murniramli

Orang tua

In Islamologi, Renungan on Agustus 23, 2009 at 7:27 am

Pagi ini ada acara menarik di sebuah channel TV Jepang tentang orang tua Jepang yang masih aktif bekerja di industri, di pabrik, di toko, bahwa di pusat-pusat pelayanan masyarakat. Mereka kebanyakan berusia 70-80 th.

Saya pernah mengunjungi sebuah pabrik penghasil onderdil kendaraan di Aichi, dan sempat bertemu dengan kakek-kakek yang sangat tekun bekerja di usianya yang sudah uzur.

Kalau melihat mereka, sebenarnya tidak hanya orang tua di Jepang saja, tapi orang tua di manapun di muka bumi ini adalah orang yang tidak mau dikasihani oleh anak-anaknya dan sebenarnya tidak mau bergantung kepada anak-anaknya.

Paman, bibi, kakek, nenek, bapak, mamak adalah sebuah potret pekerja keras yang tidak bisa diminta untuk beristirahat.

Saya sama seperti anak-anak kecil jamaknya, punya cita-cita kalau sudah besar akan membelikan bapak mamak rumah, mobil, dan segala kesenangan. Bapak mamak tidak usah bekerja, tinggal menikmati masa tua saja bersama cucu-cucunya.

Allah SWT dan RasulNya Muhammad SAW menyebutkan beberapa nasehat untuk menghormati dan mengasihani orang tua. Salah satunya dalam QS Luqman : 14

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Wa wasshoinaa (dan kami telah wasiatkan untuk berbuat baik) al-insaana (manusia) biwalidaihi (kepada kedua orang tuanya) hamalathu (telah mengandungnya) ummuhu (ibunya) wahnaan (dalam keadaan lemah) ala wahnin (yang semakin bertambah lemah) wa fishooluhuu (dan menyapihnya) fii aamain (dalam dua tahun)anisykurlii (maka bersyukurlah kepadaKu) wa liwalidayka (dan kepada kedua orang tuamu) ilayyalmashiir dan kepadaKulah kembalimu)

Dan pada QS Al-Israa : 23 -24 yang selalu keluar saat ulangan agama

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا

وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

waqadhaa rabbuka (dan Tuhanmu telah memerintahkan) allaa ta’buduu (agar kamu jangan menyembah)) illa iyyaahu (selain kepadaNya) wa bil waalidaini (dan kepada kedua orang tuamu) ihsaanan (berbuat baiklah) imma yablughanna (jika telah sampai) ‘indakal (dalam pemeliharaanmu) alkibara (usia lanjut) ahaduhuma (salah seorang diantara mereka) au kilaahuma (atau keduanya) falaa (maka janganlah ) taqul lahumaa (engkau katakan kepada keduanya ) uufin (uh)wa laa tanhar humaa (dan janganlah kamu membentak mereka) wa qul lahumaa (dan katakanlah kepadanya) qaulan kariiman (perkataan yang mulia

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

wakhfidh (dan rendahkanlah) lahumaa (terhadap keduanya) janaaha dzulli (kedudukanmu) min rahmati (dengan penuh kasih sayang), wa qul (dan katakanlah) rabbi (Ya Tuhanku) irhamhumaa (kasihilah keduanya) kamaa (sebagaimana ) rabbayaanii (mereka berdua mengasuhku) shagiiraa (sejak kecil)

Pada waktu kita masih kecil, orang tua adalah sosok yang karismanya membuat kita terpaksa mematuhinya. Ayah selalu tergambar sebagai pengetok palu dalam kasus apapun. Dan ibu selalu tergambar sebagai polisi. Saya masih ingat cubitan mamak di paha kala saya tak patuh dulu.

Tapi ketika mereka sudah lanjut usia dan kita menjadi bertenaga dan bertambah berat dan keras pula suara kita, maka kita mulai berani menentangnya.

Sewaktu bapak masih hidup, saat-saat terakhir beliau gemar sekali mengerjakan pekerjaan yang tidak seimbang lagi dengan kekuatannya. Kadang-kadang pula berlaku seperti anak-anak, lupa dengan sholat yang  dikerjakannya berkali-kali, bangun malam dan memaksa mamak untuk sholat lagi. Adik saya melapor bahwa bapak semakin sulit diatur. Saya katakan bahwa demikian memang usia yang memakan orang tua. Kita harus sabar.

Kadang saya nasihati adik, agar membiarkan saja apa maunya bapak. Jika dia ingin berkebun, maka antarkan ke kebun. Jika dia ingin memberi makan ayam, maka antarkan ke kandang ayam. Tapi, bapak ingin memperbaiki genteng katanya, yang sebenarnya tidak rusak. Barangkali saya akan seperti adik seandainya berada di sisi bapak saat kerewelannya kumat.

Ada orang tua yang dipanjangkan umurnya dan diberikan kesehatan yang tiada tara, sebagaimana orang tua Jepang yang sering saya jumpai. Tetapi ada juga orang tua yang dipanjangkan umurnya tetapi tidak dengan kesehatan yang baik. Dan ada pula yang diringkaskan umurnya agar tidak terlalu lama menderita. Semuanya adalah ketentuan yang tidak bisa dimengerti sebelum terjadinya.

Maka sungguh mulialah anak-anak yang dapat berlaku sabar ketika orang tua mengalami sakit. Maka sungguh bahagialah anak-anak yang dapat menjadi penyenang orang tuanya.

Sudahkah anda meminta maaf kepada ayah ibu anda  ?
Sudahkah anda menyapanya dengan lembut hari ini ?

Sebelum ramadhan saya selalu menelepon mamak, seperti kemarin dulu, meminta maaf dan menanyakan kabarnya menjelang bulan ramdhan. Ingin sekali saya menyapa bapak, tapi beliau sudah tidak ada…

Renungan hari kedua….


Iklan
  1. waiting for next posting … hv a nice pasting mba murni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: