murniramli

Mengajarkan kecintaan pada makanan tradisional di Jepang

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on September 27, 2009 at 5:23 am

Seperti biasa, kalau sedang tidak mood dengan masakan sendiri, saya biasanya (atau lebih sering) membeli makanan jadi di supermarket dekat rumah. Akhir-akhir ini sudah banyak makanan musim gugur yang dijual, dan hiasan-hiasan daun momiji (maple) diletakkan untuk mempercantik etalase penjualan.

Hari ini saya membeli menu makanan kesukaan saya, seperti di bawah ini :

P1010721 P1010724

Yang sebelah kanan adalah nasi yang ditaburi dengan wijen hitam dan ditambahi umbi amarilis (berwarna kuning), lalu dilengkapi juga dengan irisan lobak yang sudah diberi pewarna kuning, rasanya agak getir. Sedangkan di sebelah kiri adalah menu musim gugur, terdiri dari, aneka macam makanan dengwan variasi warna dan rasa, dan tentu saja seimbang gizinya. Tak lupa disisipkan pula jamur yang menjadi makanan khas musim gugur.

Makanan bagi orang Jepang adalah seni dan budaya. Saya sering bertanya-tanya mengapa banyak sekali restoran di Jepang, dan mengapa mereka selalu mengatakan enak semua makanan yang ditelannya. Tapi kalau kita perhatikan acara-acara kuliner di TV, sebenarnya kita bisa memahami bagaimana bangsa ini menanamkan kecintaan pada makanan kepada warganya.

Acara kuliner di TV-TV tidak saja menyodorkan makanan yang sudah siap dimakan, tetapi biasanya penonton akan diajak untuk menelusuri bahan utama makanan. Misalnya pagi ini, di NHK, seorang penyiarnya mendatangi tempat penangkapan kerang, lalu menjelaskan tata cara penangkapan, hingga proses masak yang benar, dan penyajiannya.

Beberapa acara piknik di musim gugur juga menawarkan kepada keluarga-keluarga dan anak-anak untuk pergi berwisata ke kebun-kebun buah sambil menikmati ranumnya buah-buah musim gugur.

Di blog ini pernah pula saya tuliskan tentang anak-anak SD di Jepang yang diajak menanam padi di sawah, hingga panen dan membuat penganan onigiri dari hasil panennya.

Dengan memahami proses dan sulitnya menghasilkan sebuah penganan menjadi bentuk yang siap disantap tersebut, menyebabkan orang-orang Jepang sangat menghargai makanan tradisionalnya, dan makanan-makanan yang semakin sulit ditemukan menjadi komoditi yang bisa mengangkat nama daerah.

Sewaktu saya membeli makan siang saya tadi, seorang anak dengan gembiranya menjelaskan kepada adiknya tentang makanan musim semi yang dipajang di etalase toko, “kore wa aki ni natta kara, momiji dayoo” (karena sudah masuk musim gugur, maka ada momijinya lho).

Saya tidak tahu apakah pelajaran tentang makanan tradisional atau makanan saja diajarkan dengan cukup baik di sekolah-sekolah di Indonesia. Sehingga anak-anak masih tahu yang mana onde-onde dan yang mana kue lapis 😀  Atau bisa membedakan tepung beras dan tepung terigu 😀

Iklan
  1. Yang saya tahu di Indonesia umumnya di kota-kota anak-anak lebih suka makanan yang siap saji dan makanan kue kering yang dikemas sangat menarik serta ada hadiahnya.

    Salam sukses
    http://iklanbaris-gratis.org

  2. wahhh onigirinya kelihatannya enak sensei :)… biasanya ari suka buat onigiri tapi isinya telur dadar doank hehehe 😀 ….minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin ya sensei .

  3. selama ini selalu penasaran, makanan Jepang kan selalu ada hiasan2nya, itu sebenernya, apa semua hiasannya bisa dimakan ya?

  4. murni : tidak semuanya bisa dimakan. Yang terbuat dari plastik tentu tidak bisa 😀 lalu daun2 maple, atau ranting2 sakura juga tidak bisa dimakan, tapi bunga sakura kuncup yang menempel di ranting2 yang dijadikan hiasan makanan pada musim semi, kadang-kadang saya makan juga.Nanti kalau ada waktu, akan saya tulis tentang hiasan2 makanan ini 😀

  5. memang orang-orang Jepang sangat kreatif dan sangat menghargai karya. Termasuk makanan yang dibuat semenarik mungkin sesuai musimnya.

  6. memang orang-orang Jepang sangat kreatif dan sangat menghargai karya. Termasuk makanan yang dibuat semenarik mungkin sesuai musimnya. Boleh juga kalau ada diicip-icip ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: