murniramli

Kemiskinan dan keharusan menjadi terdidik

In Islamologi, Renungan on September 2, 2009 at 7:32 am

Bulan ini ratusan mahasiswa asing maupun mahasiswa Jepang harus antri mengajukan permohonan keringanan atau pembebasan uang kuliah. Saya termasuk di dalamnya. Selama menjalani program doktor, saya tidak mendapat beasiswa sama sekali, sehingga setiap semester harus berdiri di antara mahasiswa yang berderet sambil membawa beberapa lembar dokumen yang menunjukkan bahwa kami miskin.

Ya, karena pembebasan uang SPP yang saya peroleh selama dua tahun berturut-turut saya aman kuliah, meneliti, menghadiri seminar, membeli buku, dan bertahan hidup.

Kalau mau disebut miskin, maka saya termasuk orang miskin di Jepang. Tapi kalau dibandingkan dengan homeless yang berteduh di tenda-tenda plastik di taman-taman kota, dan setiap hari Senin harus berjuang mengangkut sekarung besar kaleng-kaleng bekas, maka saya adalah orang kaya.

Dibandingkan mereka, saya masih dapat tidur nyenyak di dalam kamar yang walaupun kecil tetapi sangat memadai untuk ditinggali. Saking kecilnya, teman-teman kadang mengira saya tidak bisa bergerak. Bagi saya kamar apabila sudah cukup untuk tidur, cukup untuk belajar, cukup untuk memasak dan makan, maka sangat memadailah ia.

Beberapa waktu lalu disiarkan di TV, beberapa profil keluarga Jepang yang terpaksa tidak bisa menyekolahkan anaknya karena ketiadaan biaya. Kita barangkali selalu mengira bahwa tidak ada orang miskin di Jepang, bahwa semua anak seusia SMA pergi ke sekolah, bahwa semua mahasiswa hidup dengan layak. Nyatanya tidak demikian. Barangkali jika mereka mengetahui besarnya beasiswa yang dikucurkan kepada mahasiswa asing untuk bersekolah ke Jepang, mereka akan marah dan merasa dianaktirikan.

Saya dan orang-orang yang tergolong miskin tidak mau terus-terusan berada dalam kemiskinan. Kami ingin pula menjadi terdidik. Karenanya kami berusaha.

Jutaan anak di Indonesia tidak bisa mengenyam bangku sekolah karena kemiskinan. Tetapi dunia, keadaan memaksanya untuk harus menjadi terdidik. Jika ingin bekerja yang lebih baik, dia paling tidak harus menamatkan SMA. Perguruan Tinggi bagi mereka barangkali hanya sebuah mimpi, seperti perkataan remaja Jepang yang diwawancarai di TV kemarin.

Salah satu golongan yang dikatakan berhak menerima zakat dan sedekah adalah kelompok ibnu sabil dan miskin. Saya tidak bisa membilang dengan jelas berapa jumlah orang miskin dibandingkan dengan orang kaya. Atau lebih tepatnya berapa kekayaan yang dimiliki si kaya yang seharusnya dapat dipakai untuk membantu si miskin.

Tetapi pikirku, jika semua orang mau berbagi maka barangkali semua anak bisa pergi bersekolah. Orang yang bisa berbagi biasanya adalah orang yang pandai hidup hemat, bukan untuk masa depannya, tapi agar dapat bersedekah.

Waktu kecil dulu, saya sering mengangankan menjadi orang kaya, sehingga bisa bersedekah kepada orang lain. Sekarang saya tidak tahu apakah saya sudah menjadi kaya, tetapi saya merasa kaya dibandingkan anak-anak yang tidak bisa pergi bersekolah. Karena masa kecil dulu, kami dipelihara dalam keadaan yang sederhana, tetapi dalam keadaan bahagia, maka barangkali definisi saya tentang “orang kaya” adalah seperti itu. Tak perlu punya rumah sendiri, yang penting ada tempat tinggal layak, tak perlu punya mobil,asalkan ada ongkos untuk bepergian, tak perlu makan setiap hari di restoran mewah, asalkan ada uang untuk membeli nasi pengganjal lapar.

Rasulullah SAW menyebutkan beberapa perbuatan yang tidak akan ditinggalkannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Laits dengan sanadnya dari Abu Dzar r.a.

  • menyukai orang-orang miskin dan mendekati mereka

  • melihat kepada orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat pada orang-orang yang di atasku

  • tetap menghubungi kaum kerabat meskipun mereka jauh dan memutuskan hubungan

  • memperbanyak membaca: Laa haula walaa quwwata illa billahi

  • tidak minta apapun dari sesama manusia

  • tidak takut di dalam melaksanakan hukum Allah s.w.t. dari cela (ejekan) orang-orang yang mengejek

  • selalu berkata benar meskipun pahit dan berat

Menolong si miskin agar menjadi terdidik, tidak perlu menunggu tabungan menumpuk. Jika ada kemauan dan tangan kita telah diringankan Allah, dan hati dilapangkanNya, maka semuanya akan mengalir bak sungai.

Sudahkan anda bersedekah hari ini ?

Renungan hari keduabelas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: