murniramli

Budaya Menulis dan Teknik Penulisan yang Lemah

In Penelitian Pendidikan on Agustus 4, 2009 at 10:53 am

Saya dan teman-teman di PPI Jepang membina sebuah majalah online, yang bernama INOVASI Online. Majalah ini adalah media bagi rekan-rekan PPI Jepang atau para pakar, pemikir, pengamat, mahasiswa di mana saja berada untuk menyampaikan hasil penelitian, ide, penemuan orang lain, pandangan dan unek-unek dalam bentuk ilmiah, artinya semua tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban itu dalam bentuk tersedianya referensi.

Saya bergabung dengan INOVASI sejak tahun 2007, dengan alasan yang sangat sederhana ingin belajar. Belajar apa saja yang bisa dipelajari dari dunia perjurnalan/permajalahan. Pada masa-masa awal bergabung, memang agak berat karena tugas kami menjalankan kembali roda majalah yang vakum beberapa edisi. Di antara tim redaksi, semula hanya seorang di antara kami yang benar-benar orang linguistik, yang mendapat tugas sebagai konsultan bahasa. Saat ini kami tidak mempunyai tim yang memiliki latar belakang linguistik, tapi saya dan seorang anggota redaksi lainnya menjadi pengajar part time bahasa Indonesia di Jepang, sehingga sedikit banyak kami masih memahami EYD.

Seperti biasa tulisan-tulisan yang masuk akan direview oleh tim redaksi jika tulisan-tulisan tersebut bersifat umum dan tidak membutuhkan reviewer khusus, tetapi beberapa kali kami perlu mengandalkan reviewer khusus karena keahlian kami berbeda dengan artikel yang dikirimkan.

Mengedit dan memeriksa tulisan-tulisan yang dikirimkan merupakan pekerjaan yang melelahkan apalagi jika penulis kurang memahami bahasa tulis dengan baik. Tetapi lama kelamaan kemampuan menjadi reviewer terasah, setidaknya framework tulisan ilmiah telah melekat dalam otak kami setiap mengedit.

Permasalahan yang diangkat di bagian pendahuluan dan jawaban yang disajikan dalam pembahasan kadang-kadang tidak tersambungkan dengan baik. Selama beberapa kali mengedit tulisan yang masuk, saya melihat budaya menulis dan teknik penulisan yang masih lemah di kalangan ilmuwan kita. Memang ini tidak bisa digeneralisir sebab saya hanya menarik kesimpulan dari kasus INOVASI.

Budaya menulis boleh dikatakan lemah, sebab untuk sekali penerbitan INOVASI biasanya memerlukan 20 artikel. Namun di antara ratusan atau ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, hanya 10-20 orang yang mengirimkan tulisan. Edisi mendatang bahkan membuat kami sangat prihatin karena baru 10 artikel yang masuk.

Saya pikir masalah yang kami hadapi sama dengan masalah yang dihadapi jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia, yang gegap gempita di nomor-nomor awal dan akhirnya merunduk dan terkubur setelah 4 atau 5 kali penerbitan karena tidak ada atau sedikitnya tulisan yang masuk.

DIKTI sudah seharusnya menjadikan penulisan artikel ilmiah/hasil penelitian yang harus terbit di sebuah jurnal terakreditasi, sebagai persyaratan kelulusan bagi mahasiswa  D4/ S1, S2, dan S3.

Selain budaya menulis, teknik penulisan ilmuwan kita pun masih lemah. Ada beberapa tulisan mahasiswa pasca sarjana, dosen senior maupun yunior yang menyalahi aturan EYD. Karena EYD diajarkan saat kita SD, atau SMP , wajarlah bila kita lupa. Atau karena mungkin lama tinggal di Jepang, maka wajarlah kita lupa cara menulis dengan bahasa Indonesia. Seperti yang diceritakan oleh teman-teman, banyak yang kehilangan/menurun kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dan lebih pandai menulis dalam bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Ya, ini memang proses yang  secara alami menimpa kita.

Tetapi yang paling disayangkan adalah lemahnya kemampuan menyajikan tulisan dengan runutan yang baik. Saya termasuk yang paling lemah dalam hal ini. Saya mendapat masukan berharga dari orang-orang atau reviewer  yang membaca tulisan.Daripada tidak ada coretan, saya sangat bersemangat jika draft saya dikembalikan penuh coretan merah. Dan saya paling menghargai orang yang membaca tulisan saya lalu meninggalkan pertanyaan kebingungan di ujung paragraf.

Professor saya termasuk orang yang malas membaca puluhan draft yang saya ajukan. Bahkan draft disertasi sebanyak 5 bab yang saya ajukan tahun lalu belum dibacanya dan komentarnya minim sekali hanya mengkritisi pemakaian istilah Jepang yang saya pakai, atau mencari-cari judul dengan kata-kata yang kadang-kadang orang Jepang sendiri tidak tahu istilah apa yang seharusnya dipakai.

Tetapi ada professor lain yang senang sekali mencoret-coret tulisan saya. Dan dua orang teman Jepang yang biasanya saya minta mengkritisi draft artikel, keduanya pun sangat senang mencoret-coret.

Kelemahan penulisan yang biasanya mereka komentari adalah :

1. Kalimat-kalimat yang panjang. Karena gemar bercerita saya suka sekali bermain kata-kata. Jika orang bisa membuatnya dengan tiga kata, maka saya bisa membuatnya dengan 6 kata atau lebih. Kalimat yang panjang biasanya tidak jelas subyeknya, dan ini menimbulkan makna bias.

2. Paragraf bercabang-cabang. Menulis paragraf yang termudah adalah dengan menempatkan pokok pikiran di awal paragraf, lalu mengembangkannya menjadi paragraf utuh. Pokok pikiran bisa saja diletakkan di akhir atau ditengah, tetapi bagi saya pribadi kadang-kadang ini menyulitkan.

Membangun keutuhan paragraf bukan pekerjaan gampang. Saya contohkan paragraf yang saya buat dalam sebuah artikel di Inovasi Online berikut ini :

Bagaimana dengan Indonesia ? Di Indonesia trend kemajuan sarana transportasi belum dibarengi dengan pendidikan untuk warganya sebagai pengguna. Sebagus apapun sarana transportasi yang diintroduksikan di suatu daerah, upaya untuk memelihara, menjaga dan mematuhi aturan pemakaiannya masih sulit untuk ditegakkan. Penulis beranggapan bahwa kemajuan suatu bangsa harus dibarengi dengan pendidikan adab yang harus dimulai sejak bangku pra sekolah, pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Namun berdasarkan konsep pengajaran yang menyitir bahwa usia TK dan SD adalah masa yang paling tetap untuk mengenalkan hal-hal yang baik berkaitan dengan kedisiplinan, maka usulan pembelajaran tentang kota dan transportasi sebaiknya ditekankan pada kedua level ini.(Inovasi Online Vol.10/XX/Maret 2008).

Warna yang berbeda menunjukkan alur yang tidak konsisten. Pokok pikiran ada pada bagian berwarna ungu. Seharusnya bagian ini dilanjutkan dengan bukti atau penjelasan pernyataan yang diajukan di pokok pikiran, tetapi saya justru membawakan kalimat/ide baru pada bagian berwarna biru. Bagian hijau dan merah seharusnya dipisahkan menjadi paragraf baru.

Ibaratnya begini : saya diminta oleh mamak saya untuk membeli es cendol di warung yang ada di ujung jalan. Saat menuju ke warung itu, saya mampir ke warung bakso, bertemu teman, mengobrol ngalor ngidul berjam-jam dan akhirnya saya pulang membawa bakso 😀

3. Tulisan harus merupakan sebuah cerita skenario yang berisikan masalah di awalnya, konflik di tengah dan diakhiri dengan penyelesaian masalah. Konflik yang dimaksud adalah pembahasan, mengapa begini dan begitu, atau bagaimana kalau begini dan begitu. Ya, mengambil contoh membeli cendol di atas, seharusnya skenario yang baik adalah saya pulang membawa cendol 😀

4. Berbeda dengan cerita film atau detektif yang akhir ceritanya membuat penonton atau pembacanya mengernyit bingung, tulisan ilmiah harus menjawab semua kebingungan jawaban yang bisa membuat senyuman lebar, atau mengangguk-angguk tanda mengerti para pembacanya, dan kalau ada masalah yang belum terjawab, penulis pun menyampaikannya dengan jelas.

Ini juga susah sekali bagi pendongeng seperti saya. Kesulitannya bukan hanya merangkai cerita, tetapi kelemahan utama saya sebenarnya ada pada bagian awal menulis, yaitu merumuskan masalah 😀

Ibaratnya seorang pasien yang ditanya dokter, sakit apa? Lalu si pasien kemudian berceloteh perutnya sakit, lututnya selalu gemetaran, dan matanya tidak bisa dipakai membaca jarak jauh, tetapi kalau melihat tulisan SALE, bisa ! Dijamin dokternya kelimpungan mendiagnosis penyakit dan memberi obat yang benar 😀

Demikianlah. Menulis tulisan ilmiah memang membutuhkan energi lebih besar daripada menulis di blog, apalagi menulis komentar di fesbuk 😀  Oleh karenanya perlu latihan dan pengasahan. Jangan segan-segan meminta orang lain untuk membaca tulisan kita, bukan saja orang yang sebidang dengan kita, tetapi sesekali orang awam perlu membacanya.

Semakin sering mendapat coretan merah, semakin kita paham apa yang dimaui reviewer/pembaca.



Iklan
  1. HHmnm,….Menulis ilmiah yawh Bu Murni…
    Sayang sekali ya, sampai sekarang saya memang masih belum pernah menulis karya cipta ilmiah, padahal saya sangat ingin sekali membuat reserach mengenai lapangan studi saya, yakni Social Work…

    Oh iyah Bu Murni, apakah Anda mengetahui mengenai informasi mengenai pendidikan S-2 Social Work di Japan…

    Cita2 saya, nantinya akan melanjutkan S-2 Social Work di sana, namun tetap masih mencari Scholarship dulu he he…

    Salam semangat Bocahbancar

  2. @Bocahbanjar : wah, saya ndak tahu info ttg itu. Krn bidang saya pendidikan, mk kenalnya dg prof yg mendalami bidang itu saja. Di kampus sy, sy tidak tahu siapa yg mendalami itu. mungkin bisa disearch di masing2 univ, biasanya ada data prof.dan penelitiannya.

  3. sensei Murni hebat bisa nulis artikel sampai 5 bab, pakai bahasa Jepang semuanya, iya ari pernah comment ditulisan patung gundam 😀
    wah bocahbanjar juga mau di Jpn juga ya :D, belajar dengan sensei murni yuk, boleh kan sensei 🙂

  4. kata dosen saya yang berbahasa jerman, gaya penulisan saya mirip mereka…seneng cerita panjang lebar dan muter2 baru ke pokok masalah…hehehe

    artikelnya menarik 😉 semakin banyak membaca, semakin tau slag-nya kata orang belanda…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: