murniramli

Kepanikan influenza babi di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Juni 2, 2009 at 10:21 pm

Kira-kira sejak seminggu yang lalu, berita tentang influenza babi di Jepang menghilang setelah sekitar sebulan menghantui kami di Jepang. Ada beberapa pengamatan menarik tentang penyakit ini kaitannya dengan pola hidup masyarakat Jepang dan pendidikan.

Influensa boleh dikatakan penyakit biasa karena seringnya muncul sebagai akibat perubahan musim atau kondisi badan yang kurang fit. Saya biasanya langganan flu setiap pergantian musim di Jepang, tapi alhamdulillah belakangan ini sudah menghilang.

Sudah biasa kita temui orang-orang Jepang dengan masker putih berkeliaran di jalan, di kereta dan di tempat-tempat umum lainnya. Menggunakan masker adalah hal yang sangat dianjurkan saat seseorang menderita penyakit yang tertular melalui air ludah atau nafas. Jadi, tidak usah pakai masker jika demam atau sakit mata 😀

Tetapi masker juga bukan hanya sebagai bentuk perlindungan penularan penyakit, saat musim dingin masker kadang-kadang dipakai untuk menghindari terpaan angin atau suhu yang menggigit, dan pada saat musim bunga, masker dipakai untuk menghindari serbuk bunga yang bisa menyebabkan kafunsho, sejenis alergi di Jepang. Selain itu masker juga tentunya digunakan oleh orang jahat yang hendak melakukan tindakan kriminal agar wajahnya tak terdeteksi kamera pengintai yang selalu dipasang di toko-toko atau rumah 😀

Saat influensa babi diumumkan pertama kali memasuki daerah Kansai, yaitu Kobe, Osaka, dan Hyogo, masyarakat dipanikkan dengan habisnya stok masker di pasaran. Persyaratan untuk membeli hanya 2 masker per orang saja, tidak mempan untuk mencegah gejala memborong masker. Sekalipun Nagoya, tempat tinggal saya, belum ada penderita influensa ini, tapi masker sudah menghilang di pasaran. Ada kemungkinan selain warga Nagoya, masker juga dibeli untuk orang Kansai, sebab stok di sana benar-benar habis. Saya pun tidak bisa membeli masker saat wabah meluas karena masker khusus untuk orang berkacamata (yang tidak menimbulkan uap di kacamata) juga ludes.

Di channel TV setiap hari disiarkan wilayah penyebaran dan jumlah penderita. Selain itu anjuran untuk menggunakan masker, berikut penjelasan ilmiah (disertai dengan peragaan/percobaan tentang daya guna masker) mengapa harus menggunakan masker. Anjuran untuk selalu mencuci tangan selama 5 menit dengan sabun, dan ugai (berkumur-kumur) dikumandangkan setiap hari di TV. Saya mempunyai rutinitas seperti ini jika sampai di rumah.

Yang agak menakutkan adalah tayangan yang menunjukkan bagaimana penularan bisa berlangsung dengan jabatan tangan atau kontak langsung dengan penderita. Sebagai contoh, penderita influenza yang di”kurung” di rumah, benda-benda yang dipegangnya semuanya diduga menempelkan virus (sebab ada kemungkinan tangan dipakainya untuk menutupi hidung saat bersin, atau melap ingus), sehingga setiap kali harus dibersihkan dengan alkohol. Alkohol bahkan disiapkan di tempat-tempat pemilihan suara untuk bupati/gubernur atau bahkan di balai kota, kantor kecamatan saat warga berkunjung ke sana untuk keperluan administrasi kependudukan. Karena penyebarannya yang bisa melalui media apa saja, maka warga dianjurkan untuk tidak menyentuh hidung,memegang mulut dengan tangan yang belum dicuci. Huwaah, ini benar-benar menyiksa kalau hidung gatal selagi naik kereta 😦

Di dalam kereta berulang kali diumumkan untuk menggunakan masker, dan selama beberapa hari semua petugas kereta menggunakan masker, semua karyawan toko, karyawan perkantoran pemerintah yang melayani masyarakat diwajibkan mengenakan masker.

Anehnya, warga Nagoya tidak begitu panik dengan penyakit ini. Jika naik kereta sehari-hari hanya 1-2 orang saja yang memakai masker dalam 1 gerbong. Ini barangkali disebabkan karena penyakit itu tidak sampai menyebar ke Nagoya, dan atau karena warga Nagoya sudah mengetahui bahwa penyakit ini bisa disembuhkan dengan obat flu biasa 😀

Selain informasi dan uraian lengkap tentang penyakit, hal menarik lainnya adalah penamaan penyakit. Semula saat penyakit ini pertama kali muncul, semua layar TV, media dan perbincangan khalayak ramai menggunakan istilah influenza babi (buta influenza), namun 1-2 hari semenjak wabah ini muncul istilah itu tidak dipergunakan lagi, dan diganti dengan istilah shin gata influenza (influenza jenis baru). Tentunya penggantian ini tidak sekedar mengubah nama saja. Saya menduga ada kaitannya dengan upaya pemerintah untuk melindungi pasar daging babi di dalam negeri. Sekalipun berulang kali dijelaskan bahwa influenza ini tidak disebabkan karena makan babi, namun dengan menyebutkan influenza babi, maka masyarakat tetap mempunyai image kuat bahwa makan babi bisa menyebabkan munculnya penyakit ini.

Kalau diamati siaran masak memasak di TV, memang tidak ada gejala menghentikan penggunaan daging babi dalam masakan. Siaran kuliner tetap dipenuhi dengan masakan dengan menu utama babi.

Wabah influensa tertular dalam jumlah besar di kalangan siswa sekolah, terutama anak-anak SMA. Oleh karena itu selama seminggu sekolah-sekolah di Kobe, Osaka dan Hyogo diliburkan. Saat pekan liburan berlangsung, dilaporkan bahwa penyewaan DVD meningkat tajam. Dan kegiatan belanja borongan yang dilakukan oleh ibu-ibu juga meningkat. Ya, jika anak-anak dikurung di rumah selama sepekan, salah satu hiburan yang paling cocok adalah menonton DVD atau bermain game. Dan untuk menghindari kontak dengan penderita, maka waktu di luar harus dikurangi, sehingga ibu-ibu memborong makanan.

Kegiatan trip sekolah juga dibatalkan. Setiap tahun anak-anak sekolah di Jepang mengadakan trip ke daerah Kyoto atau Nara. Tahun ini, penghasilan pariwisata dari kedua kota tersebut merosot tajam, sebab selain kegiatan trip sekolah, sebagian warga Jepang juga menunda kunjungan wisata, juga warga negara asing yang menunda perjalanannya ke Jepang.

Demikianlah wabah berangsur hilang, dan kepanikan berkurang saat dilansir berita tidak ada korban meninggal dan influenza ini bisa diantisipasi dengan obat flu biasa yang beredar di masyarakat.

Apa yang bisa kita simpulkan adalah adanya kesadaran dan upaya penyebaran informasi, juga pemeliharaan kesehatan mandiri yang ditanamkan sejak dini di bangku-bangku sekolah, juga didukung dengan contoh penerapan kebijakan (penggunaan masker) oleh aparat pemerintah di Jepang, sebagai upaya mencegah meluasnya wabah penyakit.

Iklan
  1. enaknya libur karena pandemi…

  2. Mbak, pa kbr?
    Minta ijin saya link-kan ke FB, ya.
    Lesson learn yg bagus nih… Trims sebelumnya…

  3. @Ellyn : silahkan…

  4. selamat siang mba…

    mo tanya lagi nih ttg kepanikan flu babi (flu A) di Jepang, koq ada rumor klo kasusnya semakin besar dan merebak??

    bgmana??

  5. malem mba…
    makasih ya infonya. td saya sdg merasa agak panik krn sdh bayar full tour ke malaysia singapore. yg ternyata sdg pandemi flu babi disana pdhl pihak agent travel mengatakan sdh tdk ada apa2. stlh baca tulisan mba skrg saya agak tenang. tetap waspada tp ga panik. makasih ya mba…

  6. Terakhir kabar flu babi mengkawatirkan negarawan ni…karena mohon bantuan BIN, barangkali ada kepentingan intelejen asing. Gimana ya?

  7. wallahu a’lam.
    Sekalipun ada penderita yang tersembuhkan tetapi ada juga yang meninggal.
    Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan penjagaan ke-fit-an tubuh. Tetap selalu mencuci tangan sehabis bepergian, dan berkumur2 hingga tenggorokan (ugai).
    Dan dalam kerumunan pergunakan masker.
    Informasi kewaspadaan masih terus dikumandangkan di Jepang, dan beberapa kampus meliburkan diri jika ada mahasiswa yang terinfeksi. Liburan biasanya selama semingguan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: