murniramli

Berdoa

In Islamologi, Renungan on Agustus 29, 2009 at 8:30 am

Ketika manusia dalam kesempitan dan kesusahan maka dia akan menengadah ke langit. Mengangkat tangannya kepada Yang Berada Di Atas SinggasanaNya memohon agar disingkirkan segala kesempitan dan kesusahan yang menghimpit.

Kehidupan kita tidak pernah lepas dari doa. Sejak masa kanak, orang tua, guru, kakek nenek selalu melantunkan dan membimbing kita menghafalkan doa-doa. Saya ingat keluarga saya, terutama bapak dan paman punya bacaan-bacaan yang dulu saya kira mantera. Mereka selalu membacanya berulang-ulang seakan memaksa saya untuk menghafalnya. Pengulangan yang terus menerus itu akhirnya memaksa tangan saya untuk menuliskannya di sebuah buku lusuh yang saya beri nama di depannya, Buku Doa. Karena belum pandai menulis dalam bahasa Arab, maka semua bacaan saya tulis dalam huruf alpabet.

Setelah saya bisa memahami Al-Quran dengan baik, saya mulai mengenali hafalan-hafalan yang sering terdengar telinga, dan ternyata itu adalah doa-doa yang diajarkan bapak/paman. Mereka mungkin juga tidak tahu bahwa itu adalah potongan ayat Al-Quran, selain menerimanya melalui lisan dari kakek neneknya.

Anak-anak TK dan SD di Jepang mempunyai kebiasaan diajak berkunjung ke temple atau shrine untuk berdoa. Anak-anak muslim yang bersekolah di Jepang tak luput dari budaya ini. Kadang-kadang orang tua beranggapan, ah..itu hanya budaya. Tetapi mungkin sebaiknya orang tua berhati-hati, dan sebaiknya mengajari anak tata cara berdoa dalam Islam yang dituntunkan Nabi SAW.

Bahwasanya berdoa dalam Islam boleh dilakukan di mana saja, kecuali tempat-tempat yang terlarang, semisal di dalam WC, atau di tempat ibadah agama lain. Tata caranya pun sepanjang yang diajarkan Nabi SAW adalah mengangkat/menengadahkan tangan sebatas dada dan khusyuk. Masalah khusyuk dimaknakan dengan cara berbeda-beda, apakah perlu dengan memejamkan mata atau mendongak ke atas. Keduanya diperbolehkan.

Dari segi isinya doa ada banyak macam. Dan buku doa yang kita beli di toko berisi 100 macam tuntunan doa Rasulullah sebenarnya belum cukup. Pastilah ada banyak lagi doa-doa yang pernah dipanjatkan Nabi SAW yang tidak terekam oleh sahabat.

Berdoa adalah kegiatan yang memperkuat posisi kita sebagai “peminta” dan Allah sebagai “pemberi”. Antara kita sebagai “yang tak berdaya” dengan Allah “Yang Berkuasa”.

Allah menyuruh kita berdoa kepadaNya sebagaimana firmanNya dalam QS Al-Mu’min : 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

wa qaala rabbukum (dan berkatalah Tuhanmu) ud’uunii (berdoalah kepadaku) astajib lakum (maka pasti Aku akan mengabulkannya) innalladziina (sesungguhnya orang-orang yang) yastakbiruuna (menyombongkan diri) an ‘ibaadatii (dari menyembahKu) sayadkhuluuna (maka mereka akan masuk) jahannama  (neraka) daakhiriin (dalam keadaan hina).

Dia juga berada pada posisi yang dekat, sehingga doa-doa kita selalu terdengarkan (QS Al-Baqarah : 186)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

wa idzaa (dan apabila) saalaka (bertanya kepadamu) ‘ibaadii (hambaKu) ‘annii (tentang Aku) fa innii (maka sesungguhnya Aku) qariibun (dekat) uhibbu (Aku menyukai) da’wata addaai (doa orang yang berdoa) idzaa (apabila) da’aanii (dia berdoa kepadaKu) falyastajiibuu lii (maka hendaklah mereka memenuhi seruanKu) wal yuminuu bii (dan beriman dengannya) la’allahum yarsyuduun (agar mereka selalu dalam keadaan benar)

Barangkali kita sudah mengetahui bahwa hadits tentang lafadz doa berbuka tidak shahih derajatnya, karena adanya kelemahan salah satu rawinya.Banyak orang kemudian menjadi ragu, dan enggan berdoa dengan lafadz doa yang sudah diajarkan sejak kecil, Allahumma laka shumtu……

Pertanyaannya adalah bolehkah kita berdoa dengan doa dari hadits yang tidak shahih ? Atau dengan kata lain haruskah kita berdoa dengan lafaz dari hadits yang shahih ?

Tentunya ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang memperkenankan berdoa dengan doa apapun sebab Allah Maha Mengetahui segala bahasa. Dan sebaliknya ada pula ulama yang menganjurkan berdoa dengan lafadz yang dituntunkan Rasulullah SAW.

Seperti yang pernah saya uraikan dalam forum ini, mengikuti sunnah Nabi adalah dianjurkan, tetapi sebagaimana diketahui pula banyak doa-doa yang dilafazkan Nabi SAW yang tidak sampai kepada kita karena tidak terekam oleh sahabat.

Berdasarkan ayat di atas, yang tidak diperbolehkan dalam berdoa adalah mempersekutukan Allah. Dan tentu saja kriteria yang membawa kita kepada kekafiran, semisal menjelekkan Rasulullah SAW, atau menghujat sebuah kaum, mencelakakan orang lain, dll.

Perlu diingat pula ada doa-doa yang terkait ibadah sholat yang sudah tertentu dan tidak bisa ditambah-tambahkan atau dikarang. Semisal bacaan ketika takbir, bacaan ketika ruku, dan sujud, dll.

Adapun doa-doa sehari-hari dalam keadaan tertentu jika Nabi pernah mencontohkannya, maka berdoa dengan doa tersebut adalah bukti kecintaan kepadaNya, tetapi ketika lisan ini tidak mampu mengingat doa yang dituntunkan Nabi SAW, maka Allah Maha Pemurah lagi Maha Mendengarkan doa-doa yang kita panjatkan dengan penuh keikhlasan dalam bahasa apapun.

Doa adalah lafaz yang semestinya baik. Sebab kalimat itu dilantunkan karena kita merasa tidak berdaya dengan kondisi kesulitan yang kita hadapi.

Maka jangan pernah berhenti berdoa kepadaNya Yang Maha Mendengar.

Renungan hari kedelapan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: