murniramli

Kejahatan (bag.2)

In Islamologi, Renungan on Agustus 31, 2009 at 1:13 pm

Kejahatan itu diciptakan oleh tangan manusia. Allah memberikan kepada hambaNya pilihan antara melakukan kebaikan dan melakukan kejahatan. Tak sedikit orang yang memilih kejahatan dan tak banyak orang yang memilih kebaikan.

Ayat-ayat tentang kejahatan masih berlanjut, kali ini QS Al-Isra: 33 ~37

Ayat 33 : Jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah

 إِلاَّ بِالحَقِّ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلاَ يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

wa laa (dan janganlah) taqtuluu (membunuh) annafsa (jiwa) allatii harramallaahu (yg diharamkan Allah) illa bilhaq (kecuali dengan alasan yang benar). wa man qutila (dan siapa yang dibunuh) madzluuman (dengan dzalim) faqad ja’alnaa (maka kami telah menjadikan) liwaliyyihi sulthoonan (kepada ahli warisnya kekuasaan) falaa (maka janganlah) yushrif (si ahli waris berlebih-lebihan) fil qatli (dalam pembunuhan) innahu kaana manshuuran (sesungguhnya dia adalah mendapat pertolongan)

Larangan pertama yang dimasukkan sebagai kejahatan berat adalah membunuh manusia. Membunuh diperbolehkan pada kondisi perang, dan kondisi tertentu lainnya yang ditetapkan syariat. Tetapi sengaja membunuh seseorang karena rasa iri, dengki, atau dendam akan membawa pada pembunuhan yang berbalik. Menghabisi jiwa hamba adalah hak Allah. Dia yang menghidupkan dan mematikan, maka wajar kiranya jika manusia yang menggantikan hak ini tanpa alasan yang jelas mendapatkan dosa yang berat pula.

Ayat 34 : Jangan memakan harta anak yatim

وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

walaa (Dan janganlah) taqrabuu ( kamu mendekati) maalan yatiimi (harta anak yatim),illaaa (kecuali) billatii hiya ahsan (dengan cara yang lebih baik (bermanfa’at) ) hatta yablugha asyuddahu (sampai ia dewasa) wa aufuu bil ahdi (dan penuhilah janji);innal ahda (sesungguhnya janji itu) kaana mas uulaa (pasti diminta pertanggungan jawabnya)

Anak yatim sangat dikasihi dalam Islam. Dan memanfaatkan harta yatim selagi dia masih ingusan, belum tahu nilai uang, adalah sebuah keserakahan. Saking mulianya kedudukan anak yatim (yang beriman) maka setiap kali ada kenduri/pesta, undangan pertama hendaknya ditujukan kepada mereka, bukan kepada para pembesar.

Ayat 36 : Jangan mengikuti apa yang tidak kita ketahui

 وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

walaa (Dan janganlah) taqfu (kamu mengikuti) maa laisa laka bihii ilmu (apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya). innaa (sesungguhnya) assam’a (pendengaran), walbashiira (dan penglihatan) wal fuaadaa (dan hati), kullu (semuanya) ulaaika (itu) kaana anhu masuula (akan diminta pertanggunganjawabnya)

Kebanyakan dari kita gemar mengkultuskan manusia. Dengan melihat kedudukan dan penampilannya saja, kita gampang sekali menganggap si fulan seorang ulama. Lalu apa yang keluar dari lisannya kita anggap yang paling layak diikuti. Sikap-sikap seperti ini menutup daya kritis, dan menjadikan seseorang taqlid buta. Islam menganjurkan kita untuk berfikir kritis terhadap pernyataan manusia, bersifat tabayyun dalam mencari kebenaran. Termasuk yang dilarang adalah menjadi pengikut buta.

Ayat 37 : Jangan bersikap sombong

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ  الْجِبَالَ طُولاً

walaa (Dan janganlah) tamsyii (kamu berjalan) fil ardhi (di muka bumi ini) marahaa (dengan sombong), innaka (karena sesungguhnya kamu) lan takhriqa (sekali-kali tidak dapat menembus) al ardha (bumi) walan (dan sekali-kali kamu tidak) tablugho (akan sampai) al jibaala thuula (setinggi gunung).

Manusia itu kebanyakannya sombong. Tatkala dia menduduki jabatan setingkat di atas maka dia kadang merasa bumi sudah takluk kepadanya. Allah mengumpamakan bumi dan gunung sebagai alat banding untuk mengukur kesombongan manusia. Apa yang diraih manusia hingga saat ini dengan ilmu yang diberikan Allah belumlah seberapa. Belum sampai membuatnya dapat menembus dan mencapai pusat bumi, belum dapat membawanya untuk menjadi setinggi gunung. Maka semestinya kita malu ketika terbersit sedikit kesombongan.

Sombong terkadang diartikan sebagai hak individu seperti dalam kalimat ini : “suka-suka saya dong, mau sombong kek, mau bangga kek, mau…kek….” Ya, memang sombong,marah, bangga, adalah sifat dan sikap yang dimiliki oleh manusia secara azasi. Tetapi Islam membatasi karakter tersebut agar dapat diekspresikan sesuai dengan sunnahNya. Sifat-sifat yang diberikan kepada manusia terdiri dari sifat baik dan buruk. Dan Allah telah menyampaikan dalam firmanNya di antara sifat-sifat buruk yang harus dihindari sekuat-kuatnya. Salah satunya adalah sombong.

Mari menjaga diri dari segala yang dilarangNya…

Renungan hari kesepuluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: