murniramli

Wasureta koto : Hal-hal yang terlupakan

In Belajar Kepada Alam, Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Oktober 20, 2009 at 1:46 am

Kemarin siang saya mengajar bahasa Indonesia di sebuah universitas swasta. Dalam bahan percakapan yang kami baca ada sebuah sesi menarik tentang kerumunan orang-orang di sekeliling penjual obat. Mahasiswa-mahasiswa Jepang tidak akan tahu fenomena ini jika tak diceritakan. Maka saya mulai bercerita sambil membayangkan asyiknya menonton penjual obat yang berbusa-busa mulutnya menawarkan obatnya yang mujarab. Menonton penjual obat tidak terlalu sering saya lakukan dulu di masa kanak, tetapi kalau diajak ke pasar dan ada penjual obat, maka saya kadang-kadang ikut berkerumun.

Selain penjual obat, ada banyak hal-hal yang menurut saya sangat kreatif di kampung tempat saya tinggal dulu. Saya sangat gemar pula menonton pedagang ember, baskom, alat masak dari plastik yang kebanyakan orang Padang. Dengan suaranya yang keras dan bersemangat, si penjual menawarkan dagangannya : “dipilih…dipilih…” (sambil menekan huruf ‘l’), sambil membanting-banting ember dan baskom yang anehnya …tidak pecah !

Ada lagi tukang monyet Sarimin yang pandai ke pasar. Saya tak tahu apakah hiburan seperti ini masih bersisa di kota-kota.

Kenangan-kenangan tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di Fuji TV, yang judulnya “Nihon jin ga wasureta koto” (Yang dilupakan orang Jepang). Bentuk acaranya adalah para pemirsa seantero Jepang diminta mengirimkan surat yang isinya menceritakan kenangan/barang/pertunjukan yang ingin sekali dilihatnya kembali. Saya menonton beberapa edisi. Salah satunya adalah edisi tentang seorang laki-laki berumur 40 tahun yang ingin sekali bermain tendang kaleng sambil sembunyi. Saya tidak ingat nama permainannya. Tapi pasti kita pernah mengalami kebiasaan sepulang sekolah menendang-nendang kaleng kosong. Sambil menendang biasanya kita berteriak karena kesal dengan guru atau teman di sekolah. Tapi kadang-kadang hanya sekedar iseng saja menendangnya. Ada permainan yang diikuti sekitar 5 orang, satu orang menjadi host yang bertugas menjaga kalengnya, dan salah satu dari 4 orang menendang kaleng kemudian mereka berlarian bersembunyi. Si penjaga kaleng harus berusaha menemukan tempat persembunyian teman-temannya, sambil menjaga jangan sampai salah satu dari mereka menendang kaleng yang dijaganya. Karena ingin memainkannya lagi, maka laki-laki itu kemudian menelepon teman-teman lamanya. Beberapa di antaranya sibuk, tapi akhirnya ada empat orang yang bisa berkumpul. Bermain kembali bersama teman2 kecil di saat usia sudah 40 tahun, bukankah sebuah kenangan yang indah ?

Kemarin teman bercerita tentang kulkas modern di Jepang yang bisa menghasilkan es batu kotak-kotak. Kulkas itu berpintu banyak dan bisa dibuka dari macam-macam arah :D  Saya teringat kulkas kecil butut yang dibeli bapak ketika kami masih SD. Merknya National, warna hijau dan hanya satu pintu. Jangankan kotak-kotak, es batunya masih menggumpal di dalam freezernya dan harus dibersihkan setiap dua minggu. Saya membuat es batu dengan menggunakan wadah sabun B-29 atau kadang-kadang dalam plastik, dan menjual es itu kepada tetangga yang belum punya kulkas. Kadang-kadang saya beri saja, sebab begitu mudahnya membuatnya, tetapi tetangga selalu berbaik hati memasukkan sekeping uang sepuluh rupiah dalam celengan kendi saya😀

Kalau tidak bisa tidur malam-malam, kadang-kadang saya suka iseng menonton siaran NHK yang 24 jam. Acara malam-malam biasanya berupa tontonan pengantar tidur, yaitu film dokumenter tanpa narator, jadi hanya musik pelan saja. Saya sudah tiga kali menonton film dokumenter tentang sejarah perkeretaapian di Jepang (sebab siarannya diulang-ulang),tapi saya tak pernah bosan melihat kereta api pertama yang membelah tanah Jepang dengan kepulan asap hitam membumbung di udara hingga shinkansennya yang melejit bagai angin. Kehidupan masyarakat Jepang sangat menarik jika dilihat dari sejarah kereta apinya.

Demikianlah sudah banyak masa-masa sulit dan gemilang yang dilewati oleh manusia. Sekali waktu tatkala kita menyaksikan munculnya alat-alat modern, maka sungguh patutlah berterima kasih kepada para penemunya.

Murid-murid saya di sekolah Bhinneka tak pernah lepas memencet tombol-tombol DS-nya. Sementara saya merindukan permainan mengocok sabun hingga mengental, atau bermain rumah-rumahan, menjual sayur-sayur dari daun-daun yang kami iris-iris, bermain gundu dan gobak sodor, bermain petak umpet, lompat tali….. Saya tak pernah puas memainkannya hingga terdengar suara mamak menyuruh pulang karena sudah maghrib.

Ada banyak hal yang akan hilang dalam kehidupan kita.Sangatlah sayang jika tak ada rekaman tentangnya….

  1. wah menarik sekali ya acara “wasureta koto” tadi. kyknya pernah tau cerita serupa tp dalam bentuk mangga.

    di indonesia sendiri, permainan anak2 tradisional sudah banyak tergusur oleh permainan modern seperti playstation dan game komputer

    dan saya rasa ini sayang sekali.

  2. Tidak selamanya yang kuno itu ketinggalan jaman. justru ada hal2 ‘indah’ yang kita peroleh dari permainan jaman dulu, yang tidak pernah kita dapatkan dari permainan saat ini.
    Permainan dulu sarat dengan pendidikan, namun permainan sekarang lebih menekankan pada aspek ‘fun’.
    Bu Murni, topeng monyet di daerahku (Kota Semarang) masih ada, hanya sesekali saja lewat perkampungan/perumahan.

  3. Ini juga merupakan pekerjaan yang mestinya bisa diurusi oleh menteri kebudayaan dan pariwisata. Dengan kurangnya filter terhadap budaya asing, maka mudah sekali generasi kita terimbas snobisme.

    Pemerintah kurang bisa memberdayakan fungsionalitasnya dan terlalu sering mengelak dengan meminta partisipasi masyarakat. Padahal kita tahu pendidikan masyarakat kita seperti apa.

  4. Saya pikir ini adalah kelemahan kita dalam memfilter budaya asing. Perlu kiranya kita mendorong berperannya fungsi kementerian kebudayaan dan pariwisata untuk lebih melindungi tradisi dengan menyeleksi apa yang bisa masuk ke Indonesia.

  5. ari setuju dengan @hakimaza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: