ukur ini sebagai alat yang tepat untuk mengukur kemampuan akademik siswa.

Jadi apa sebenarnya yang harus diubah dalam pembaharuan kurikulum ?

Professor saya yang mendalami tentang hal ini menyampaikan bahwa permasalahannya bukan terletak kepada perubahan isi setiap mata pelajaran (kyouka katei), dan juga bukan pada perubahan metode pengajaran di kelas, tetapi gakusyuushidouyouryou harus memuat perubahan sistem pendidikan di sekolah.

Konsep manajemen kurikulum (curriculum management) pada umumnya adalah mengotak-atik mata pelajaran dalam kurikulum, mengubah dan memperbaiki tujuan dan menambahkan atau mengurangi muatan belajar. Tindakan seperti ini bukannya salah, tetapi bagian terpenting dari sebuah pendidikan adalah bukan pada isinya yang banyak, tetapi pendekatan cara mendidik.

Oleh karena itu Professor saya menggunakan istilah “kyouikukatei“(教育課程)yang kalau diterjemahkan secara gampang adalah Rencana Pendidikan di Sekolah. Isinya bukan saja mengenai kegiatan intra kurikular tetapi juga ekstra kurikular. Yang dimaksud dengan kegiatan ekstra kurikular bukan saja berupa klub (bukatsudou), tetapi seharusnya dikembangkan berdasarkan rundingan guru, kepala sekolah, orang tua dengan mempertimbangkan kemampuan anak dan kondisi lingkungan/daerah di mana dia berada.

Dengan kata lain, nafas pendidikan yang mesti dibawakan oleh gakusyuushidouyouryou bukanlah perkara yang memaksa guru atau menyengsarakan guru (karena ketidakjelasannya) dalam mengembangkan materi yang dia ajarkan. Akan tetapi gakusyuushidouyouryou harus mengajak komponen sekolah untuk membicarakan bagaimana pendidikan di sekolah seharusnya dikembangkan berdasarkan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.

Jika ada seorang guru berhasil mengembangkan materi pelajarannya, mengembangkan metode baru dan selesai dengan cepat menyusun silabus pengajaran, itu bukanlah sebuah kemajuan bagi pendidikan di sekolah. Tetapi yang terpenting adalah menjadikan keberhasilan itu menjadi bukan milik pribadi, tetapi dimiliki oleh semua guru dan aparat sekolah.

Gakusyuushidouyouryou harus diterjemahkan bersama dalam pembicaraan intens antara guru, kepala sekolah dan sesekali melibatkan orang tua. Hasil penggodokannya akan berupa implementasi program pendidikan anak di sekolah.

Dengan landasan berfikir seperti ini, maka pendidikan tidak lagi sekedar merupakan jiplakan apa yang tertera dalam kurikulum, tetapi pendidikan di sekolah merupakan pengembangan standar minimal yang dituliskan di dalam gakusyuushidouyouryou menjadi sebuah kegiatan/program yang berorientasi kesiswaan.

Untuk keperluan tersebut, tidak cukup jika hanya guru yang bergerak, atau kepala sekolah yang menggerakkan. Tetapi perlu kerelaan hati untuk duduk membincangkannya dengan membawakan data akurat tentang siswa, potensi sekolah(guru), orang tua, dan masyarakat (lingkungan).

Iklan
  1. Hhmmm..Iya iya memang benarnya seperti itu Bu Murni..

    Oh iya, saya ingin menjalin tali silaturahmi ini terus Bu dengan Anda, sapa tau nanti saya ada kesempatan untuk melanjutkan S-2 ke sana dan saya akan mencoba berkonsultasi dengan Bu Murni guna mencari sang profesor pembimbing..

    Sekiranya Bu Murni tidak keberatan jika saya nanti(3 tahun lagi) banyak merepotkan…

    Salam hangat Bocahbancar….

  2. menarik ya. untuk perubahan kurikulum berapa lama proses yang dibutuhkan mbak? tentunya proses panjang ya 🙂

  3. @Mba Hani : wah, masalah waktu mungkin sangat tergantung kpd kemauan dan kesadaran guru dan aparat sekolah lainnya.

  4. Jika ada seorang guru berhasil mengembangkan materi pelajarannya, mengembangkan metode baru dan selesai dengan cepat menyusun silabus pengajaran, itu bukanlah sebuah kemajuan bagi pendidikan di sekolah. Tetapi yang terpenting adalah menjadikan keberhasilan itu menjadi bukan milik pribadi, tetapi dimiliki oleh semua guru dan aparat sekolah. Murni Ramli

    Saya mendampingi guru-guru di sebuah sekolah yang ngotot bahwa tugas kami adalah memenuhi standar minimal. Kadang standar ini diucpkan dengan mudah, misalnya kelas 1 SD, standar minimalnya anak-anak bisa calistung, bahkan lebih dari itu ini dinyatakan sebagai target pembelajaran. Bagaimana mencapai target ini? Guru-guru boleh memilih metode dan sumber belajar sendiri-sendiri. Apakah ini membuat mereka egois karena berkompetisi atau seenaknya karena diberi kebebasan?
    Program-program, kata Anda, yang berorientasi kesiswaan inilah yang mencegah 2 hal negatif di atas. Tentu saja wajar berlomba memberikan yang terbaik untuk anak menimbulkan kompetisi, namun adanya ruang tetap untuk berwacana, bahwa ada share kekuasaan yang adil di antara stakeholder, kesempatan yang terbuka bagi setiap orang untuk berperan, memaksa kami bergumul mencari jalan untuk kepentingan bersama.
    Hmm, menurut saya kurikulum di Indonesia adalah kurikulum yang selalu diserbu berbagai kepentingan dan kenyataan (birokrasi, penerbit buku, mutu guru, dll) sehingga ia menjadi sebuah dokumen yang kuasa sepenuhnya menentukan gerak hidup mekanik dunia pendidikan.Ah pagi-pagi sudah menelusuri jalan remang.

  5. @kusekolah: wacana yang saya tulis di atas adalah wacana penerapan gakusyuushidouyouryou di Jepang, jadi mungkin agak kurang cocok u diterapkan di Indonesia.
    Sebagaimana diketahui bahwa homogenitas terus dipertahankan di sekolah2 dan masyarakat Jepang pada umumnya, dan mereka selalu bekerja dalam tim, lebih mementingkan kerja kelompok ketimbang kerja individu. Seandainya ada seorang guru yang berhasil, bonus atau penghargaan tidak akan diterimanya.
    Sistem ini agak berbeda dengan apa yg berlaku di Barat. Dan saya pikir di Indonesia, lebih cenderung mengikuti pola Barat, yaitu mengasah kompetisi, dan memberi reward kepada guru yang berhasil.

  6. Dalam konteks pengembangan kurikulum pemberian reward mungkin adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kreativitas guru. Namun yang perlu menjadi panduan utama bagi para pendidik adalah semangat untuk memberikan pengabdian yang prima bagi para peserta didik. Ungkapan Pak Harfan (dalam film Laskar pelangi)” Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”,adalah cerminan semangat guru dalam memajukan pendidikan.

  7. […] Bukan sekedar mengganti kurikulum […]

  8. […] Bukan sekedar mengganti kurikulum […]

  9. Saya setuju bahwa target pendidikan tidak boleh menghomogenisasikan keberagaman anak. Boleh saja ada target tertentu, namun baik guru maupun pembuat kurikulum harus memberikan ruang bagi individu untuk merasa nyaman dengan kondisinya. Artinya, anak yang unggul dalam satu hal saja dan dalam hal lainnya ketinggalan –secara genetis (mudah-mudahan bisa dimengerti)–bisa tetap menikmati keberlangsungan pembelajarannya, tanpa harus membuang uang dan waktu mengulang di kelas yang sama dan homogen. Artinya meski harus mengulang kemampuan bacanya naik kelas

    [*] BTW, gakusyuushidouyouryo, ada nggak ya versi downloadnya?

    • @Pak Gilig :

      Ya, saya pikir bisa didownload versi bahasa Jepangnya di situs kementerian pendidikan Jepang (MEXT). Kelihatannya belum tersedia dalam bahasa Inggris.

  10. Kayaknya gakusyuushidouyouryou itu lebih berbobot ya bu ketimbang di Indon, karena melibatken unsur OT dalam penyusunannya. Mungkin suatu saat Indon bisa mengadopsi itu model kurikulumnya nyang di JAPAN.

  11. Untuk standar gurunya sendiri jimana bu di sana, apakah juga harus telah memiliki sertifikat pendidik baru boleh mengajar? ato?

  12. @Pak Wandi :
    Ya, hanya yang memiliki sertifikat mengajar (kyouin menkyo) yg boleh mengajar, Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: