murniramli

I’tikaf dan Bantuan Allah

In Islamologi, Renungan on September 17, 2009 at 8:12 am

Selama melaksanakan ramadhan di Jepang, hampir bisa dihitung dengan jari saya bisa beri’tikaf. Sedih sekali jika membayangkan bahwa urusan dunia telah mengalahkan urusan akhirat saya.

Tadi malam baru sekali saya berkesempatan untuk beri’tikaf di masjid kami. Saya dan 2 teman Indonesia, juga muslimah dari Mesir ditambah dengan balita yang ramai bercanda dan bermain menikmati kekhusyuan ibadah.

Malam i’tikaf  kami isi dengan menyimak bacaan Al-Quran bersama, saya terkagum-kagum mendengar penyebutan huruf yang fasih sekali dari saudari-saudari dari Mesir. Tanpa mempedulikan kami yang tak bisa berbahasa Arab, dengan asyiknya mereka berdiskusi sepanjang malam tentang kandungan surat Maryam yang kami baca. Saya hanya dapat menyimak beberapa perkataan saja sebab mereka berbicara secepat shinkansen😀

Sekitar jam 2 malam, sholat malam berjamaah yang dipimpin oleh Imam dari ruang sholat pria. Suara beliau merdu sekali membuat air mata menitik tatkala masuk ke telinga ayat-ayat yang bisa saya pahami.

Ciri khas dari sholat di masjid kami, adalah qunut yang selalu menyertai sholat witir dan sholat subuh, yang selalu panjang dan penuh makna, dibaca dengan penekanan yang pas. Tadi malam terjadi accident, pengeras suara tiba-tiba macet, saat berada di rakaat ke-6 sholat tahajjud, sehingga kami tak tahu apa yang sedang dilakukan imam. Dan kami di bilik akhwat terpaksa berinisiatif melanjutkan sholat sendiri. Witir selalu diselenggarakan 3 rakaat dengan pola 2-1. Pada satu rakaat terakhir seorang muslimah mesir yang paling fasih bacaannya menjadi imam, dan dia membuat saya terpesona dengan hafalan doanya yang panjang nian. Sama dengan doa qunut yang biasa dibaca Imam.

Makan sahur kami disediakan oleh muslimah Mesir, roti seperti nan yang dimakan bersama kentang, keju dan kacang-kacangan, ditambah potongan timun. Bagi orang Indonesia yang terbiasa makan dengan nasi, ini sama sekali nggak nendang :D   Tapi bagi saya yang terbiasa makan sahur seadanya, ini sangat “nendang”.

Setelah sholat subuh saya mulai diserang kantuk, saya berbaring sebentar tapi tak bisa tidur, karena teman-teman dari Mesir mengobrol terus. Saya kemudian bangun menuju toilet, maksud hati hendak berwudhu, tapi kalau cuma berwudhu, mungkin akan tidur lagi, maka saya pikir lebih baik mengepel lantai tempat berwudhu, melipat semua mukenah, dan merapikan plastik sampah. Setelah beres, mata saya menjadi terang kembali, berarti bisa dilanjutkan untuk membaca Al-Quran yang terputus.

Ingin mengikuti sunnah Nabi SAW yang meninggalkan masjid setelah usai mengerjakan sholat dhuha, maka saya tunggu matahari naik dulu. Tapi pagi ini langit agak mendung. Saya menjadi mengantuk kembali dan tertidur hingga saat terbangun hanya saya dan seorang muslimah Mesir yang berada dalam ruangan. Dia, yang semalam sangat panjang berdiri, ruku, dan sujudnya, terlihat tertidur pulas.

Dalam sholat dhuha saya mohonkan kemudahan urusan hari ini, kemudian pulang dengan perasaan yang tenang sekali. Hawa pagi ini sejuk nian, di dalam kereta kembali saya tidur hingga stasiun yang dituju. Tampaknya saya lebih banyak tidur daripada bersungguh-sungguh ibadah.

Hari ini banyak urusan baik yang terselesaikan. Saya mengajar di pagi hari dengan lancar, menyetorkan revisi terakhir artikel jurnal berbahasa Jepang, bertemu dengan dosen Nanzan dan berbicara panjang lebar tentang masalah pekerjaan mengajar, dan yang paling menggembirakan, tiba-tiba Professor saya membalas email tentang aplikasi Research Assistant, saya segera berlari ke kantornya dan beliau membantu mengisi aplikasi, lalu meneleponkan pihak office yang bertanggung jawab tentang hal ini, dan saya pun dinyatakan berhak mendapatkan dana bantuan penelitian.

Saya tidak tahu rahasia kemudahan yang diberikan Allah. Pastilah sudah dituliskan dalam kitab lauhil mahfudz tentang kejadian-kejadian gembira yang akan saya dapatkan hari ini. Tetapi mungkinkah berhubungan dengan i’tikaf saya ? Wallahu a’lam bisshawaab.

Sayangnya saya manusia yang sangat lalai menegakkan sholat lail.

Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang senantiasa mencintai berdiri, ruku, sujud kepadaMu di malam hari.

Renungan hari keduapuluh tujuh……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: