murniramli

Bencana : Gempa, Banjir, Bunuh diri

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Agustus 11, 2009 at 10:00 am

Selama berada di Jepang saya baru merasakan gempa yang goncangannya cukup keras tadi pagi. Sekitar pukul 05.07 terjadi gempa besar dengan skala 6 lemah di daerah Shizuoka. Di daerah Selatan Aichi, tempat tinggal saya skalanya 4. Belum dikabarkan ada korban jiwa, tetapi goncangan keras tersebut menghentikan untuk sementara semua perkeretaan di sekitar area gempa, dan beberapa pertokoan terpaksa tutup atau buka tapi dengan barang-barang berjatuhan.

Saya dan anak-anak Sekolah Bhinneka pernah mengikuti pelatihan gempa di Pusat Disaster Minato, Nagoya. Jadi masih teringat bagaimana ketika gempa berskala 7 disimulasikan, apa saja tindakan penyelamatan yang harus dilakukan. Anak-anak lebih paham lagi sebab latihan gempa sering diadakan di sekolah-sekolah Jepang.

Seperti tadi pagi, beberapa orang Jepang di gedung saya masih belum bangun, sementara langit agak pekat sebab semalam taifun nomor 9 barangkali sempat berkunjung, dan tampaknya jalanan pagi ini agak basah.

Tidak hanya gempa, akhir-akhir ini bencana banyak terjadi di Jepang. Taifun nomor 9 disertai dengan hujan berhari-hari, dan di daerah Hyougo dan sekitarnya,  hujan lebat terus menerus, meluapkan sungai, dan menghancurkan beberapa rumah penduduk. Untunglah di Nagoya taifun hanya lewat saja, jadi hari ini cerah dan panas sekali.

Saat terjadi gempa tadi pagi, saya segera berlindung di dalam lemari, sebab di kamar saya tidak ada meja. Jadi tempat yang paling aman untuk menyelamatkan diri adalah di dalam lemari (lemarinya adalah lemari Jepang dua tingkat memanjang ke belakang yang merupakan bagian dari dinding. kalau tidak ada baju2, saya bisa tidur di situ 😀  ), atau di dalam kamar mandi.Kamar mandi biasanya kecil dan tiang-tiangnya kokoh, jadi insya Allah sulit roboh atapnya.

Sambil mengucapkan istighfar dan memohon pertolongan Allah, setelah gempa agak reda, saya bermaksud hendak mematikan listrik. Tapi kalau listrik dimatikan maka informasi tentang gempa tidak tahu. Tidak seperti biasanya setiap kali ada gempa, di layar TV pasti ada tulisan menyatakan gempa ini tidak perlu dikhawatirkan (shinpai ga arimasen), tapi hari ini tulisan itu tidak muncul-muncul , yang ada malah peringatan untuk  penduduk di sekitar pantai dan sungai, dan pengguna jalan tol agar menghindari penggunaan jalan tol yang bersebelahan dengan laut, sebab terlihat ada gejala tsunami.

Saya tidak jadi mematikan TV, tapi segera membuka gerendel pintu, dan jendela. Ini penting, sebab kalau terjadi gempa susulan, tidak ada rintangan untuk lari ke bawah. Saat gempa terjadi saya biasanya baru ingat bahwa saya harus menyiapkan tas yang diisi air mineral, biskuit, pakaian secukupnya, senter dan radio portable. Saya cuma ingat punya beberapa minuman dan makanan di kulkas.

Ya, kata ahli gempa, gempa itu datang pada saat kita tidak siap !

Tampaknya daerah Tokai masih rawan gempa, sebab para ahli memprediksi akan adanya Gempa Tokai yang katanya paling dahsyat dari segala jenis gempa yang pernah ada di Jepang.

Gempa hari ini juga melumpuhkan jalur ke Tokyo yang melewati Shizuoka. Tanah longsor terjadi di beberapa tempat. Beberapa jalur trasportasi terpaksa harus ditutup.

Tidak hanya gempa, hari ini jalur kereta bawah tanah Meijo dan Meiko line diberhentikan beberapa lama karena ada yang melompat ke rel : bunuh diri. Saya yang harus mengurus perpanjangan visa, terpaksa pulang dulu.

Sama seperti informasi tentang gempa yang berulang-ulang disiarkan di TV, informasi dan permohonan maaf dari pihak perkeretaapian berulang-ulang disampaikan kepada penumpang. Permintaan maaf itu karena jadwal kereta terlambat dan informasi jadwal di papan pengumuman menjadi tidak aktif.

Musim panas kali ini mungkin akan kami lewati dengan bencana….
Bagi orang beriman biasanya dia akan menyandarkan diri kepada Pemilik Alam. Di Indonesia biasanya kita melakukan sholat istighatsah saat kemarau panjang, melakukan dzikir akbar saat terjadi bencana banjir, memohon kepadaNya agar mengasihani kita. Perbuatan ini sangat menentramkan hati. Ya, siapa lagi yang dapat menolong kita kalau bukan Allah.

Tetapi bagi orang Jepang, gempa, banjir, tanah longsor, dan taifun bukan terjadi karena kemarahan Kamisama (Tuhan), mereka menganggapnya sebagai peristiwa alam yang memang sudah seharusnya terjadi. Dari aneka bencana ini, semangat untuk menemukan hal-hal baru sebagai bentuk mengantisipasi bencana, atau teknik menyelamatkan diri dari bencana, menjadi bahan penelitian yang tiada hentinya.

Cara pandang kita dan orang Jepang tentang bencana memang berbeda.

Iklan
  1. Alhamdulilah Murni sensei gpp, begitulah Jepang rawan gempa, tsunami, dll…akan tetapi persiapan untuk menghadapi semua hal tu ari salut bgt….dan ari pun salut perjuangan sensei menuntut ilmu di negeri sakura 🙂

  2. Bu Murni ada lemari kaya gitu ya di Motoyama? Sinjirarenaino.hhe.
    walpun uda dapet sertifikat training gempa, tapi kalo pas saia di posisi gitu paling juga lari keluar rumah 🙂
    Alhamdulillah Ibu Gapapa yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: