murniramli

Jangan takabbur, Nak

In Islamologi, Renungan on September 11, 2009 at 5:25 am

Hampir dua minggu saya tak menelepon mamak, tapi biasanya saya tetap titip salam via adik yang selalu OL, dan alasan kedua kartu telepon saya belum dicharge ulang. Siang ini tiba-tiba sekali ingin mendengar suara mamak. Dan seperti biasa, terdengar sapaannya yang penuh kasih jauh di seberang sana. Seperti biasa pula beliau sendirian saja di rumah, karena kakak dan adik siangnya pergi bekerja.

Saya memberitahu mamak rencana berangkat haji tahun ini, insya Allah. Seperti umumnya orang tua, beliau mulai menanyakan apa yang perlu disiapkan, bagaimana pelayanan hajinya, siapa saja yang menemani, dll. Saya memang tidak membutuhkan perlengkapan macam-macam, selain menyiapkan fisik dan jiwa. Bagi beliau berangkat haji dari negeri orang untuk seorang perempuan tentunya sangat berbahaya. Saya tahu dan paham kekakhawatiran beliau, sebagaimana saya juga mengkhawatirkannya. Hanya kepada Allah kami bersandar. Makanya saya memohonkan doa mamak.

Saya kemudian menceritakan sekilas tentang apa yang saya ketahui dari biro haji yang saya kontak. Mamak mendengarkan sambil sesekali bertanya. Pada akhir telepon, terdengar suara mamak agak serak, sambil berkata, “Jangan takabbur ya, Nak !”

Ya, jawabku. Mohon doanya ya, Mak, kataku sambil mengakhiri pembicaraan kami. Saya tahu mamak menangis di ujung sana, sebagaimana saya tak bisa menahan air mata dalam sholat dhuhur tadi. Pesan mamak terngiang-ngiang, dan saya tiba-tiba takut sekali kalau-kalau saya telah takabbur.

Ketakabburan sangat sulit dirasakan oleh orang yang telah melakukannya, tetapi dengan mudah terdeteksi oleh orang yang beriman kepadaNya, yang melihat perbuatan itu. Entahlah, mamak barangkali merasakan ada sinyal-sinyal ketakabburan yang tertanam dalam diri saya. Sebab saya anaknya, beliau tahu karakter saya sejak masih belum dapat berbuat apa-apa.

Merasa diri “lebih” daripada orang lain, mengaku diri mampu melakukan apa saja, meremehkan pekerjaan orang lain, merendahkan kedudukan orang lain, menjelekkan orang lain, memburukkan makhluk Allah….saya mulai mereka-reka bentuk ketakabburan yang barangkali pernah saya lakukan.

Menurut Rasulullah SAW :

“Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain”. (HR. Muslim).

“Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu”.

“Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tahu, ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya”.

Dalam Al-Quran Surah An-Najm : 31-32, Allah mengatakan :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (QS. 53:31)

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (QS. 53:32)

Dan Allah Maha Mengetahui keadaan manusia sejak lahirnya, maka tak sepantasnya seseorang mengatakan aku lebih suci, aku lebih beriman, aku lebih paham, aku lebih terhormat, aku lebih kaya, aku lebih mampu, aku lebih….dan lain-lainnya. Sebab hanya Allah yang mengetahui ketakwaan hambaNya.

Ya, Allah jauhkan kami dari segala sifat takabbur….

Renungan hari keduapuluh….

  1. amin semoga kita semua di jauhkan dari setan yang terkutuk

  2. amin…emoga kita semua dijauhkan dari sifat itu ya sensei, dan sensei hati2 dalam perjalanannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: