murniramli

Menghidupkan tanah mati

In Islamologi, Renungan on Agustus 28, 2009 at 5:42 am

Beberapa hari belakangan ini, kota-kota di Jepang dipenuhi dengan suara-suara politikus berkampanye. Banyak tema yang dipersoalkan untuk meraih suara terbanyak. Isu-isu tentang penurunan pajak, pembayaran pensiun, partispasi perempuan cukup hangat diangkat.

Tadi malam sebuah chanel TV yang khusus menampung aspirasi rakyat terhadap para peserta Pemilu menampilkan sebuah pendapat tentang perlunya partai memperjuangkan dan memperbaiki pertanian di Jepang.

Dalam sebuah grafik disajikan partisipasi kerja di bidang pertanian merosot tajam dalam dua dekade, dan diperparah lagi karena kebanyakan orang yang bergelut di bidang pertanian adalah manula berusia 60 tahun ke atas.

Saya pikir Indonesia suatu saat akan mengalami masa seperti Jepang, yaitu ketika pertanian tak lagi menjadi lahan kerja yang diminati oleh anak-anak muda.

Sejak jaman Belanda, pertanian dianggap sebagai pekerjaan bumiputera kelas paling bawah. Bahkan mata pelajaran keterampilan pertanian ditolak mentah-mentah untuk diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran pelengkap di sekolah-sekolah berbahasa Belanda.

Pergeseran arah pembangunan negara dari negara agraris menjadi negara industri tampaknya menjadi sebuah pilihan yang tidak bisa dihindari. Dari sudut pandang ekonomi dikatakan bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran, negara perlu mendorong manufaktur yang menyerap tenaga kerja yang banyak, dan mengurangi ekspor komoditi non olah (hasil bumi). Harus ada diversifikasi hasil untuk meningkatkan nilai jual.

Ide itu benar, tetapi tidak justru menghilangkan dan mengabaikan kegiatan pertanian, sebab bagaimanapun juga manusia masih makan makanan pokok yang dihasilkan dari tanah pertanian.

Ketika saya belajar di pesantren dulu, saya sangat terkesan dengan uraian tentang beberapa ashaabul maal (penguasaan harta) yang diperbolehkan di dalam Islam (saya sempat belajar tentang ekonomi Islam di pesantren). Salah satu yang paling teringat adalah menghidupkan tanah mati.

Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah r.a., sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang memakmurkan sebidang tanah yang tidak ada yang punya, maka ia lebih berhak akan tanah tersebut” (HR. Bukhari)

“Tiada seorang lelaki menanam sesuatu tanaman melainkan Allah Azza Wajalla menetapkan baginya ganjaran pahala sebanyak jumlah yang dihasilkan oleh tanaman tersebut”(HR. Ahmad)

Di daerah-daerah yang diperkirakan akan berubah menjadi perkotaan dengan memadatnya populasi penduduk dan dibangunnya pabrik-pabrik di sekitarnya, tanahnya mulai dikapling-kapling. Petani mulai berhenti mengerjakan sawahnya dan tinggal menunggu kedatangan orang yang akan menawar tanahnya dengan harga termahal. Setelah tanah terbeli, si petani kemudian beralih kerja menjadi buruh, dan si pemilik tanah membiarkan tanah tersebut hingga tiba masanya dijual kepada developer yang akan mengembangkan perumahan elit di atasnya.

Menghidupkan tanah mati memang tidak selalu diartikan sebagai usaha pertanian. Tetapi dapat dimaknakan luas sebagai mengusahakan sesuatu di atas tanah tersebut, yang dapat menghasilkan.

Tanah-tanah yang tandus memang tak dapat menjadi subur hanya karena usaha manusia tanpa Allah menghendakinya (QS Fushshilat : 39).

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa min aayaatihi (dan diantara tanda-tanda Kebesaran-Nya) innaka taraa (bahwa kamu melihat) al-ardhla khaasyiatan (tanah yang tandus), fa idzaa (maka bila) anzalnaa (Kami (Allah) turunkan) alaiha (di atasnya) al-maa (air), ihtazzat (ia bergerak) wa rabat (dan subur). Innalladzii (Sesungguhnya Dia) ahyaaha (yang menghidupkan tanah yang tandus), walmuhyil mautaa (dan pastilah sanggup menghidupkan yang mati). Innahu (Sesungguhnya Dia) alaa kulli syain qadiir (Mahakuasa atas segala sesuatu).

Orang yang menanami ladang yang semula mati, dikatakan telah memberikan manfaat kepada makhluk di sekitarnya.

“Tiada seorang Muslim pun yang bertani atau berladang lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia ataupun binatang melainkan bagi dirinya daripada tanaman itu pahala sedekah” (HR. Bukhari)

Tidak hanya kepada manusia kita bersedekah dengan menanam sesuatu, tetapi kepada alam dan isinya. Sekalipun hanya rumput yang kita tanam di tanah tandus yang kering, akar-akarnya akan menahan air sehingga tidak menjadi banjir. Apatah lagi jika seseorang menanami tanah tandus dengan biji-bijian yang mengenyangkan, yang menjadi pemuas rasa lapar manusia.

Saya selalu merasa terkesan jika berbicara dengan petani Jepang yang menanam padi. Hampir semuanya jarang membicarakan uang yang diperoleh dari beras yang dihasilkannya, tetapi semuanya merasa senang membicarakan betapa lezatnya padi-padi yang mereka tanam, dan betapa nikmatnya menikmati nasi dengan lauk pauk dan sayuran yang mereka ambil dari kebun.

Sampai saat ini cita-cita saya tidak berubah, sebagaimana saya dulu dibesarkan di rumah yang berhalaman penuh dengan sayuran dan buah-buahan, maka saya mendambakan rumah yang halamannya bisa untuk bercocok tanam😀

Mari menjadi penghidup tanah mati….

Renungan hari ketujuh….

  1. murni sensei… postingan kai ini bener2 menyentuh perasaan saya..terkadang saya juga berpikir saya kan dr keluarga petani kenapa sy tidak sekolah mengambil pelajaran yang berhubungan dgn petanian😦 paahal dihari tua kelak saya ingin hidup di kampung yang banyak tumbuh sayur2an pepohonan :)…

  2. @Ari : Ari tinggal di Tokyo ya ?
    Blognya sudah saya intip, tapi ngga nemu profilnya😀
    Btw, ngga perlu sekolah pertanian supaya bisa hidup di kampung yang banyak sayurannya, yg penting suka dg alam dan tanaman/ternak😀

  3. hehehe…..alahmdulilah klo saya bisa sampai tokyo murni sensei :)…saya tinggal di tangerang kok sensei…inginnya suatu saat nanti bisa ke tokyo hehehe, iya profilenya belum diisi😀..iya saya sangat suka pertanian klo ke kampung juga suka ikut nenek/kakek ke sawah nanam padi atau palawija..pokoknya sat2 itu yang paling menyenangkan apalagi saat kita bisa memetik hasilnya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: