murniramli

Merdeka dalam berfikir tentang penjajahan

In Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Agustus 19, 2009 at 1:59 pm

Karena tanggal 17 Agustus tahun ini jatuh pada hari Senin di Jepang, maka supaya tetap dapat upacara, mengenang detik-detik proklamasi atau lebih tepatnya dapat tetap berlomba, maka kami PPI Nagoya menyelenggarakan kegiatan 17-an pada tanggal 16 Agustus 2009 (hari Minggu).

Acaranya meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Saya kebetulan sedang menulis tentang pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Beberapa literatur berbahasa Jepang yang saya nukil kebanyakan memang mengungkit-ungkit masalah jasa Jepang dalam memutarbalikkan pendidikan di Indonesia pada masa itu. Buku-buku yang saya baca seakan menutupi kekejaman tentara Jepang selama 3 tahun menduduki Indonesia.

Dalam disertasi saya berusaha mengungkapkan bahwa sekalipun mengubah model pendidikan yang diskriminatif pada jaman Belanda menjadi pendidikan massal, kebijakan pendidikan Jepang adalah kebijakan yang dilandasi oleh ambisi memenangkan perang.

Anak-anak di desa memang lebih leluasa pergi ke Kokumin gakkou (Sekolah Rakyat), sebab pemerintah militer mendorong pelaksanaan wajib belajar, tetapi mereka juga tidak bisa menolak pendidikan kerja dan perang yang diajarkan di sekolah. Saya membaca sebuah kisah tentang pengalaman bersekolah jaman Jepang, dan merasakan anak-anak, sekalipun masa perang  masih dapat bersenda gurau dalam keketatan pendidikan perang dan kerja bakti keras yang harus mereka lakukan, tetapi mereka sekaligus terpaksa atau dipaksa menyaksikan kekejaman perang dan kebringasan orang dewasa menyiksa ayah, kakak, ibu, nenek dan teman-temannya.

R. Murray Thomas mengatakan bahwa tujuan kedatangan Jepang ke Hindia Belanda tahun 1942 disikapi secara berbeda antara peneliti Jepang dan non Jepang. Orang Jepang cenderung menganggapnya sebagai upaya untuk menyelamatkan bangsa Asia dari penjajahan bangsa Eropa, tetapi non Jepang cenderung mengatakan bahwa kedatangan itu adalah untuk menjajah.

Peneliti katanya harus netral. Tetapi saya sama dengan manusia Indonesia lainnya, tidak bisa menerima kekejaman yang dilakukan tentara Jepang dulu terhadap kakek nenek saya.

Saya tentu saja tidak membenci orang Jepang yang tidak mengalami masa perang, tetapi sangat ingin memberontak tatkala ada pihak yang menyebut-nyebut keunggulan dan kebaikan yang didatangkan Jepang saat perang dulu.

Bahwa Jepanglah yang mengajarkan keberanian kepada orang-orang Indonesia, bahwa Jepanglah yang mempersiapkan Indonesia untuk menyongsong kemerdekaannya.Bahwa karena pelatihan tentara pada masa itu, pemuda-pemuda Indonesia mempunyai keberanian menentang Inggris dan Belanda yang ingin menjajah lagi. Mungkin ada benarnya !

Tetapi andaikan tidak ada kekalahan yang dialami Jepang pada tahun 1944-1945, andaikan Amerika tidak mengebom Hiroshima dan Nagasaki, apakah benar pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah, semangat militer Jepang yang didengungkan sehari-hari adalah untuk menyongsong kemerdekaan Indonesia ?

Tiga tahun masa pendudukan militer adalah sebuah takdir kekalahan Jepang. Seandainya tidak ada kekalahan maka barangkali masa terjajah bagi bangsa Indonesia akan lebih panjang lagi.

Jika mau menyebut-nyebut keuntungan dan keburukan, maka penjajahan Belanda juga bisa dikatakan membawa kebaikan dengan pengenalan sistem pendidikan modern, irigasi atau pendirian industri-industri penting. Tetapi membicarakan kebaikan itu harus dibarengi dengan jumlah penderitaan yang harus ditanggung rakyat Indonesia sebagai bangsa yang terjajah.

Membicarakan perubahan pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang juga tidak bisa lepas dari niatan pemerintah militer Jepang pada waktu itu untuk mempersiapkan perang. Karena tanah-tanah Hindia Belanda direbut dengan peperangan melawan Belanda dari Tarakan hingga tanah Jawa pada tahun 1942, maka wajar pula Jepang merisaukan kalau kekuatan Eropa akan kembali merebut tanah-tanah subur itu melalui jalan yang sama : peperangan.

Sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial pada saat yang bersamaan. Sistem diskriminasi pada masa Belanda diberlakukan karena di Belanda pun masyarakatnya terkelas-kelaskan antara kaum borjuis dan kaum buruh pada abad 19. Sistem sekolah rakyat diterapkan karena sistem itu memang berlaku di Jepang pada masa tahun 40-an.

Kurikulum kata Michael W. Apple adalah sesuatu yang berubah karena perubahan tren masyarakat. Kurikulum pendidikan Belanda juga berubah menjadi kurikulum Jepang yang lebih banyak memuat materi bekerja dan peperangan, karena tren perang pada masa itu.

Pengajaran dan penggunaan bahasa Indonesia yang diperbolehkan di semua level pendidikan adalah sebuah bentuk keterpaksaan. Karena penduduk Indonesia sekalipun dididik siang dan malam tidak akan bisa menguasai bahasa Jepang yang penuh dengan kanji. Apalagi yang pergi ke sekolah hanya 21% dari anak-anak berumur 6 sd 12 tahun, dan hanya 0.03% anak-anak berumur 13-18 th, dan lebih kecil lagi pada usia perguruan tinggi. Membiarkan bahasa Indonesia dipelajari di sekolah sekaligus sebagai modal memudahkan komunikasi rakyat dan militer Jepang.

Adalah memang menjadi baik bagi bangsa Indonesia karena dapat mempelajari bahasanya sendiri, tetapi perlu diingat bahasa Indonesai pada masa itu adalah the second language setelah bahasa Jepang. Anak-anak Kokumin Gakkou belajar Bahasa Jepang dari kelas 1 hingga kelas 6 dg jumlah jam pelajaran berturut-turut 3,4,5,6,6,6 jam per minggu. Sedangkan bahasa Melayu (Indonesia) hanya diajarkan dari kelas 3 sd 6, dengan jumlah jam belajar masing-masing 4,4,5,5 jam per minggu.

Kegiatan olah raga (taiso), kerja bakti (kinroushi), sagyou, kousaku (prakarya dan keterampilan) memang diajarkan di Kokumin Gakkou hingga Koutou gakkou (SMA), tetapi bukankah itu untuk keperluan persiapan perang? Banyak kebaikan yang didapatkan anak-anak Indonesia, terutama dari segi latihan fisik dan mental pemberani, tetapi bukankah dengan logika yang sama kita juga dapat mengatakan bahwa pendidikan bermacam-macam bahasa asing pada masa penjajahan Belanda juga membawa kebaikan yaitu mengantarkan pemuda-pemuda Indonesia mengenal dan mempelajari dunia sains dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di Eropa pada masa itu?

Saya hanya ingin meng-otokritik-i dan membiarkan pikiran saya “merdeka” saat mengulas data-data dan tulisan-tulisan  tentang pendidikan Indonesia jaman Jepang. Saya cuma tidak mau mengatakan “iya” atau “tidak” pada sesuatu yang saya dipaksa mengatakannya, padahal belum lagi akal dan hati saya mencernanya.

Dirgahayu RI ke-64 !

Iklan
  1. wah ulasan yang luar biasa… kritis dan membangun…. semoga sukses selalu amin!!!

  2. Dirgaharu RI. Senang membacanya, Bu Murni. Dan.. Mohon maafkan jika saya ada salah.
    Happy Ramadhan.. 🙂

  3. @Bu Al : Terima kasih dan sama-sama, selamat berpuasa.
    Mohon maaf lahir dan bathin

  4. absen 🙂 tulisan yang sangat membangkitkan semangat..dan karena sebnetar lagi kita akan berpuasa, ari khususnya mohon maaf bila ada kata yang salah saat comment di blog sensei baik yang disengaja maupun tidak disengaja mohon dimaafkan dan ari ucapkan “selamat menunaikan ibadah puasa 1430 H” 🙂

  5. @Ari: Sama-sama, selamat berpuasa dan mohon maaf lahir batin juga

  6. itulah arti kemerdekaan yang sebenarnya 🙂

  7. terima kasih bu, sangat menarik

  8. Merdeka!!! Merdeka dari perbuatan sia-sia dan kesalahan yang di sengaja..Mohon maaf lahir bathin… Ya Mbak … Marhaban ya Ramadhan…

  9. @Mba Hani : mungkin demikian 😀
    @Raka : sama-sama
    @Avis : Maaf lahir batin juga, Mas,dan selamat berpuasa

  10. membaca ulasan di atas, kening saya agak sedikit berkerut. Ibu terlalu ‘ketus’ menanggapi kata-kata ‘penjajahan Jepang membawa manfaat buat bangsa Ind’ yang kemudian Ibu malah melakukan counter opini dengan mengatakan bahwa ‘kalo begitu penjajahan Belanda juga membawa kebaikan’ yg ditambahkan dgn penguatan oleh referensi yang Ibu sertakan (R. Murray Thomas). Haiyah, Ibu seperti sedang berbuat tidak adil dan terlalu membawa perasaan. Jika tulisan disusun dan dianalisis berdasarkan perasaan, rasanya tulisan yang kita hasilkan tidak akan memberikan banyak manfaat. Akan lebih baik jika Mbak menyusun dan menganalisisnya dengan akal dan hati yang jernih, mudah2an membawa kebaikan buat kita. Ayo Mbak, saya tunggu tulisan Mbak ttg pendidikan Ind pada masa penjajahan Jepang.
    Btw, sekarang tulisannya sudah ada belum Mbak? Jzkl

  11. @Mba Tati : Mbak-e, saya menuliskan itu dg perasaan merdeka. Dan rasanya sudah adil jk saya menyoroti penjajahan jepang dan belanda dari dua sisi, yaitu kebaikan dan keburukannya.Yg adil menurut Mbak-e bagaimana ?
    Referensi-ne Pak Thomas sama sekali ndak nguatin apapun dari yg saya ungkapkan, selain dia menguatkan pendapat yg sudah ada ttg tujuan kedatangan Jepang ke Indonesia.

    Saya kurang setuju jk dikatakan bahwa tulisan yg disertai perasaan tdk banyak memberikan manfaat, sebab banyak tulisan renungan yg saya tulis di blog ini, dan bahkan hampir semuanya saya tulis pake perasaan heheheh, ternyata menurut pembaca yg lain banyak manfaatnya.
    Seterusnya saya masih akan menulis dg perasaan dan pikiran. Rasanya ndak ada tulisan yg baik kalau cuma ditulis berdasarkan otak.
    hayooo….begimana ?

  12. Menurut Bu Murni yang paling parah dampak penjajahannya Belanda atau Jepang?
    Kalau menurut saya Jepang yang paling parah (^_^)

  13. @Ianx : Apa dasarnya Ianx mengatakan dampak pendudukan Jepang paling parah ?
    🙂
    heheh…maaf balik nanya

  14. Sebenarnya itu pendapat dari guru sejarah saya waktu SMA dulu, dan saya pun setuju dengan pendapat beliau. Menurut beliau Jepang lebih banyak menguras SDA dan SDM Indonesia dari pada Belanda. Kekayaan penduduk banyak yang dijarah habis-habisan dan SDMnya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka (kerja paksa, pekerja sex, sampai wajib militer).

  15. sebenarnya sama sahaja khoq, sama-sama perampok (di darat) perompak (di laut). kalau belanda dikata tak lebih kejam ketimbang jepang, itu hanya soal waktu (lama 3,5 abad dan singkat 3 tahun) tentu sahaya berbeda sensasinya, diperas+dianiaya ada kesempatan “membalas budi”. dan berganti regenerasi (tak alami pahit getirnya masa tanam paksa oleh kakek/nenek moyang+dinikmati manisnya politik etische oleh cucu+cicitnya, malahan kerasan dan kangen membentuk aliansi kerja sama manies pribumi+penjajah, opo ora edhian) masa keberuntungan dinikmati+borong oleh belanda ; diperas+dianiaya+di imbangi pendidikan bangkit melawan bangsa belanda, semua dialami oleh 1 s/d 2 generasi), dialami oleh jepang. soal jugun ianfu (wanita lokal penyalur nafsu serdadu, jauh dari wanita di pertempuran, dilatar belakangi cermin budaya jepang menghargai wanita bagaimana, belanda pun gak beda jauh, terhadap perempuan pemberani tak dipungkiri sama saja. hanya mereka lebih lembut dengan menjadikannya gundik-budaknya,tak dikawin resmi (londo godong) bahkan malahan ada rasa bangga terpilih diantaranya, calon keturunan pengkhianat kata kaum yang non co, sikap sebaliknya ditunjukkan oleh kelompok yang co).

    perjuangan tak kenal lelah disuarakan oleh mereka pantang menyerah
    walau terasa tak mungkin dalam damai(oleh Ki Ageng Suryo Mentaram)
    sengkuyung Ngarso Dalem Hamengku Buwono VIII, Yogya, KH. Hasyim Ashari, diterjemahkan oleh Ki Hajar Dewantoro+KH. Samanhudi+KH. Agus Salim+Bung Karno dst. tibalah saat jepang datang, diusulkan meminta pendidikan laskar pembela lokal, sebagai langkah perjuangan menuju merdeka (tak diijinkan penguasa setempat, khawatir berbalik senjata makan toean) usulan dibawa seorang inteligen langsung ke dan turun perintah langsung dari Tokyo membentuk laskar PETA, inti dari pejuang terorganisir, dan saat belanda/NICA kembali, kita dengan semangat pendidikan keberanian+ kemiliteran mampu melawan, dan meletuslah pertempuran dimana-mana hingga merdeka secara fisik.

    mungkin itu pandangan merdeka berfikir tentang penjajahan dari sisi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: