murniramli

Menghafal dan memahami Al-Quran

In Islamologi, Renungan on September 5, 2009 at 12:18 pm

Kalau sudah pandai anak membaca Al-Quran maka mulailah kita harus membimbingnya untuk menghafalkan ayat-ayat pendek dalam Al-Quran, sekalipun dia barangkali belum tahu mengapa ayat-ayat itu harus dihafalkan.

Hari ini adalah kegiatan buka bersama pertama kali sekolah bhinneka setelah libur selama satu bulan. Anak-anak seperti biasa pada detik-detik menjelang berbuka kelihatan lemas, tetapi patuh berkumpul sambil memegang IQRO dan Al-Qurannya.

Saya kebagian mengisi pengajian anak hari ini. Saya tahu anak-anak pasti terkantuk-kantuk kalau saya cuma bicara saja. Maka sebelum mulai bercerita tentang kisah-kisah Nabi dan Rasul, saya ajak mereka menghafal surat-surat pendek dan tebak-tebakan ayat.

Caranya, saya membacakan satu ayat lalu menunjuk seorang anak untuk melanjutkan, lalu saya lanjutkan lagi atau kadang-kadang menunjuk seorang anak untuk meneruskan. Kelihatannya mereka bersemangat dan beberapa mengintip juz amma-nya. Model menghafal seperti ini memerlukan konsentrasi, sebab surah yang sebenarnya sudah dihafalkan kadang-kadang malah lupa ketika harus disambung-sambung dari mulut orang lain.

Ada anak-anak yang diberikan kemampuan menghafal yang luar biasa, tetapi ada pula yang lemah. Kebanyakan anak-anak yang kuat menghafal memang mendapat perlakuan dan didikan khusus dari orang tuanya. Orang tua menjaga lingkungan, kebiasaan, makanan si anak, sehingga dia dapat berkonsentrasi penuh.

Sementara anak-anak kami yang bersekolah di sekolah bhinneka dan setiap pagi hingga siang belajar di sekolah Jepang kelihatannya sulit membagi waktu dan berkonsentrasi untuk menghafal. Saya yakin ibu dan bapaknya telah berusaha, tetapi hafalan anak-anak tak bergerak dari 3 surat pamungkas juz amma.

Bagi orang tua yang sibuk setiap harinya, tampaknya memang sulit untuk memberikan bimbingan kepada anak. Maka mungkin akan lebih baik jika menghafal dilakukan bersama-sama, dengan model tebak-tebakan, sebab anak-anak tampaknya masih memiliki jiwa kompetisi yang tinggi.

Al-Quran mempunyai pesona. Hari ini di dalam kereta yang membawa saya ke tempat bekerja, saya terpesona membaca QS Al-Ankabuut : 49

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

“bal huwa ayaatun bayyinaat (Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata) fii shuduuri (di dalam dada) alladziina uutul ‘ilma (orang-orang yang diberi ilmu). wa maa (Dan tidak ada) yajhadu (yang mengingkari) biayaatina (ayat-ayat Kami) illaa adzoolimuun (kecuali orang-orang yang zalim)”

Tidak hanya itu, kita pun selalu dibuat terhenyak oleh bacaan Al-Quran seseorang yang sungguh merdu. Yang membuat kita betah tegak berdiri menunaikan tarawih yang panjang. Saya selalu saja iri pada para penghafal Al-Quran yang dijaga Allah hafalan dan sikapnya….

Kata Rasulullah seperti ini :

“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari)

Ya Allah mudahkan Al-Quran bagi lisan, hati dan pikiranku….

Renungan hari keempatbelas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: