murniramli

Buka Puasa Bersama

In Islamologi, Renungan on September 16, 2009 at 6:22 am

Selama bulan ramadhan, hari-hari saya dipenuhi undangan berbuka puasa bersama. Hampir semuanya saya penuhi, kecuali sebagian yang tidak bisa karena saya masih mengajar sampai jam 8 malam, dan tempatnya agak jauh, sehingga baru sampai di rumah jam 9 malam.

Saya pribadi tidak bisa mengundang teman-teman untuk datang berbuka, karena kecilnya kamar saya. Tapi selalu saya sempatkan untuk menyumbang makanan atau minuman sebab saya juga ingin mendapatkan pahala orang yang memberi makanan kepada orang yang sedang berbuka.

Suasana ramadhan di Jepang barangkali sama dengan negara-negara yang tak banyak orang Islamnya, serasa kering. Ketika kita naik kereta tak ada yang tahu bahwa kita sedang berpuasa, maka dengan santainya anak-anak muda menyeruput soft drink-nya atau mengunyah makanannya. Ketika saya membaca Al-Quran kecil saya, orang-orang yang duduk di sebelah, di depan saya memandang ingin tahu benda apa yang sedang saya baca. Dan ketika saya komat kamit menghafal, mereka memandang dengan pandangan kasihan. Barangkali mengira saya tak waras ūüėÄ

Buka puasa bersama, sholat tarawih yang dilaksanakan di kampus, di rumah-rumah, dan di masjid kami, memberikan nuansa khas ramadhan meskipun orang Jepang di sekitar kami tak tahu betapa gegap gempitanya hati kami menunggu masa berbuka tiba.

Makanan berbuka kami hampir sama dengan yang biasa dimakan di Indonesia, sebab ibu-ibu yang datang dengan keluarganya ke Jepang, tak bisa menggantikan menu Indonesia dengan menu Jepang. Mereka sangat kreatif mengolah bahan yang ada sehingga kami bisa menikmati makanan-makanan lezat yang biasa dinikmati saat berbuka di Indonesia.

Di rumah yang kebagian mengadakan acara bukber, tentulah kami harus berhimpit-himpit, sebab luasan kamar yang disewa keluarga-keluarga tak lebih hanya 2 atau 3 kamar kecil saja. Sebagai orang Indonesia yang gemar mengobrol, tak jarang kami harus meminta maaf kepada tetangga yang merasa terganggu dengan keceriaan kami.

Jika kami ajak orang Jepang, maka mereka akan terbengong-bengong dan selalu saja bertanya : berapa yang harus kami bayar ? Ya, di Jepang saat makan bersama, maka masing-masing harus menangggung biaya yang sama besar. Dan tentu saja mereka terperangah ketika kami katakan ini gratis.

Barangkali dia mengira orang Indonesia sangat kaya. Tapi bagi yang mengerti pahala memberi makan bagi prang yang berbuka di bulan ramadhan, maka pastilah semuanya berlomba menyajikan makanan yang terbaik tanpa menghitung berapa pengeluarannya.

Agaknya terlalu tak sopan jika kita berhitung untuk hal ini, sebab sama saja kita berhitung dengan Allah tentang pahala yang akan dicatatnya di buku catatan amal kita.

Anak-anak di sekolah bhinneka tahun ini mengadakan dua kali acara buka puasa bersama yang kami barengkan dengan kegiatan sanlat. Anak-anak barangkali belum memahami pahala yang didapat dengan menyediakan berbuka, dan mereka pun masih belum bersemangat mengenal Islam. Bagi sebagian anak yang terpenting adalah jam buka, sehingga bolak-balik pertanyaan yang muncul : “Jam berapa sekarang ?” Setiap anak hafal jam berbuka, sebab orang tua biasanya menyemangati mereka dengan mengatakan : Sebentar lagi, 2 jam lagi, hari ini bukanya jam 6.04, dll.

Tapi anak-anak pasti menikmati makan bersama, berkumpul bersama teman-temannya, sekalipun hari itu dia tak puasa.

Buka puasa bersama memang mendatangkan kesenangan, kelegaan, dan eratnya silaturahmi, terutama bagi kami yang jauh dari keluarga. Pantaslah kiranya jika Allah memberikan ganjaran berlipat kepada pelakunya, sebab dia telah menyelenggarakan sarana untuk bersilaturahmi hamba-hambaNya.

// <![CDATA[//

“Barangsiapa memberi buka puasa kepada orang yang sedang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa dengan tidak mengurangi pahala orang berpuasa sedikitpun‚ÄĚ. (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dan menshahihkannya Tirmidzi).

Demikianlah kenikmatan bulan ramadhan yang kami rasakan di rantau….

Renungan hari keduapuluh enam……..

Iklan
  1. Kapitalisme Pahala

    Saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:
    Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

    Eksperimennya berjalan seperti ini.
    Suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. Saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. Tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Dia orang mampu, bukan orang yang berpuasa–seperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itu–karena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola).¬†

    Dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. Kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. Ah, kesempatan baik. Kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? Disiplin tidak punya. Ketulusan relijius tidak terpelihara. Niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. Tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. Alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.

    Jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini. 

    Menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala ‘murah meriah’ pada saat azan magrib berkumandang. Buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. Sebagai seorang ‘investor pahala’ tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. Ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. Blarrr! Dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. “Ada apa?” katanya. “Jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya?¬†Lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.

    Lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan ¬†godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa dengan taktik ‘menghindar’ ¬†adalah puasa anak TK, puasa for beginner, menurut saya. Saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.

    Lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan VCD porno. Murni hanya sebagai tantangan. Buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. Film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. Kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.

    Teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, “Kamu kan tahu saya sedang berpuasa….” Saya jawab, “Tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji. Biarlah dosa memutar VCD maksiat ini saya tanggung sendiri.” Dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat Ashar di kamar saya.

    Matahari makin menggelincir ke barat. Tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. Mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.

    Akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. “Jangan,” kata saya, “kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya.” Lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. Dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. Saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.

    Lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. “Lho….” dia terheran-heran. Mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. Saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).

    Saya diam saja. Lalu di parkiran warung, saya katakan, “Kamu kan sudah makan, sudah ‘isi bensin’, gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot.”

    Masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. Lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.

    “Bajingan!” Itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.

    “Tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari Nabi. Saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya….” demikian saya berupaya membendung kekesalannya.

    “Modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama.”

    “Lho, tapi kan saya ikhlas. Kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. Saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa.”

    “Gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja.”

    “Nggak bisa!¬†Mending dapet pahala daripada duit. Duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang.”

    “Brengsek. Lu emang kapitalis curang. Pahala dikira dagangan apa?”

    “Ape kate lo aje deh.”

    Nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan TV, sampai tiba waktunya sahur lagi. Dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. Mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.

    Saya juga tidak terlalu peduli. Jaminan Nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.

    • Hehehehe….
      Coba ulangi eksperimennya tahun ini, tp ubah asumsinya :
      -anda berpuasa
      -anda sholat
      -anda berbuat kebajikan selama berpuasa
      -berikan makanan berbuka kepada siapa saja, jangan kpd teman anda yg sdh dongkol itu ūüôā
      hipotesa : anda akan mendapatkan pahala lebih dari apa yg anda bayangkan.

      btw, saya bukan Tuhan yg bisa menilai diterima atau tidaknya keikhlasan seseorang, tp saya menganggap orang yang mengatakan “saya ikhlas kok”, itu sama saja dia hendak berkata saya tidak ikhlas ūüôā
      semakin anda mengaku ikhlas semakin tdk ikhlas anda.
      Yg tahu anda benar-benar ikhlas hanya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: