murniramli

Mengajarkan Al-Quran

In Islamologi, Renungan on Agustus 24, 2009 at 3:46 am

Selama berada di Jepang, saya mengalami banyak kisah-kisah spiritual yang barangkali juga dialami oleh orang Islam yang tinggal di sini. Mulai dari mengurusi jenazah hingga memberikan pengajian baik kepada muslimah Jepang maupun Indonesia. Yang paling saya sukai adalah mengajari anak-anak.

Sekitar dua minggu yang lalu, saya dicegat oleh seorang muslimah dari Uygur, Cina yang sudah lama saya kenal. Kami sama-sama pernah tinggal seasrama, dan ketika dia memperkenalkan namanya, Kalbi Nur, saya terpesona dengan artinya, Cahaya Hati.Ah, indah sekali nama yang diberikan orang tuanya. Sayangnya teman saya ini sama dengan kebanyakan teman muslim di Uygur atau di negara-negara berpenduduk muslim bekas jajahan Sovyet. Mereka hanya memiliki nama-nama Islam tetapi tidak tahu Islam. Pembelajaran Islam sepertinya terputus pada generasi tuanya.

Teman Uygur meminta saya menyediakan waktu di sore hari untuk mengajarinya sholat. Lucunya dia hanya minta diajari satu macam sholat saja, sholat maghrib, dan katanya : “Saya akan mencoba latihan satu kali sholat sehari”. Saya mengangguk, lalu mengatakan : bagus ! Then, mari kita sepakati kapan kita mulai. Sayangnya dia dan apalagi saya sama-sama sibuk, saya tunggu kabar darinya tak kunjung datang. Tampaknya saya yang harus mulai mengajaknya, bukan dia yang harus memulainya.

Kemarin, saat mengikuti buka puasa bersama di masjid, seorang wanita berumur 50 tahunan mendekati saya, sambil menyapa : “masih ingat dengan saya ?” Saya jawab : Ya, tentu saja ingat. Dia mengingatkan kembali pertemuan kami 2 tahun yang lalu dengan menyebutkan namanya, Arifah. Ya, dia ibu dari Afghanistan yang mengelola sebuah restoran di Nagoya. Tatkala bertemu dua tahun yang lalu, saya masih ingat saya mengajari anak-anak kecil berkebangsaan Arab mengaji. Saat itu acara buka bersama di masjid. Saya tahu dia memandangi saya terus. Kami berjumpa lagi ketika saya dipanggil ke masjid karena ada seorang muslimah dari Pakistan yang meninggal dunia. Dan kami bertemu lagi saat saya memberikan pengajian di acara halal bi halal muslim se-Aichi. Saya lupa di bagian pertemuan yang mana dia memberikan saya kartu nama sambil bertanya-tanya tentang studi saya.

Kemarin dia mendatangi saya yang duduk di pojok ruangan. Dia meminta tolong saya untuk mengajari putrinya yang sudah dewasa (mungkin SMA) yang belum lancar membaca Al-Quran. Gadis yang dimaksud datang menghampiri, wajahnya cantik khas Arab, tersenyum dan saya membalasnya. “Kalau kamu tidak bisa, tolong carikan guru yang lain, tapi kalau bisa anak gadis”, katanya. Saya mengangguk dan berjanji mencarikan dalam waktu seminggu dua minggu.

Dalam benak terbersit pertanyaan mengapa anak sebesar itu belum bisa mengaji ? apakah ibunya tidak membimbingnya ? lalu, mengapa saya yang dimintai tolong, bukankah lidah Arab akan lebih fasih mengajari makhroj huruf-huruf Al-Quran ketimbang lidah Asia ?

Saya tidak tahu. Tetapi sepertinya Allah telah menggariskan hidup saya untuk selalu beririsan dengan ajar mengajar. Allah seperti menagih amalan ilmu yang sudah dipahamkannya dalam kepala dan benak saya. Sebab tidak hanya wanita Afghan tsb, sebelumnya banyak sudah teman-teman yang meminta diajari Al-Quran, bahasa Arab, ilmu-ilmu agama, tetapi saya dengan gampangnya berdalih “sibuk”.

Mengajarkan agama, mengajarkan Al-Quran, mengajarkan sholat, sebenarnya apa yang lebih mulia daripada amalan-amalan tersebut ?

Saya sedih sebab dunia telah mengalahkan akhiratku….

Betapa  inginnya menjadi seperti orang yang digambarkan dalam QS Fathir : 29-30

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Innalladziina yatluuna (Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca) kitaaballaahi (kitab Allah) wa aqiimushholaata (dan mengerjakan salat) wanfaquu (dan menafkahkan) mimmaa razaqnaahum (sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka) sirran (dengan diam-diam) wa alaaniyyatan (dan terang-terangan) yarjuuna  (mereka itu mengharapkan)  tijaaratan (perniagaan)lan yabuura  (yang tidak akan merugi), liyuwaffiyahum (agar Allah menyempurnakan kepada mereka) ujuurahum (pahala mereka) wa yaziiduhum (dan menambah kepada mereka) min fadhlihi (dari karunia-Nya). Innahu (Sesungguhnya Allah) Ghafuurun (Maha Pengampun) Syakuuur (lagi Maha Mensyukuri)”.

Ayat di atas mengikutkan kegemaran dan kerutinan membaca Al-Quran dengan kerutinan sholat dan memberikan nafkah. Tetapi bukankah ada orang yang semalam suntuk membaca Al-Quran, berdiri tegak sholat tetapi dia tidak mau menafkahkan hartanya ? Atau bukankah ada orang yang fasih lisannya membacakan ayat-ayat Al-Quran, tetapi dia masih juga tak menyempurnakan sholat lima waktunya.

Ya, maka ketika saya merasakan kesumpekan dan kekurangbahagiaan, itu semestinya karena saya kurang sempurna membaca, memahami dan mengamalkan Al-Quran.

Banyaknya hadits yang memuji-muji orang yang membaca dan mengajarkan Al-Quran, saya menangis karena ingin sekali seperti apa yang digambarkan Nabi SAW :

Dari Usman bin Affan ra. dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda;

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”(HR. Bukhari )

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (HR Bukhari & Muslim)

Bukankah saya dan anda pun ingin seperti ini :

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (HR Abu Dawud)

Alangkah bahagianya orang-orang yang digerakkan hatinya oleh Allah untuk merutinkan bacaan dan memahami KitabNya.

Alangkah bahagianya orang-orang yang diringankan dirinya dari berkeluh kesah sehingga ringan langkahnya mengajari sesamanya Al-Quran.

Renungan hari ketiga ……

Iklan
  1. …^_^…ada saatnya kita diberikan hal yang lebih, tapi tidak memanfaatkannya dengan baik…
    good and nice story..its make us to think, that we must push our self to lear and to know about our religi….
    bener ga ya tullisannya,,,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: