murniramli

Merekam peristiwa bersejarah

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Agustus 3, 2009 at 10:56 am

Pada saat mengikuti Annual Meeting Comparative Education di Tokyo, Juni lalu saya menghadiri acara round table yang membahas tentang perjalanan penelitian Nishimura Shigeo, seorang peneliti Jepang yang mendalami tentang pendidikan di Indonesia. Penelitiannya yang menonjol adalah tentang pendidikan moral pancasila, pendidikan di daerah perbatasan Indonesia Malaysia, kebijakan politik pendidikan pasca kemerdekaan.

Pak Nishimura adalah peneliti antropologi sejati yang rela mengeluarkan uangnya untuk menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti Indonesia. Beberapa peneliti yang saya kenal di Jepang, umumnya mempunyai karakter yang sama, jika mereka sudah menggemari satu penelitian, maka hidup matinya adalah untuk penelitian tersebut. Mereka cenderung tidak bergeser ke tema lain sebelum tuntas memahami sebuah masalah.

Pak Nishimura mempunyai model penelitian yang menarik. Biasanya setiap kali mendatangi rumah orang Indonesia, beliau tidak saja memotret dengan kameranya apa-apa yang dilihatnya tetapi menggambarkan dengan sketsa detil apa saja yang ada di dalam rumah, apa saja yang ada di sekitar/pekarangan. Sebuah sketsa sekolah di daerah pedalaman Kalimantan dibuatnya dengan sangat menarik, yang menggambarkan tidak hanya posisi duduk siswa di dalam kelas tetapi juga peternakan sapi dan babi yang ada di sekeliling sekolah.

Merekam dengan kamera atau video merupakan hal yang biasa dilakukan saat ini untuk mendokumentasikan penelitian/observasi. Tapi, saya pikir apa yang dilakukan oleh Pak Nishimura sangat mencerminkan pikiran peneliti pada saat itu, yang kadang sulit dibangkitkan kembali saat menulis penelitian. Sketsa yang dibuat dan keterangan-keterangan yang menyertai sketsa itu adalah bentuk penilaian/apresiasi pada saat melihatnya, bukan apresiasi yang muncul setelah pemikiran yang panjang.

Adalah berbeda kesan yang muncul saat kita berjumpa dengan seseorang dan saat memandang fotonya. Jadi, rekaman dan kesan pada saat penelitian adalah yang paling mencerminkan originalitas berfikir si peneliti.

Yang menyulitkan adalah seseorang yang sulit menuliskan secara langsung kesan yang muncul pada saat menemukan sesuatu, dan baru bisa menuliskannya setelah melakukan perenungan yang lama. Untuk orang-orang yang seperti ini, dokumentasi berupa foto dan video adalah pendekatan yang lebih baik.

Bagaimana melatih diri agar dapat menulis secara naluri?

Saya pikir pendidikan yang selama ini saya dapat di Indonesia tidak mengajari saya untuk menjadi penulis yang baik. Tetapi saya menyadari bahwa saya mempunyai “kesukaan” pada bidang ini, sebagaimana saya suka membaca tulisan.

Murid-murid Sekolah Dasar di Jepang selalu dibiasakan menuliskan kesan. Baru-baru ini teman dosen mengatakan bahwa mahasiswanya cenderung diam saat diminta mengajukan pertanyaan di akhir sesi kuliah, tapi kalau mereka diminta untuk menuliskan pertanyaan, maka dosen bisa kewalahan dengan pertanyaan yang muncul.

Saya merasakan hal yang sama di kelas yang saya ajari di sebuah universitas swasta. Mahasiswa lebih suka memandang saya sambil tersenyum saat saya tanya, “ada pertanyaan?”, tetapi ketika saya meminta mereka untuk mengritik cara mengajar saya atau menuliskan kesan belajar bahasa Indonesia di kelas saya, maka saya kewalahan membacanya !

Bukan sebuah kesalahan model pendidikan yang mengajari siswanya untuk tidak dengan cepat mengacungkan jari untuk bertanya, tetapi juga bukan kebaikan. Tentunya yang diharapkan keseimbangan antara keduanya yaitu kepandaian berbicara dan kepandaian menulis.

Model pendidikan seperti itu meninggalkan kelebihan anak-anak Jepang yaitu, kepandaiannya dalam mengapresiasi sesuatu dalam bentuk tulisan.

Jadi, yang perlu dilakukan adalah membebaskan diri untuk bermain kata-kata.

Iklan
  1. setuju sensei 🙂

  2. Mungkin kalo ngomong, sekali terucap gak bisa di-edit lg, tp kalo nulis bisa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: