murniramli

Kejahatan (bag. 1)

In Islamologi, Renungan on Agustus 31, 2009 at 5:52 am

Saya sampai pada bacaan QS Al-Isra ayat 22. Kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya, isinya adalah rentetan larangan yang diawali dengan kata “wa laa” (dan janganlah). Hingga ayat 37 Allah melarang hambaNya untuk melakukan beragam perbuatan tercela. Tulisannya akan dipecah menjadi dua bagian

Ayat 22 : Tidak mempersekutukan Allah

لاَّ تَجْعَل مَعَ اللّهِ إِلَـهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولاً

laa (Janganlah) taj’al (engkau menjadikan) ma’a llaahi (bersama ALlah) ilaahan akhar (tuhan yang lain) fataq’uda (agar kamu tidak menjadi )mazmuuman (tercela) madkhuulan (dan tidak ditinggalkan (Allah))

Ayat 23 : Jangan menyembah selain Allah dan jangan durhaka kepada orang tua

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

wa qadhaa (dan telah menetapkan) rabbuka (Tuhanmu) allaa ta’buduu (agar engkau jangan menyembah) illaaa iyyaahu (kecuali kepadaNya). wabil waalidaini (dan kepada kedua orang tuamu) ihsaanan (hendaklah berbuat baik) immaa (apabila) yablughanna ‘indaka  menjadi di sisimu) alkibara (lanjut usia) ahaduhumaa (salah seorang diantara mereka) au kilaahumaa (atau keduanya) falaa taqullahumaa uffin (dan janganlah engkau katakan kepada mereka uf) wa laa tanharhuma waqul lahuma (dan janganlah engkau katakan kepada keudanya) qaulan kariima (perkataan yang mulia)

Menyekutukan Allah, mencari tuhan-tuhan selain Allah, dan menyembah makhluknya termasuk dalam bentuk kejahatan yang dosanya besar. Sebab ini menjadi awal pengingkaran yang lainnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dalam Al-Quran apabila dia tidak mengimaniNya ?

Kejahatan kedua adalah durhaka kepada orang tua. Dalam berbagai kesempatan, Allah dan RasulNya menyatakan bahwa yang seharusnya dipatuhi setelah Allah dan RasulNya adalah kedua orang tua. Karena kita bukan terlahir dari rahim batu, tetapi terlahir dari rahim seorang ibu yang telah panjang deritanya, maka sangat layak Allah menjadikan anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya sebagai pendosa besar.

Ayat 26 : Jangan menghamburkan harta secara boros

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

wa aatii (dan berikanlah) zal qurbaa (kerabatmu) haqqahu (haknya) wal miskiina (dan orang-orang miskin) wabnassabiil (dan para ibnu sabil), walaa tubazzir tabziiran (dan janganlah kamu bersifat boros)

Ayat 29 : Jangan terlalu kikir dan jangan terlalu pemurah

وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

wa laa (dan janganlah) taj’al (engkau menjadikan) yadaka (kedua tanganmu) maghluulatan (terbelenggu) ilaa unuqihaa (ke lehermu) walaa tabsuthuu kullal basthi (dan janganlah engkau terlalu mengulurkan) fataq’uda maluuman mahsuura (karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal)

Ayat 31 : Jangan membunuh anak karena takut miskin

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءًا كَبِيرًا

walaa (dan janganlah) taqtuluu (engkau membunuh) awlaadakum (anak-anak kalian) khasyata imlaaqin (karena takut miskin), nahnu narzuquhum (kamilah yang memberi rizki kepada mereka) wa iyyaakum (dan kepada kalian) inna (sesungguhnya) qatlahum (membunuh mereka) kaana khit’an kabiiraa (adalah kesalahan yang besar).

Ketiga ayat di atas berbicara tentang kejahatan yang bisa terjadi karena masalah harta. Pertama manusia yang di tangannya ada harta, maka biasanya dia lemah terhadap godaan setan untuk memiliki barang. Terlebih lagi wanita. Pada umumnya sangat sulit menahan diri terhadap harta. Kebanyakan mengarah pada pemborosan.

Allah menyuruh kita untuk tidak kikir dan menganjurkan untuk menjadi pemurah, tetapi jangan berlebihan. Kikir boleh saja kepada anak/orang muda untuk mengajarinya arti usaha dan bekerja, dan arti penghematan, tetapi kikir berlebihan yang menghalangi seseorang dari memberi tidak diperkenankan. Pemurah yang keterlaluan demikian pula akan mengantarkan pada sifat yang lemah dan ketergantungan.

Banyak ayah dan ibu yang khawatir memiliki anak banyak, karena kekhawatiran dalam pemeliharaannya. Tetapi ada pula orang tua yang bermaksud mengamalkan sunnah dengan memiliki anak banyak. Anak adalah titipan yang harus dipelihara dan dirawat hingga dia dapat tegak menopang hidupnya sendiri. Masing-masing anak telah dianugerahi harta dan rizki oleh Allah, maka adalah dosa besar orang tua yang membunuh anaknya karena kemiskinan.

Ayat 32: Jangan mendekati zina

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

walaa (dan janganlah) taqrabuu (engkau mendekati) az zinaa (perbuatan zina) innahu (sesungguhnya dia) kaana faahisyatan (adalah perbuatan keji ) wasa a sabiila (dan jalan yang buruk)

Kejahatan terakhir berkaitan dengan kehormatan. Manusia dilengkapi dengan naluri untuk menyukai lawan jenisnya. Allah telah mengatur hidup kedua jenis makhluknya secara terpisah agar tidak muncul karakter binatang pada diri manusia. Mendekati zina adalah perbuatan-perbuatan kecil yang terkadang kita kira hanya senda gurau dan permainan belaka. Tetapi bukankah permainan membawa pada kelalaian pada akhirnya?

Bersambung…

Renungan hari kesembilan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: