murniramli

Koran Bekas

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Juli 26, 2009 at 12:43 pm

Apakah anda sudah baca koran hari ini ?

Pertanyaan itu biasanya saya tanyakan kepada murid-murid bahasa Indonesia untuk melatih penggunaan kata “sudah”.

Saya termasuk jarang membaca koran sejak berada di Jepang. Biasanya saya membaca koran kalau sedang menunggu pesanan makanan di bento man, rumah makan langganan, atau saat menunggu peralihan jam pelajaran di tempat mengajar.

Koran bukan barang yang mahal di Jepang. Jika membeli per exemplar, sekitar 250 ~300 yen (tergantung daerah). Harganya tentunya akan lebih murah jika berlangganan.

Koran sebagaimana surat lambat laun tersingkirkan oleh internet. Barangkali banyak yang lebih sering membaca berita via internet ketimbang harus membeli koran. Demikian pula banyak yang lebih suka mengirimkan email ketimbang berkirim surat.

Jika kita naik kereta pagi-pagi di Jepang, jumlah penumpang yang membaca koran bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan penumpang pagi lebih memilih tidur ketimbang membaca. Kalau toh ada yang membaca biasanya yang dibaca adalah buku, komik atau lebih asyik bermain DS atau HP.

Koran masih merupakan sarapan bagi sebagian generasi tua di Jepang. Hal ini bisa dimaklumi karena akses internet mereka tidak selancar generasi muda. Koran juga masih menjadi bacaan para pekerja kantoran yang tidak sempat menonton TV atau mungkin menonton, tapi sambil berlari karena dikejar waktu.

Di Indonesia, setelah dibaca, koran masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembungkus orang yang berjualan. Nasi pecel yang biasa kami beli di Madiun biasanya dibungkus daun pisang dan dilapisi koran. Kerudung yang saya beli di toko pun masih dibungkus dengan koran.

Selama berada di Jepang saya belum pernah membeli barang yang dibungkus dengan koran.Semua barang dibungkus dengan kertas khusus bergambar, atau berlabelkan nama perusahaan. Roti yang biasa saya beli pagi-pagi sebelum mengajar di Nagoya stasiun, dibungkus satu-satu dengan plastik oleh pelayan toko, lalu dimasukkan ke dalam tas plastik yang bagus.

Koran bekas pun masih dimanfaatkan oleh kakak saya untuk membuat kertas daur ulang dan aneka souvenir lainnya. Koran bekas juga sering kami pakai untuk mengkilapkan jendela kaca. Tetapi di Jepang semua obat/produk pengkilap sudah ada, dan telah dijual pula kertas tissue khusus yang mirip kertas koran yang bisa dipakai untuk membersihkan kaca setelah disemprot dengan sabun pengkilap.

Koran-koran di rumah biasanya dikumpulkan oleh mamak, disatukan kemudian dijual ke tukang loak. Hal yang sama juga ada di Jepang, sebulan sekali warga mengumpulkan koran di stasiun pembuangan sampah dalam keadaan sudah terikat rapih, tetapi tidak untuk dijual.

Pembaca koran pagi yang membeli koran di kios-kios, lalu membacanya di kereta atau di bis, umumnya tidak membawa koran sampai ke kantor. Oleh karena itu pemerintah kota menyiapkan tempat sampah khusus koran. Ini dapat dijumpai di manapun di Nagoya atau kota besar lainnya.

Sering kita jumpai orang-orang tua mengorek tempat sampah koran bekas tersebut untuk sekedar membaca berita hari ini. Tak jarang homeless pun yang tergolong  cukup rajin membaca koran membuka-buka tempat sampah koran. Mereka menjadi sangat diuntungkan dengan sistem pembuangan ini. Sekalipun pemerintah kota telah menempelkan koran-koran di papan pengumuman di balai kota atau di kantor2 kecamatan, sehingga warga yang tidak bisa membeli koran, masih bisa membacanya, tetapi membaca sambil berdiri agaknya kurang nyaman.

Sebelum benar-benar harus didaur ulang, memang ada baiknya memberi kesempatan semua orang untuk mengetahui berita hari ini melalui koran, sekalipun hanya sekedar melirik perkiraan cuaca hari ini.

Iklan
  1. Wuih keren juga ya, di sini mah, koran / majalah bekas aja, masih sering di jual lagi, terutama majalah / koran2x IT dan game

    huhuhu

  2. kagak usah pakai lama2
    aio dukung Pulau Komodo sebagai new7wonders
    klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: