murniramli

Prasangka Buruk dan Tabayyun

In Islamologi, Renungan on September 7, 2009 at 5:15 am

Tak baik berburuk sangka kepada orang lain !

Begitu selalu disampaikan orang yang berfikiran positif.

Saya selalu menyangka professor saya tak menggubris kesulitan saya menulis paper dalam bahasa Jepang, dan apalagi tak peduli dengan beratnya hari yang harus saya lewati sambil kuliah dan bekerja. Sebab, dia tak membaca bab-bab disertasi yang saya kirimkan.

Akibatnya, setiap kali ditanya : bagaimana senseimu ? Saya lebih banyak mengatakan “dia tak membantu apa-apa”

Saya, boleh jadi kurang pikir dan buruk sangka kepada beliau.

Kemarin, tiba-tiba saja asisten professor mendekati ketika saya akan menunaikan sholat ashar. Beliau mengatakan bahwa ada pembicaraan antara dia dan sensei saya tentang bantuan dana penelitian. Ada program Research Assistance yang ditawarkan Monbukagakusho, dan professor menyebut-nyebut nama saya. Karena kebetulan beliau sedang berada di Hokkaido, maka segala urusan dilimpahkan kepada Pak Asisten.

Begitulah, saya benar-benar malu telah berprangsangka buruk kepada sensei.

Karena sering berburuk sangka, semestinya manusia dapat mengambil pelajaran dari akibat buruknya.

Orang yang suka berburuk sangka adalah orang-orang yang lebih banyak menggunakan perasaan daripada pikirnya. Orang-orang yang gemar berburuk sangka adalah orang-orang yang masih harus latihan kesabaran. Dia juga masih harus memperbanyak dzikir, agar pikiran dan hatinya tak dipenuhi hawa jahat dan jelek.

Orang-orang yang gemar berprasangka adalah orang-orang yang malas mencari pencerahan. Di dalam Islam kita kenal istilah tabayyun (pencerahan). Segala berita hendaknya diperiksa kebenarannya agar tak menimbulkan prasangka buruk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yaa ayyuha lladziina aamaanuu (Hai orang-orang yang beriman) in ja akaum  (jika datang kepadamu) faasiqun  (orang fasik) binaba in (membawa suatu berita), fatabayyanuu (maka periksalah dengan teliti),an tushiibu  (agar kamu tidak menimpakan suatu musibah) qauman  (kepada suatu kaum) bijahaalatin  (tanpa mengetahui keadaannya) fatushbihuu (yang menyebabkan kamu) alaa maa fa’altum naadimiin (menyesal atas perbuatanmu itu)

Memang agak berabe mencari dan menyelidiki duduk perkara secara lebih jelas, dan kadang-kadang kita lebih suka memilih jalan pintas. Tetapi karena susahnya proses yang harus ditempuh maka pantaslah kalau kita diganjar dengan pahala yang besar atas upaya bertabayyun.

Barangkali saya tetap akan berprasangka buruk kepada sensei, jika tak ada tawaran RA. Tapi saya pikir, saya masih dikasihani Allah dengan pengingatan-pengingatan agar tak terjerumus ke lubang biawak dua kali !

Renungan hari ketujuhbelas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: