murniramli

Melek Aksara bagi Muslim

In Islamologi, Renungan on September 8, 2009 at 1:33 pm

Tanggal 8 September, hari ini diperingati sebagai hari aksara. Sebuah ingatan untuk selalu memerangi kebodohan dan buta aksara.

Saya pernah berdiskusi dengan teman Jepang tentang definisi buta aksara yang seharusnya diberlakukan di negaraberpenduduk dominan muslim. Definisi literacy yang umumnya kita pakai mengacu pada definisi UNESCO seperti di bawah ini :

literacy is the “ability to identify, understand, interpret, create, communicate, compute and use printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society.

Sumber : http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001362/136246e.pdf

Berdasarkan definisi tersebut, buta aksara (illiteracy) sebenarnya bisa dimaknakan secara luas tergantung kondisi masing-masing negara. Bagi Indonesia, “aksara” yang dimaksud adalah akasara bahasa Indonesia. Dan pengukuran angka melek  aksara juga berdasarkan pada satu bahasa tersebut.

Di negara-negara dengan penduduk muslim terbesar, seperti Indonesia, seharusnya ada kebijakan parsial tentang melek aksara, yaitu tidak saja pada aksara bahasa nasional, tetapi melek bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran.

Kebijakan “wajib melek Al-Quran “sekalipun belum dicetuskan oleh pemerintah, sebenarnya telah mengakar di kalangan umat Islam. Hal ini dapat kita lihat terhadap fenomena gencar dan semangatnya orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di TPA. Namun baru terkesan sebagai gerakan orang tua kepada anak. Seandainya dinasionalkan (mungkin menjadi program DEPAG), maka orang dewasa yang belum melek huruf Al-Quran akan lebih bersemangat untuk mempelajarinya.

Di beberapa provinsi, sekolah-sekolah sudah mempersyaratkan salah satu kriteria lolos seleksi adalah khatam Al-Quran bagi anak muslim. Saya pikir ini sebuah langkah yang belum pernah kita tempuh sebelumnya.

Dari kondisi melek Al-Quran (dalam pengertian bisa membaca), kita harus menuju kepada derajat yang lebih tinggi, yaitu mewajibkan pembelajaran  bahasa Arab.

Banyak yang sering beranggapan bahwa mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah. Jika cara berfikir seperti ini yang dipergunakan, maka muslim tidak akan sampai pada pemahaman yang mendalam terhadap ayat-ayat Al-Quran.

Anggapan bahwa belajar bahasa Arab menunjukkan kelas masyarakat bawah, (yang mungkin muncul karena dahulunya pembelajaran Islam berawal dari kaum santri), harus ditepiskan. Orang tua harus bangga kepada anaknya yang mampu berbahasa Arab dan paham Al-Quran melebihi kebanggaannya ketika si anak bisa berbahasa Inggris atau bahasa yang lain.

Sayangnya, pandangan dan pemikiran kita terhadap bahasa Arab masih belum berubah. Kita sudah mengakuinya sebagai bahasa agama Islam, tetapi kita belum bersemangat mempelajarinya, sebagaimana semangat yang kita miliki tatkala mempelajari bahasa asing lainnya.

Kadang-kadang pula kita bersemangat mempelajarinya, tapi karena tidak ada reward yang mengikutinya, maka kelas bahasa Arab biasanya tidak konsisten, bolong-bolong sampai buku panduannya tamat.

Pemahaman terhadap bahasa Arab hendaknya mengantarkan pada kemampuan memahami Al-Quran dan sumber hukum Islam lainnya, bukan pada bahasa percakapan yang selama ini dikembangkan di madrasah. Jika hanya bahasa percakapan atau tulis saja, maka sama saja dengan bahasa yang lain, kita hanya sampai pada permukaannya saja.

Semoga hari aksara yang jatuh pada bulan ramadhan ini memberikan semangat baru kepada muslim di Indonesia untuk memulai menggiatkan pembelajaran bahasa Arab dan melek Al-Quran.

Renungan hari kedelapan belas….

  1. postingannya bagus sensei ..menyentuh ^_^

  2. Tidak banyak yang berilmu tinggi tetapi masih peduli dengan pemikiran Islam yang kaffah. Alhamdulillah saya kini bertemu dengan salah satunya.

  3. Pak Gilig, apa kabar. wah, Bapak terlalu memuji.
    Mohon maaf saya belum bisa aktif menulis di blognya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: