murniramli

Harga Penjual Harga Pembeli

In Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Juli 18, 2009 at 1:02 pm

Dulu sewaktu masih kuliah di IPB saya mengelola bisnis handicraft dengan dua orang teman. Alasannya sederhana, saya termasuk penderita insomnia dan agak workaholic. Biasanya baru bisa tenang tidur pada jam 1 dini hari. Karenanya untuk membuat mata mengantuk, tangan atau mata saya harus bekerja. Jadilah saya membuat beberapa handicraft dari daun, biji-bijian dan pelepah pisang.

Usaha itu berjalan cukup lama. Di antara ketiga orang teman saya adalah pekerja dan pembuat ide yang lumayan, tetapi saya bukan penjual yang baik. Saya paling tidak bisa berdagang apalagi menawarkan barang. Termasuk salah satu kelemahan saya adalah menetapkan harga. Jadi urusan seperti ini biasanya akan dipegang dua orang teman.

Menetapkan harga jual barang sebenarnya sudah ada rumusnya kata teman saya. Biaya produksi + keuntungan yang ingin didapat. Biasanya mereka memakai keuntungan 100% atau lebih. Saya tidak tahu apakah ini sama dengan yang dipakai oleh para pedagang.

Pagi ini saya menonton sebuah acara di TV tentang seorang penjual ikan/belut bakar di sebuah kota di Aichi, Jepang Tengah. Pemiliknya seorang kakek yang kira-kira berumur 60 tahunan, yang menjalankan bisnis secara turun temurun. Tokonya kecil, tetapi dia menjual ikan bakar sekitar 1500 tusuk sehari.

Pak Tua mulai membelah ikan, menggaraminya, membakarnya dan mencelupkannya ke dalam saus sekitar pukul 7 malam. Pekerjaannya baru usai pada pukul 3 dini hari, dan toko dibuka pada pukul 7 pagi. Saat toko dibuka, pengunjung terlihat sudah antri. Apabila antrian cukup panjang maka seorang pegawai tokonya atau Pak Tua sendiri akan keluar mencatat apa yang ingin dibeli para pengunjung. Lalu, dengan catatan di kertas kecilnya Pak Tua masuk kembali ke tokonya dan mulai lagi membakar ikan.

Makanan paling nikmat bagi orang Jepang di musim panas adalah unagi/belut bakar. Karena belut sangat gesit dan lincah, maka diyakini bahwa dengan memakannya, orang-orang akan tetap gesit dan bersemangat sekalipun panas sangat menyengat di musim panas.

Unagi Pak Tua adalah makanan favorit. Harganya hanya 800 yen per ekor. Apakah itu mahal ? Pak Tua mengatakan tidak. Caranya menetapkan harga mudah saja, yaitu dengan mengandaikan diri sebagai pembeli. Jika dengan harga sekian dia merasa tidak keberatan membeli seekor unagi bakar yang lezat, maka dengan harga itulah beliau menjualnya.

Barangkali subyektif sekali. Tetapi pemikiran sederhana tersebut dapat dipakai sebagai alat ukur mahal tidaknya produk yang kita jual.

Mengandaikan diri sebagai pembeli adalah sebuah langkah menyelami pergulatan pembeli dalam petimbangan membeli atau tidak barang yang  ada di depan mata. Saat kita membeli biasanya kita akan menimbang bahan, rasa (makanan), kesegaran, model, penampilan, dan selanjutnya akan menjustifikasi sebuah produk mahal, murah atau wajar harganya. Tetapi umumnya sebagai pembeli kita tidak memasukkan kriteria proses pembuatan saat membeli barang, karena informasi tentang hal ini memang sedikit.

Sebagai produsen dan sekaligus penjual ikan bakar, tentunya Pak Tua mengetahui betul berapa liter keringat, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan seekor ikan bakar lezat. Karenanya harga yang ditetapkannya sebesar 800 yen tentunya sudah termasuk pertimbangan ongkos energi yang dikeluarkannya.

Tetapi produsen dan penjual kadang-kadang lupa menghitung ongkos kerjanya, karena menganggap toh dia sendiri yang akan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut. Sehingga bisa saja harga jual merupakan kelipatan dua kali dari biaya produksi minus biaya tenaga kerja.

Pak Tua kemungkinan menerapkan yang kedua dengan harga 800 yen untuk unaginya yang  besar. Sebab unagi dengan potongan kecil di supermarket biasanya harganya berkisar 600~1000 yen.

Boleh jadi dia rugi dengan menjual harga seperti itu.Atau usahanya stagnant dan sulit berkembang. Ssekalipun telah berlangsung bertahun-tahun, tokonya tidak mengalami perubahan mencolok.

Tetapi ada sebuah nilai yang tidak bisa dimasukkan dalam penetapan harga produk, yaitu kepuasan dan kesenangan. Pak Tua sekalipun merasa capek, sangat senang dan masih sempat bersenda gurau dengan pelanggannya yang berderet panjang.Matanya berbinar saat pembeli mengatakan unagi yang dibakarnya enak dan empuk.

Pelanggan yang setia dan usaha Pak Tua yang terus berlanjut sebenarnya membuktikan kepuasan dan kesepakatan harga dan mutu produk antara pembeli dan penjual.

Jika sebagai pembeli saya puas dan rela dengan harga X, maka tatkala saya menjual saya pun akan menjual dengan harga X.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: