murniramli

Bapak sudah pergi

In Renungan on Juli 4, 2009 at 4:58 am

Sebulan yang lalu saya selalu dihantui mimpi meminta ijin kepada sensei untuk pulang karena bapak tiba-tiba “pergi”. Dan biasanya saya berkeringat dingin sesudahnya. Saking seringnya bermimpi seperti itu, saya sampai hafal kalimatnya. Tapi saya tidak ingat lagi kalimat itu saat bapak benar-benar pergi, Sabtu 27 Juli 2009.

Terlahir dengan nama Mohammad Ramli (huruf o pada kata mohammad kadang-kadang saya tulis dengan u), dari kakek yang bernama Lasua dan nenek yang saya tidak tahu nama aslinya selain biasa memanggilnya dengan Nenek Pute (karena rambutnya putih semua), di sebuah desa di Ujung Lamuru, Bone, Sulawesi Selatan, bapak yang sudah menjadi yatim sejak kecil adalah seorang pekerja keras dan hemat.Sejak ayahnya meninggal, bapak diasuh oleh Pak Mallibu, oleh karena itu nama Mallibu disandangkan di belakang nama bapak.

Saya masih ingat kisah-kisah Bapak saat bersekolah dulu yang selalu saja diceritakan kepada kami ketika kami merengek minta uang jajan. Bapak dulu tidak pakai sepatu ke sekolah (ah, itu kan memang jaman kemiskinan, begitu saya selalu bergumam), kalau mau pergi ke sekolah bapak harus bangun pagi-pagi,  bekerja di ladang, kemudian berangkat sekolah, lalu sore harinya jualan ubi (kami biasanya tetap tidak berhenti merengek, sekalipun mendengar cerita ini terus menerus).

Didikan keras dan tempaan hidup yang tak putus-putus di masa kecilnya mengantarkan bapak menjadi seorang ayah yang keras dalam mendidik kami, tapi sangat murah hati jika berkaitan dengan pendidikan kami. Bapak rajin sekali menabung, dan agak pelit memberi untuk keperluan hura-hura. Seingat saya sekali saja bapak mengajak kami menonton film anak-anak di bioskop yaitu saat saya masih duduk di bangku SD kelas 1, dan kata mamak, saya membawa serta bantal kesayangan saya ke dalam gedung bioskop. Ya, saya tidak ingat sama sekali film itu sebab saya tertidur pulas. Barangkali agak aneh, tapi hingga saat ini baru 2 kali saya ke bioskop, yaitu masa kecil tadi dan sekali di bangku SD sewaktu ada kegiatan wajib menonton film G30S/PKI.

Bapak senang sekali berkebun, meskipun keahliannya adalah bidang perlistrikan. Tentang keahlian ini menurun kepada saya dan adik-adik laki-laki, demikian pula kegemarannya bercocok tanam.

Saya sangat betah mengamati bapak mengutak-atik setrika yang tidak panas-panas atau radio yang tiba-tiba ngadat. Selama kos dulu, ilmu yang saya dapat dari mengamati tsb, pernah saya praktekkan untuk memperbaiki setrika dan TV. Tapi….ternyata saya cuma pandai membongkar dan tidak pandai memasang kembali.

Banyak orang berteori bahwa lingkungan masa kecil memperngaruhi masa depan anak. Dan teori itu terbukti pada diri saya. Rumah yang kami tinggali (selalu berpindah karena bapak bekerja di pabrik gula), selalu dipenuhi dengan kebun sayur, aneka pohon buah, kandang ayam, kelinci, kucing, burung perkutut, dan kolam ikan. Kalau kata orang Jepang, yutakana sizen (alam yang gemah ripah). Karena suasana seperti itu, saya sejak kecil menyenangi tanaman dan mengerti tata cara bercocok tanam melalui pengajaran yang saya amati dari bapak. Makanya saya memilih IPB.

Setahun lebih saya tak bisa bertemu bapak. Hanya kabar via telepon atau email yang dikirimkan adik, yang memberitahukan bapak sehat, bapak baik-baik saja. Sebagaimana anak-anak yang tinggal di rantau, pertanyaan pertama yang selalu kami ajukan setiap kali berkomunikasi dengan orang rumah adalah , “bapak mamak sehat ?”

Dua minggu sebelum kepergiannya, saya meminta adik untuk memotret bapak dan mengirimkannya. Bapak kelihatan sehat, walaupun fisiknya jauh sekali berbeda dari bayangan bapak yang kuat dan bisa mengerjakan apa saja yang tergambar selalu dalam benak saya. Itu adalah foto terakhir yang bisa saya pandangi.

Hari Sabtu, 27 Juni, pukul 10.30 pagi saya harus mempresentasikan sebuah paper saya di Chubu Kyouiku Gakkai yang tahun ini diselenggarakan di Nagoya University. Ini sebuah konferensi pendidikan se-Chubu Area yang dilakukan rutin. Selesai presentasi saya langsung berangkat dengan shinkansen menuju Tokyo, sebab tgl 28 Juni pkl 10.40 saya harus presentasi paper saya yang kedua di Hikaku Kyoiuku Gakkai yang diselenggarakan di Tokyo Gakugei Daigaku.

Presentasi kedua agak menegangkan saya karena ini adalah kali pertama saya melakukan presentasi dalam bahasa Jepang di level gakkai nasional. Sabtu malam saya menginap di rumah seorang teman mahasiswa Indonesia di Fuchu yang telah berbaik hati menyiapkan makan malam dan mengundang teman-teman di Nokodai, yang memungkinkan saya untuk bersilaturahmi dengan banyak orang. Saya sama sekali tidak merasakan firasat apapun. Malamnya saya tidak bisa tidur karena harus menghafal dan memahami paper yang akan dipresentasikan besok. Saya sempat mengecek email, dan tidak ada kabar dari Indonesia.

Keesokan harinya presentasi saya berjalan sangat lancar, dengan respon  yang sangat membangun, sebagaimana yang saya harapkan. Setelah makan siang saya iseng menelpon ke rumah, dan terdengar suara kakak untuk mengikhlaskan kepergian bapak.

Ya, tentu saja saya tidak ikhlas ! Saya belum minta maaf, saya belum mencium kaki bapak, saya belum sempat menanyakan bapak mau makan apa, bapak mau jalan-jalan ke mana……bagaimana mungkin saya bisa ikhlas !!

Bagi keluarga di rumah, kepergian itu mungkin sudah dirasakan sejak lama. Sehingga ketabahan dan keikhlasan barangkali lebih mudah, sekalipun saya tahu mereka semua sangat sedih. Tapi lain bagi saya yang masih punya mimpi-mimpi dan segudang rencana untuk membahagiakan bapak.

Bapak meninggal setelah mengalami koma dua hari akibat penyakit stroke dan ginjal akut. Selama sakitnya adik bercerita bahwa meskipun tidak lancar, bapak masih selalu berzikir sebagaimana yang biasa dilakukannya. Saat mendekati ajalnya, adik sempat meminta maaf atas nama kami anak-anak bapak, dan air mata menetes di ujung mata bapak. Lalu, tak lama ucapan laa ilaaha illa llaah terucap lancar dari bibir bapak dan dia pergi menghadap Khaliknya, tanpa kesulitan menghadapi sakaratul maut.

Tidak ada yang tahu rahasia keputusanNya.
Saya akhirnya mengikhlaskan bapak pergi mendahului kami.
Tapi saya tetap saja selalu menangis tatkala bertemu orang tua yang berjalan tertatih-tatih…..
Saya masih saja menangis tatkala sendiri dan teringat bapak…..

Ya, Allah ampuni dan kasihanilah bapak. Lapangkan jalannya, ringankan siksa kuburnya, tempatkan beliau di sisiMU di tempat yang termulia. Sejajarkan beliau dengan orang-orang yang berwajah putih bersih yang akan menerima kitabnya di tangan kanannya. Masukkan dia ke dalam barisan NabiMu Muhammad SAW. Amin

Iklan
  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. Turut berbelasungkawa, Bu Murni..

  2. kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. ambil hikmahnya kak murni, semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghadapi cobaab

  3. Tabah mbak Murni. Dari paparan Mbak saat beliau sakratul maut, Insya Allah beliau khusnul khotimah,Amin

  4. Innalillahi, wainnailaihi rajiun.

    Mbak Murni,
    Kami sekeluarga dari Bogor, mengucapkan bela sungkawa sebesar-besarnya. Semoga semua amal dan ibadah Bapak Mbak Murni, diterima di sisi Allah Subhanallahu Wata’ala dan Semoga amal jariah dan doa anak yang saleh, terus mengalir untuk melapangkan kubur dan menambah amal baik beliau, amin

    Avis, April,Jayyid

    Bojong Gede Bogor

  5. innaa lillahi wa innaa ilaihi raa jiuun

    Bu Murni ,
    saya turut belasungkawa bu

    raka

  6. Insya Allah beliau khusnul khatimah dan beruntung mempunyai puteri seperti Mbak Murni yang setiap kebaikannya akan menjadi amal jariyah dari anak yang sholehah. Amin

  7. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
    manusia di”bodoh”kan soal kapan kedatangan tamu rahasia Allah yang satu ini, Malaikat Izrail,entah kapan dia bertamu tiada yang tahu.
    Kita tiada mengetahui “Esok”, oleh karena itu diminta “menengok” surut kebelakang apa yang telah kita perbuat buat sangu bekal Esok saat hadir di Peradilan Padang Mahsyar?

    seperti disampaikan Pak Nazarudin, pola asuh+laku Ibunda+Ayahanda menjadikan anak didik sholih & sholihah juga ramah+cerdas+supel+ inspirator nan apik, lebih dari cukup menjadi deposito tabungan amal jariah mereka di akhirat kelak.

    Ditilap/tinggalkan Almarhum tanpa kehadiran Mbak Murni, sungguh
    kerinduan tak terperikan… takziah fisik langkah pertama,
    takziah alam maya menjalin hubungan merenda rindu dua alam dalam doa+dzikir langkah kedua,
    menjaga+menjalani amanah wasiat & bersilaturahmi dengan sahabat nya seolah nuansa beliau masih ada, kaya’nya langkah ketiga
    bershabar dan bertawakallah slalu buat keluarga di Indonesia dan di Perantauan Mbak Murni……

    kami juga turut berbela sungkawa

  8. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
    Insya Allah beliau khusnul khatimah.
    Maaf banget aku telat…, karena aku lama tak berkunjung kesini.

  9. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
    Memang mengagetkan kalau ditinggal tiba2 oleh orang tercinta seperti itu. Tapi saya salut, karena bu Murni sanggup mengikhlaskan kepulangannya.
    Semoga semua yang didoakan anak2nya tercapai dan rasanya beliau pasti bangga punya anak2 yang soleh/soleha.
    Semoga kita semua juga bisa berpulang dengan khusnul khatimah pada waktunya nanti dan semoga kita semua bisa mengikhlaskan perginya orang2 tercinta kita. Amin.

  10. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun….
    Yang Ikhlas dan tabah ya mbak….Karena tidak ada yang abadi di dunia ini…Insya Allah Ayahanda tercinta khusnul khatimah.

  11. mbak murni,
    turut berduka cita sedalam2nya…semoga mbak murni dan keluarga selalu diberi ketabahan. tinggal do’a anak2nya yang sholeh yang akan diijabahNya…amin.

  12. innalillahi wa innailaihi rajiun…
    mudah”an mba’ sekeluarga dapat berkumpul kembali dengan bapak kelak di Jannah Allah. Amin…

  13. Betapa menyesalnya tatkala kesempatan berbakti itu sudah tinggal doa, duh saya merasa banyak hutangnya pada orang tua. Mudah-mudahan diterima amal sholihnya, dan diampuni dosa-dosanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: