murniramli

Mengartikan amalan sunnah

In Islamologi, Renungan on Agustus 26, 2009 at 8:50 am

Kalau kita bertanya kepada anak sekolah di Indonesia tentang definisi sunnah maka yang akan keluar adalah jawaban : sunnah itu perbuatan yang kalau dikerjakan mendapatkan pahala dan kalau ditinggalkan tidak mendapatkan dosa.

Apakah anda mempunyai definisi yang lain ?

Saya memahami definisi yang sama ketika sekolah dulu, tapi saat nyantri di sebuah pesantren di Bogor, Ustadz mengajarkan pemaknaan yang lain tentang amalan sunnah.

Amalan sunnah adalah amalan yang kalau dianjurkan untuk dikerjakan, dan tidak terpuji jika ditinggalkan.

Mengapa kategori mendapat/tidak mendapat pahala tidak menyertai definisi tersebut ? Alasannya karena semua amalan manusia dijanjikan Allah akan mendapatkan balasan. Sekecil apapun amalan itu. Hukum sunnah tidak menyangkut perkara pembagian pahala, tetapi menyangkut kebolehan dan ketidakbolehan perbuatan. Hukum perbuatan yang tidak diperbolehkan adalah haram dan makruh, sedangkan hukum yang diperbolehkan adalah sunnah dan mubah.

Pahala dari setiap amalan adalah rahasia Allah. Dia memang menjanjikan dan kita meyakini hal ini adalah janji yang benar, tetapi kita tidak tahu apakah amalan yang kita kerjakan telah besih dari riya, telah ikhlas dilakukan, telah memenuhi syarat-syaratnya ? Oleh karena itu melakukan sesuatu perbuatan lebih baik tidak didasarkan kepada besarnya pahala yang akan diterima, tetapi pada boleh tidaknya itu dilakukan.

Mari kita lihat QS Al-Baqarah : 110

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Wa aqiimu (dan dirikanlah) assholaata (sholat) wa’tuu azzakaata (dan berikanlah zakat) wa maa (dan apa saja) tuqaddimuu (yang dikerjakan) li anfusikum (oleh dirimu sendiri) min khairin (berupa kebaikan) tajiduuhu (maka engkau akan dapatkan balasannya) inda llaahi (di sisi Allah). Innallaaha (Sesungguhnya Allah) ta’maluuna bashiir (Maha Mengetahui lagi Maha Melihat)

Kemudian di QS At-Taubah : 105

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

waqul (dan katakanlah) i’maluu (bekerjalah kamu) fasayaraa (maka akan melihat) Allaahu (Allah) amalakum (amalanmu) wa rasuluhu (dan demikian pula rasulNya) wal mu’minuuna (dan orang-orang mukmin) wasaturadduuna (dan kamu akan dikembalikan) ilaa (kepada) aalimilghaibi (Yang Mengetahui segala yang ghaib) wa ssyahaadati (dan yang nyata) fayunabbiukum (dan akan diberikan kepadamu) bimaa (apa saja) kuntum ta’maluun (yang kalian kerjakan).

Ketika dipahami sebagaimana hafalan yang diajarkan di sekolah, maka kita tidak akan pernah terdorong untuk mengerjakannya. Sebab jika tak dikerjakan maka tak ada dosa.

Masalah dosa lagi-lagi bukan ranah kekuasaan manusia. Apakah sesuatu layak disebut dosa ataukah tidak kita hanya dapat memutuskannya berdasarkan aturan hukum yang ada. Tapi ada sesuatu yang manusia tidak bisa menilainya secara kasat mata, yaitu niat seseorang tatkala mengerjakan pekerjaan, dan hanya Allah yang mengetahuinya. Karena niat inilah seseorang dinilai telah beramal baik atau telah melanggar hukumNya.

Oleh karenanya, dengan definisi bahwa amalan sunnah adalah amalan yang tidak terpuji jika ditinggalkan, atau dengan kata lain sebaiknya dikerjakan, maka tentunya membaca Al-Quran, berdiri menegakkan sholat tahajjud, berpuasa Senin Kamis, bersedekah, dll lebih terpuji jika dilakukan daripada ditinggalkan.

Lalu, teman saya berkata bahwa kalau begitu sungguh berat menjadi muslim yang sejati. Ya, memang demikian adanya. Makanya Allah menjanjikan untuk mereka surga yang belum pernah terlihat oleh mata keindahannya. Setimpal bukan ?

Tapi Allah Sangat Penyayang dan Pengasih. Dia tahu manusia mempunyai sifat malas dan enggan, maka diberilah kita keringanan untuk mengerjakan ibadah (beramal) sesuai kemampuan.

Tetapi bukankah kita tidak mau digolongkan sebagai muslim minimalis ?

Maka, jika mengharapkan berdiri bersama orang-orang yang bersih wajahnya dalam barisan yang dipimpin Rasulullah SAW, mari kita mulai menegakkan amalan sunnah. Mulai dari yang kecil, sedikit, ringan….tetapi rutin.

Renungan hari kelima…..

Iklan
  1. Saya membaca renungannya tiap hari, Bu Murni 🙂

  2. @Bu Al : Semoga mendapatkan manfaat, terima kasih sudah membacanya 😀

  3. subhanallah ,anti kreatif bangrt tolong bagi2 dong cara bikin link kaya gini! kirim aja ke abulhusna@ymail.com semoga ana bisa. makasih atas bagi2 ilmux

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: