murniramli

Kodomo no mikata : Cara pandang anak

In SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, Taman Kanak-Kanak on Oktober 17, 2009 at 8:08 am

Setiap hari Sabtu pagi ada acara yang saya sukai di sebuah channel TV di Jepang. Nama acaranya saya tidak tahu sebab saya jarang menonton semuanya, hanya bagian tertentu saja, yaitu kodomo no mikata (cara pandang anak) saja yang sering saya tonton.

Dalam sesi itu digambarkan pihak TV menerima surat dari anak-anak yang isinya tentang rencana/impian mereka untuk melakukan sebuah kegiatan/aktivitas/perbuatan baik untuk membahagiakan anggota keluarganya.

Pernah ada anak yang ingin menyemangati kakaknya yang akan ikut ujian dengan melukis kaligrafi di kolam renang, maksudnya dia menggoreskan kuasnya sambil mengapung-apung di air. Kaligrafi yang ingin ditulisnya sekedar mengucapkan kata-kata penyemangat. Bagi kita orang dewasa apa susahnya mengucapkan kata-kata semangat melalui kartu atau mengucapkan langsung kepada orangnya ?Mengapa harus capek-capek melukis sambil terapung? Menurut saya semakin bertambah usia orang semakin berkurang pula  imajinasi dan kreatifitasnya :D  Maksudnya imajinasi dan kreatifitas yang original.

Lain halnya dengan profil anak laki-laki berumur 9~10 tahun yang ditampilkan pagi ini. Dia mempunyai seorang kakek yang sedang sakit dan sudah 2 kali dioperasi. Si kakek sudah tidak berselera makan. Cucu laki-laki tsb mengetahui bahwa kakeknya sangat suka cumi-cumi mentah. Gampangnya memang cumi-cumi tinggal dibeli di supermarket baik yang masih berbentuk asli atau yang sudah diiris-iris. Tapi begitulah, bagi anak, membeli cumi-cumi kurang seru !

Maka dia keluarkan semua uang tabungannya, kira-kira ada sekitar 4800 yen.Lalu bersama dengan staf dari TV, berangkatlah dia ke toko alat-alat pancing untuk mencari pancingan murah. Misi utamanya adalah memancing cumi-cumi di laut yang akan dibuat sashimi untuk kakek tercinta.

Di toko alat pancing, sayangnya tak ada perlengkapan pancing yang murah, semuanya berharga puluhan ribu. Si anak tampak putus asa, lalu tiba-tiba dia mendapat akal untuk bertanya kepada manajer toko yang kebetulan ada di situ, adakah alat pancing murah untuk anak-anak. Beruntung sekali si anak karena bertemu dengan manajer toko yang baik. Si manajer menelpon atasannya dan menanyakan kemungkinan memberikan potongan harga kepada si anak. Akhirnya dapat !!

Memancing cumi-cumi bukan pekerjaan gampang. Si anak perlu dibimbing pakarnya, oleh karena itu pihak TV telah mengontak 2 orang nelayan dan mereka kemudian bertiga melaut. Hampir 3 jam berada di atas perahu, dan si anak mulai merasa mabuk laut sementara cumi-cumi belum tersangkut satupun.Tugasnya kemudian digantikan oleh nelayan dan staf TV. Tak lama, setelah merasa agak baikan, dan setelah makan siang, si anak kemudian mulai memancing lagi. Sekitar 5 jam menunggu akhirnya seekor cumi-cumi tersangkut. Itu sudah cukup !

Memotong tipis-tipis cumi-cumi mentah agar enak dimakan sebagai sashimi tidak bisa dikerjakan anak-anak, maka perlu bantuan ibu dan neneknya. Seperti biasa ibu-ibu di Jepang selalu menyajikan makanan dengan penampilan yang menawan. Makanan sudah siap, maka dipanggilnya kakeknya untuk turun makan.

Bagi yang pernah makan sashimi cumi-cumi yang masih segar pasti akan sependapat dengan kakek ketika cucunya menyuapinya sepotong sashimi, rasanya manis dan segar. Ditambah lagi karena cumi-cumi itu adalah hasil tangkapan cucunya yang sangat menginginkan dia makan banyak, cepat sembuh dan senantiasa tertawa. Sang kakek berlinang air mata sambil memuji-muji dan berterima kasih kepada cucunya.

Saya tiba-tiba saja teringat almarhum bapak. Saya tidak sekreatif anak itu untuk membahagiakan dan membuat bapak saya tertawa selama beliau masih hidup. Tentulah beliau menunggu kejutan-kejutan itu….

Anak-anak sangat kaya imajinasi dan impian, yang mereka tidak punya adalah kesempatan dan kerelaan serta kepedulian orang dewasa untuk membantunya mewujudkannya.

  1. mbak murni, kagum sy membaca tulisan diatas , sy ndak bs bayangkan kl anak didk sy sekreatif cerita diatas, dan cerita diatas memacu sy untuk membelajarkan pada siswa sya. tq

  2. artikelnya sangat bagus..terimakasih..

  3. Nama acaranya apa bu? di stasiun TV mana? – jadi pingin ikut lihat (meski dengan bahasa Jepang pas-pasan)

  4. @Pak Gilig : Saya lupa stasiun TV apa, tapi kalo ndak channel 5 channel 11

  5. wah mengharukan sekali kisahnya. saya jadi teringat dengan kedua orang tua saya yang ada jauh di kampung halaman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: